Renungan Jumat, 09 Februari 2018 : “Efata !”

0
267

Jumat, 9 Februari 2018

Hari Biasa, Pekan Biasa V

 

Bacaan Pertama: 1Raj 11:29-32;12:19; Israel memberontak terhadap keluarga Daud.

Pembacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja:

Pada waktu itu Yerobeam, seoragn pegawai Raja Salomo, keluar dari Yerusalem. Di tengah jalan ia bertemu Nabi Ahia, orang Silo, yang berselubung kain baru. Hanya mereka berdua yang ada di padang. Ahia memegang kain baru yang di badannya, lalu dikoyakkannya menjadi dua belas koyakan; Ia berkata kepada Yerobeam, “Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah sabda Tuhan, Allah Israel: Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku.Tetapi satu suku akan tetap padanya oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem, kota yang Kupilih dari segala suku Israel. Demikianlah orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mazmur: Mzm 81:10-11ab.12-13.14-15; Akulah Tuhan Allahmu, dengarkanlah Aku.

  • Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing. Akulah Tuhan, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.

 

  • Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku. Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti angan-angannya sendiri!

 

  • Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku; sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan, seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan para lawan mereka Kupukul dengan tangan-Ku.

 

Bait Pengantar Injil: Kis 16:14b; Ya Allah, bukakanlah hati kami, agar kami memperhatikan sabda Anak-Mu.

 

Bacaan Injil: Mrk 7:31-37; Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya bicara.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:

Pada waktu itu Yesus meninggalkan daerah Tirus, dan lewat Sidon pergi ke Danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang tuli dan gagap dan memohon supaya Yesus meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Maka Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian. Kemudian Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu,  lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya, “Effata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu  dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.

Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik! Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.”

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Renungan: Efata !

Dalam membina dan mengembangkan relasi antar pribadi keterbukaan menjadi satu hal yang amat penting. Apalagi relasi yang hendak dibangun itu adalah relasi suami istri, orangtua dan anak, relasi pertemanan. Bayangkan saja jika dalam keluarga tidak ada keterbukaan, masing-masing anggota keluarga menutup diri satu sama lain. Suami istri hidup bersama tapi masing-masing punya ego yang besar. Mau cari kesenangan sendiri, tidak mau saling berbagi, merasa diri lebih penting dari pada yang lain, tidak mau berkorban. Tentu menyedihkan sekali harus berhadapan dengan kenyataan relasi semacam itu. Sebaliknya jika setiap pribadi terbangun semangat keterbukaan maka yang tampak adalah kebiasaan-kebiasaan yang positif: saling mendengarkan, meneguhkan, saling bantu, rela berbagi, senasib-sepenanggungan dan di sanalah kasih itu semakin besar.  Demikianlah keterbukaan menjadi karakter yang sangat esensial dalam suatu relasi.

Bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan kita tentang nilai keterbukaan sebagai yang sangat fundamental dalam suatu relasi. Salomo kehilangan kesempatan untuk menjadi penguasa utama seluruh kerajaan karena ia tidak berpegang pada perjanjian dengan Tuhan. Pengingkaran kesetiaan Salomo terhadap Tuhan menjadi suatu tanda ketertutupan hatinya terhadap Tuhan dan dengan demikian ia sendiri menutup pintu rahmat Tuhan atas dirinya. Yesus dalam Injil hari ini mengucapkan satu “mantra” yang tidak sekedar menyembuhkan tetapi membuka dan sekaligus  melepaskan: Efata ! Orang tuli dan bisu yang disembuhkan oleh Yesus ini mengalami sekaligus dua pengalaman ini, yakni telinganya terbuka untuk mendengar dan pengikat lidahnya terlepas sehingga ia dapat berkata-kata dengan baik. Hanya kata dan sentuhan oleh Yesus yang menjadikan segalanya baik.

Situasi relasi zaman ini menantang setiap pribadi untuk berani terbuka satu sama lain. Bagi Yesus, sikap terbuka harus diikuti dengan keterlepasan dari ikatan. Ada cukup banyak ikatan yang perlu disadari: terikat kebenaran pikiran sendiri, terikat pada sikap egois, terikat pada uang dan kekayaan, terikat pada kesenangan diri. Karena aneka keterikatan inilah maka keutamaan hati yang terbuka pada rahmat justru terhalang. Ketertutupan dan keterikatan sesungguhnya adalah halangan yang diciptakan oleh si jahat untuk menjauhkan manusia dari indahnya rahmat Tuhan.

Sebaliknya keterbukaan menghantar orang pada kebaikan itu sendiri. Saling terbuka untuk mengatakan yang baik, mendengar yang baik, berpikir yang baik, berbuat yang baik.  Bukankah terbuka itu indah? Mari hari ini kita bangun komitmen, buka mata, telinga dan hati bagi mereka yang ada di sekitar kita. Mari berdoa: “Ya Allah, bukalah hati kami, agar kami memperhatikan sabda Anak-Mu” amin.

P. Andre Rumayar, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini