Renungan Jumat, 02 Februari 2018 : “Penuh Hikmat dan Kasih”

0
308

Jumat, 02 Februari 2018

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

 

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4; Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya.

Pembacaan dari Nubuat Maleakhi:

Beginilah firman Tuhan semesta alam, “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Tuhan yang kamu cari itu dengan mendadak akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang.Siapakah yang dapat tetap berdiri apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia laksana api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem  akan menyenangkan hati Tuhan seperti pada hari-hari dahulu kala, dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mazmur: Mzm 24:7.8.9.10; Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan.

  • Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!
  • Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan, yang jaya dan perkasa, Tuhan, yang perkasa dalam peperangan!
  • Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!
  • Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!

 

Bacaan Kedua: Ibr 2:14-18; Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya.

Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani:

Saudara-saudara, Orang-orang yang dipercayakan Allah kepada Yesus adalah anak-anak dari darah dan daging. Maka Yesus menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham. Itulah sebabnya, dalam segala hal Yesus harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Agung yang menaruh belas kasihan, yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.Karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan,  maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil: Luk 2:32; Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.

Bacaan Injil: Luk 2:22-40; Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yosef membawa Anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan,”Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.”Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.

Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya, untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Ada juga disitu seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya, dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah Hana pun datang ke Bait Allah,dan bersyukur kepada Allah serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Renungan: “Penuh Hikmat dan Kasih”

Setiap orang tua pasti mengharapkan supaya anaknya bertumbuh menjadi anak yang baik, taat serta berbakti kepada orangtuanya juga kepada Tuhan. Oleh karena itu pantaslah bahwa orangtua akan melakukan apa saja dalam rangka mendidik dan membina anak-anaknya.

Hari ini kita merayakan Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah. Pesta ini telah dirayakan sejak abad ke-5 di Gereja Timur, lantas oleh Gereja Barat pada abad ke-6. Hingga saat ini, perayaan ini masih dikenal sebagai “misa Terang” atau Pesta Tuhan. Berdasarkan kisahnya tampak bahwa kesadaran sebagai orangtua itulah yang mendorong Yosef dan Maria untuk membawa Yesus ke Yerusalem untuk dipersembahkan kepada Tuhan menurut hukum Taurat. Ketaatan Yosef dan Maria terhadap hukum Tuhan inilah yang menjadi teladan yang kuat di dalam keluarga mereka untuk menciptakan pribadi-pribadi yang berhikmat serta penuh kasih satu sama lain.

Kisah Injil hari ini menjelaskan secara penuh pribadi Yesus yang sesungguhnya. Sebagai orang Katolik, kita mengimani bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Keilahian Yesus ditegaskan dalam kisah ini saat Simeon dan Hana memberikan kesaksian mereka tentang Yesus, atas kuasa Roh Kudus. Simeon dan Hana seakan menunjukkan dengan jelas bahwa Yesus adalah Sang Terang itu, yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa dan serentak menjadi kunci kelepasan bagi Israel. Sisi kemanusiaan Yesus pun diterangkan dalam kisah ini. Yesus sebagai bagian dari keluarga Yosef dan Maria, dihantar ke Bait Allah berdasarkan hukum Taurat. Orangtuanya berusaha memenuhi semua yang dimintam menurut hukum. Setelah selesai semua yang harus dilakukan, mereka pun membawa Yesus kembali ke kediamannya, mendampingi Dia sebagaimana mestinya sehingga Yesus pun bertumbuh semakin besar, kuat, penuh hikmat dan kasih.

Teladan Yosef dan Maria dalam mendampingi dan membesarkan Yesus di dalam keluarganya kiranya dapat menjadi inspirasi bagi keluarga-keluarga jaman sekarang. Membesarkan Yesus dalam hal ini tidak hanya berarti mendidik dan memberi makan anak. Yosef dan Maria tahu persis bahwa Yesus adalah anugerah Tuhan bagi mereka, lebih dari pada itu Yesus adalah Tuhan yang hadir di tengah-tengah mereka. Harapan yang perlu dibangun diatas kesadaran ini adalah bahwa keluarga hendaklah menjadi “bait Allah”. Allah harus diberi tempat di dalam keluarga. Di sana, di hadapan Dia, seluruh keluarga saling memberi diri, taat dan setia, sehingga memancarkan kebijaksanaan, hikmat dan kasih. Sebagaimana keluarga Yosef, Maria dan Yesus, semoga keluarga kita pun setia memberi tempat bagi Allah, membiarkan Dia menjadi cahaya terang yang akan membagikan hikmat dan kesetiaannya bagi kita. Semoga Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah ini menjadi terang baru bagi kita dan keluarga kita masing-masing.

P. Andreas Rumayar, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini