BerandaRenunganRenungan Harian, Rabu 20 September 2017: Membangun Benteng

Renungan Harian, Rabu 20 September 2017: Membangun Benteng

Published on

spot_img

Rabu Pekan Biasa XXIV

Bacaan 1 : 1Tim 3:14-16
Mazmur : Mzm 111:1-6
Injil : Luk 7:31-35

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas: Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru, ‘Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.’

Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang,
dan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur, kalian berkata, ‘Ia kerasukan setan.’

Kemudian Anak Manusia datang,
Ia makan dan minum, dan kalian berkata,
‘Lihatlah, seorang pelahap dan peminum,
sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.’ Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Membangun Benteng
Benteng dikenal sebagai bangunan bertembok tinggi berkeliling dijaga 24 jam, tempat berlindung dan bertahan. Dari luar tidak tampak ada aktivitas, padahal ada banyak kesibukan di sana. Siapapun yang masuk dan keluar harus diperiksa menurut aturan sang pemimpinnya. Ia juga dilindungi dengan pelbagai persenjataan kuat untuk menyerang musuh-musuhnya. Mereka yang tinggal di dalamnya merasa aman, nyaman, damai tenteram, dengan aturan sendiri dan tidak bergaul akrab dengan dunia luar.
Dalam Injil Yesus mengkritik orang-orang Yahudi sesamanNya yang membangun benteng di dalam diri dan kelompoknya. Mereka menutup diri terhadap kebenaran di luar diri dan mempersalahkan segala hal di luar benteng kebenarannya. Karena itu dengan keras Yesus mengumpamakan mereka bagaikan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru “Kami meniup seruling bagimu tetapi kalian tidak menari, kami menyanyikan kidung duka tetapi kalian tidak menangis”. Mereka tidak peduli, nyaman sendiri, bahkan menyerang hal lain di luar bentengnya. Ketika Yohanes datang dengan gayanya, mereka menyerangnya dengan tuduhan “ia kerasukan setan”. Ketika Yesus datang dengan gaya yang sebaliknya mereka menggelariNya “pelahap, peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa”.
Saudaraku, godaan terbesar dalam gaya hidup modern saat ini adalah menyendiri, membangun benteng sendiri, nyaman sendiri, sejahtera sendiri, dan tidak peduli dengan dunia luar. Kebenaran menjadi relatif tergantung kepentingan kita sendiri. Kemudahan yang ditawarkan teknologi makin mengurangi kebutuhan kita untuk keluar dari benteng diri menjumpai sesama. Marilah kita membongkar benteng-benteng diri kita dan peduli pada sesama, apalagi mereka yang menderita dan terbuang. Semoga.

KONTEN POPULER

Latest articles

Setia dalam Hal-Hal Kecil, Dipercaya dalam Perkara Besar

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali memiliki keinginan untuk melakukan hal-hal besar. Kita bercita-cita...

219 Siswa Katolik Ikuti Bible Camp Siswa XIX Keuskupan Manado

Komsos Manado – Sebanyak 219 peserta ambil bagian dalam kegiatan Bible Camp Siswa (BCS)...

Tingkatkan Kompetensi, Paroki Bunda Teresa GPI Kembali Gelar Pelatihan Pemimpin Ibadah dan Lektor

Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah terus berupaya meningkatkan kapasitas dan kompetensi para...

EMS-Einheit für Anfänger: Ablauf, Nutzen und häufige Fragen beim ersten Probetraining

EMS-Einheit für Anfänger: Ablauf, Nutzen und häufige Fragen beim ersten Probetraining Du willst fit werden,...

More like this

Berdoalah dengan Hati, Bukan dengan Banyak Kata

"Karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu meminta kepada-Nya." (Matius 6:8) Dalam kehidupan...

Bacaan Injil dan Refleksi, 28 Maret 2026

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa...

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...