Renungan Jumat, 16 Februari 2018 : “Jalan Ke Tuhan”

0
280

Jumat, 16 Februari 2018

Hari Jumat Sesudah Rabu Abu

Bacaan Pertama: Yes 58:1-9a; Berpuasa, yang kukehendaki, ialahengkau harus membuka belenggu belenggu kelaliman.

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Beginilah firman Tuhan Allah, ‘Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka, dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang berlaku yang benar dan tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyai Aku tentang hukum-hukum yang benar. Mereka suka mendekat menghadap Allah, dan bertanya,”Kami berpuasa, mengapa Engkau tidak memperhatikannya juga? Kami merendahkan diri, mengapa Engkau tidak mengindahkannya juga?” Camkanlah! Pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan cara berpuasa seperti ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.

Inikah puasa yang Kukehendaki:mengadakan hari merendahkan diri? menundukkan kepala seperti gelagah? dan membentangkan kain karung serta abu sebagai lapik tidur? Itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada Tuhan?Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah: Engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk; membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera. Kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 51:3-4.5-6a.18-19: Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

*Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!

*Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku Terhadap Engkau, terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.

*Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan; kalaupun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Persembahanku kepada-Mu ialah jiwa yang hancur. Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Bait Pengantar Injil: Am 5:14; Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup, dan Allah akan menyertai kamu.

Bacaan Injil: Mat 9:14-15; Mempelai itu akan diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan: “Jalan Ke Tuhan”

Puasa dan pantang pada masa prapaskah rasanya sudah biasa dilakukan. Apalagi tuntutan puasa dan pantang yang ditawarkan Gereja sangat ringan, masing-masing malah dapat menambahkan sendiri demi memaksimalkan kesempatan puasa dan pantang ini. Namun ternyata meskipun awalnya terkesan ringan, tidak sedikit juga orang yang akhirnya tidak penuh menjalankannya. Ada saja yang terlewatkan bahkan akhirnya lupa bahwa dia sementara berada pada masa puasa.

Sebenarnya apa sih puasa itu? Apakah puasa sebatas menahan rasa lapar? Menahan hawa nafsu? mengurangi kesenangan?

Yesus dalam Injil hari ini mengatakan: “…waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”. Inilah motivasi spiritual saat orang berpuasa. Berpuasa pertama-tama dan terutama merupakan konsekuensi dari kesadaran “ketiadaan Tuhan”. Yesus ingin agar para murid Yohanes tapi juga para muridNya, termasuk kita di zaman ini, menyadari bahwa puasa bukan sekedar tidak makan dan minum, menahan nafsu dan sebagainya. Puasa harus menjadi aktivitas rohani yang terbangun karena kerinduan akan kehadiran Tuhan yang seolah tidak dirasakan lagi akibat “mempelai itu telah diambil dari mereka”.

Saat orang berdosa, terkurung dalam rasa bersalah dan sulit melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi, saat itulah bagaikan “mempelai itu diambil dari mereka”. Tuhan tidak didengar lagi, tidak dianggap, bahkan Tuhan tidak ada lagi. Yang terdengar bukan lagi suara Tuhan melainkan suara pikiran sendiri, rasa mapan diri dan rasa nyaman.

Berpuasa bagi orang-orang Kristiani adalah kesempatan untuk “mengembalikan Tuhan”. Berpuasa adalah “Jalan ke Tuhan”, yakni saat mana orang yang menyadari bahwa dia berdosa, mau dengan sepenuh hati bertobat dan memilih untuk mengubah cara hidupnya, saat itulah dia membuka kembali hatinya untuk Tuhan.

Semoga hari-hari puasa dan pantang kita di masa prapaskah ini semakin bermakna, tidak hanya soal makan minum saja, melainkan karena kesadaran ingin kembali ke jalan Tuhan lagi, bahkan mengundang kembali Tuhan menjadi penguasa hati dan hidup kita. Mari kembali ke jalanNya dengan berpuasa dan berpantang hari ini, jangan lupa ber-Jalan Salib bersama Dia yang sangat rindu kembali bersamamu.

P. Andre Rumayar, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini