Minggu Biasa XXVIII (B)
Diceritakan bahwa ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?”Keterangan yang diberikan di situ cukup untuk meyakinkan kita bahwa orang ini sangat bersungguh-sungguh untuk bertemu Yesus. Ia sangat butuh bertemu Yesus; karena sangat penting, sangat mendesak. Karena itu ia berlari-lari dan berlutut di hadapan Yesus. Siapakah orang ini? Sejauh diinformasikan oleh penulis Injil Markus, kita dapat mengetahui bahwa orang ini adalah seorang yang banyak hartanya dan sejak masa mudanya taat akan hukum Taurat. Dia sendiri mengatakan bahwa perintah-perintah Tuhan dalam Hukum Taurat telah ia lakukan sejak masa mudanya.
Jadi walau tidak disebut secara eksplisit, kita mempunyai kemungkinan yang besar bahwa ia adalah seorang yahudi yang taat. Dengan harta yang banyak, serta dengan ketaatan terhadap Hukum Taurat, dapat dibilang orang ini mempunyai kehidupan yang baik dan ideal; sebuah kehidupan yang bahagia dan sejahtera karena harta yang banyak, tapi juga sebuah kehidupan yang religius karena ketaatan menjalankan hukum dan perintah agama. Setiap kita pasti mendambakan kehidupan yang begitu kan? Sekurang-kurangnya kalau di kampung saya dulu, saya pernah dengar ibu-ibu berkata begini kepada seorang gadis, ‘kaweng jo deng dia tre; banya doi kong aktif bagreja le’ (menikalah dengannya; dia itu orang kaya dan aktif hidup menggereja). Yang demikian orang sebut sebagai ‘keluarga baik-baik dan terpandang’. Dengan kehidupan yang sedemikian, haruslah ada sesuatu yang sangat penting dan berharga yang belum ia peroleh, sehingga ia datang berlari-lari bahkan berlutut di depan Yesus.
Hal yang penting dan berharga itu terungkap dalam pertanyaan hakiki dan eksistensial yang dilontarkannya kepada Yesus: “Guru yang baik, apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jelas di sini bahwa orang dengan kehidupan yang ideal itu membutuhkan kepastian tentang kehidupan yang akan datang. Ia percaya bahwa kehidupan yang kekal itu ada. Tapi apa yang harus dia lakukan agar memperolehnya, itulah yang menjadi alasan ia berlari-lari, tersungkur di depan Yesus, bertanya dan meminta petunjuk. Saya mengenal seorang bapak di Paniki. (Umat dari Pastor Aloys Wilar. Tapi saya tak akan menyebut namanya). Waktu saya frater, keluarga ini dekat dengan pastor dan frater. Kami suka pergi ke rumahnya. Kalau frater-frater datang ke rumahnya, ibu keluarga itu selalu menyambut kami dengan gembira dan antusias. Berbeda dari si ibu, si bapak menerima kami atau berbicara dengan kami sekedarnya. Bapak ini bekerja di instansi pemerintahan dengan jabatan dan karir yang bagus.
Jadi kesan saya, saat itu ia sibuk dengan karir dan tugas, sehingga boleh dibilang tidak terlalu serius dalam hal hidup menggereja. Bertahun-tahun lewat, saya melihat dari jauh, dia mulai banyak aktif di kegiatan-kegiatan gereja. Suatu waktu kami dipertemukan dalam sebuah acara di satu meja makan. Saat itu saya bercanda: “qta lia so pe aktif skali di paroki kang? (saya lihat bapak sudah sangat aktif di kegiatan Paroki ya?)” Bapak itu menjawab: “so bagitu pastor. Abis pension, umur so bagini, apalagi so ada cucu, so musti bapikir tentang tu ‘di atas sana’ (begitulah pastor. Setelah pensiun, umur sudah tak mudah lagi, apalagi sekarang sudah punya cucu, saya harus memikirkan tentang yang ‘di atas sana’).
Saya menangkap bahwa yang ia maksudkan dengan ungkapan ‘dia atas sana’ adalah kehidupan yang akan datang atau juga Tuhan; dengan kata lain, kehidupan yang kekal.Kisah nyata ini meyakinkan kita, bahwa situasi yang dialami oleh seorang yang diceritakan dalam Injil, dialami juga oleh orang-orang lain di sepanjang zaman hingga hari ini. Pada waktunya, setiap orang akan sampai pada keadaan yang sama dan dengan demikian juga mempertanyakan pertanyaan yang sama. (Berharap saja bahwa setiap orang boleh mencapai kondisi demikian sebelum ‘terpanggil’. Jangan sampai, belum sempat sampai di titik itu sudah ‘terpanggil’ duluan, hehehe..).
Sebab orang yang mencapai titik seperti itu, telah sampai di pintu masuk ‘kehidupan kekal’; pintu sudah terbuka, dia sudah bisa melihat ke dalam, dan tinggal dia putuskan, masuk atau tidak.Nampaknya orang yang diceritakan dalam Injil tadi tidak sampai masuk. Walaupun hal ini tidak dapat dipastikan, namun dari keterangan yang ada, kita mengetahui bahwa ketika Yesus menyuruhnya menjual seluruh hartanya dan memberikannya kepada orang miskin, orang itu menjadi muram mukanya, lalu pergi dengan sedih.Untuk menerangkan pengajarannya, Yesus berkata: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.”
Ini adalah pepatah yang sudah biasa dan beredar di kalangan orang Yahudi. Kalau di kampung saya, saya ingat kalau ada kemustahilan, orang akan berkata: “tunggu ayam kencing”. Misalnya, kalau ada pemuda ‘keremos’ yang berencana mau mengungkapkan cinta kepada seorang gadis yang molek, cantik dan terhormat, teman-teman dari pemuda ‘keremos’ itu akan bilang: “ngana mo jadi deng dia? Hmm, tunggu ayam kencing”. Demikian pepatah ‘lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum’, merupakan pepatah yang biasa dipakai di kalangan orang yahudi untuk mengungkapkan kerumitan bahkan kemustahilan.
Nah, kota-kota zaman dahulu, termasuk kota Yerusalem, demi menjaga keamanannya dari serangan musuh, biasa dikelilingi benteng. Jika sudah petang, gerbang utama ditutup. Ada sebuah pintu sempit berbentuk lengkung di atasnya, bentuknya seperti lubang jarum. Untuk bisa masuk, barang-barang bawaan dari seekor unta harus diturunkan dahulu. Unta akan dituntun tuannya melewati pintu yang sempit itu.Yesus menggunakan pepatah ini untuk menggambarkan bagaimana orang kaya harus rela melepaskan kekayaannya agar ia bisa masuk ke dalam Yerusalem surgawi.
Ada pepatah berbunyi demikian: “Uang membeli kesenangan, bukan kebahagiaan. Uang membeli rumah, bukan rumah tangga. Uang membeli tempat tidur, bukan tidur yang nyaman. Uang membeli cincin emas, bukan cinta”Pepatah macam ini membuat kita menyadari bahwa uang maupun harta kekayaan bukanlah segalanya dalam hidup. Sementara ada banyak orang terikat pada uang dan harta, sabda Tuhan mengingatkan kita hari ini agar kita tidak terikat kepadanya. Sebab harta tak dapat membeli kebahagiaan. Banyak orang mempunyai harta berlimpah, tapi malah tidak bahagia.
Di bacaan pertama, Salomo memberikan pelajaran berharga mengenai kekayaan. Dengan indah dia melukiskan bagaimana dia lebih mencintai roh kebijaksanaan daripada tongkat kerajaan tahta, dan kekayaan (Keb. 7:7-8). Namun justru kebijaksanaan itulah yang mendatangkan segala kekayaan dan harta milik (Keb. 7: 11). (Pst. Troy Kalengkongan, Pr)
