BerandaRenunganRenungan: Minggu, 10 September: "Tips Bahagia dalam Hidup Bersama"

Renungan: Minggu, 10 September: “Tips Bahagia dalam Hidup Bersama”

Published on

spot_img

Hari Minggu Biasa XXIII

Bacaan:Yeh. 33:7-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20

 

Hidup dalam kebersamaan dengan sesama akan terasa indah dan membahagiakan apabila masing-masing pribadi saling mengasihi satu sama lain. Salah satu wujud nyata kasih dan perhatian kita terhadap sesama ialah lewat sikap saling menegur. Dalam hal ini, bukan hanya saling menyapa atau saling memberi salam, tetapi lebih dari pada itu, yakni berani menegur sesama yang berbuat salah atau dosa. Dalam kitab Yehezkiel diungkapkan bahwa sebagai manusia kita wajib saling mengingatkan atau menasihati sesama yang berbuat jahat, sebab kita bertanggung jawab juga terhadap keselamatan orang itu.

Hal serupa diungkapkan oleh Yesus dengan sangat jelas melalui Injil hari ini, yakni tentang menasihati sesama saudara. Bagi Yesus hidup dalam kebersamaan itu sangatlah penting. Tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa orang lain. Setiap orang butuh orang lain. Bahkan Yesus menegaskan, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Itu artinya kehadiran sesama yang ada di sekitar kita sesungguhnya adalah suatu berkat dan rahmat. Kehadiran sesama merupakan wujud nyata kehadiran Tuhan sendiri. Dengan demikian, kasih terhadap sesama adalah bentuk konkret kasih kita kepada Tuhan. Hidup dalam semangat kasih inilah yang ditekankan oleh rasul Paulus. Ia mengatakan bahwa inti dari hukum Taurat atau perintah Allah adalah kasih.

Mengingat bahwa hidup dalam kebersamaan itu amatlah penting, maka kesatuan dan keutuhan hidup bersama harus terus dijaga dengan semangat kasih. Dalam hal ini, apabila ada sesama yang berbuat jahat, maka kita harus berani menasihati atau menegurnya. Tentu teguran yang kita berikan haruslah dengan cara yang baik, agar tidak dianggap sok suci atau menggurui. Perhatian dan kasih yang kita tunjukkan inilah yang akan membuat hidup dalam kebersamaan itu terasa indah dan membahagiakan. Sebab masing-masing pribadi hidup saling terbuka satu dengan yang lain. Berani menegur sesama yang berbuat salah dan dengan senang hati menerima teguran atau nasihat dari orang lain. Inilah tips untuk mengalami kebahagiaan dalam hidup bersama. Semoga hidup kebersamaan kita dalam keluarga, masyarakat dan Gereja senantiasa terjaga oleh semangat cinta kasih.

Yansu

KONTEN POPULER

Latest articles

Paus Leo XIV: Akademisi Gereja Diajak Menyelami Kedalaman Iman

VATIKAN – Pope Leo XIV mengajak para akademisi dan teolog Gereja untuk semakin menyelami...

Pastor Angki Runtu Ingatkan Hakekat Iman Kristiani

Pastor Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah, Fransiscus Antonio Runtu Pr., mengingatkan umat...

Paus Leo XIV: Perdamaian Tidak Dibangun dengan Ancaman dan Senjata Mematikan

VATIKAN – Pope Leo XIV menyerukan kepada para pemimpin dunia agar mengingat kembali tanggung...

Paus Leo XIV: Tanpa Relasi dengan Tuhan, Hidup Kehilangan Arah

Vatikan, 28 Februari 2026 – Paus Leo XIV menekankan bahwa hubungan hidup dengan Tuhan...

More like this

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...

Renungan 25 Februari 2026; Jangan Menuntut Tanda, Tetapi Bertobatlah

Lukas 11:29-32 Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mengerumuni-Nya. Mereka menghendaki tanda—sesuatu...

Renungan 24 Februari 2026; Doa yang Memurnikan Hati

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat, saat Gereja mengajak kita berhenti sejenak, masuk ke keheningan...