Renungan Jumat, 24 November: “Rumah Doa bagi Penyamun”

0
1865

Jumat Pekan Biasa XXXIII

(1Mak 4:36-37.52-59;1Taw 29:10-12d;Yoh 10:27)

Bacaan Pertama: 1Mak 4:36-37.52-59; Mereka mentahbiskan mezbah dan dengan sukacita mempersembahkan kurban.

Pembacaan dari Kitab Pertama Makabe:

Pada waktu itu Yudas Makabe serta saudara-saudaranya berkata, “Musuh kita sudah hancur. Baiklah kita pergi mentahirkan Bait Allah dan mentahbiskannya kembali.”Setelah seluruh bala tentara dihimpun berangkatlah mereka ke gunung Sion.

Dalam tahun 148, pada tanggal dua puluh lima bulan ke-9, yaitu bulan Kislew, pagi-pagi benar seluruh rakyat bangun untuk mempersembahkan kurban sesuai dengan hukum Taurat di atas mezbah kurban bakaran baru yang telah mereka buat. Tepat pada jam dan tanggal yang sama seperti waktu orang-orang asing mencemarkannya mezbah itu ditahbiskan dengan kidung yang diiringi dengan gambus, kecapi dan canang.

Maka meniaraplah segenap rakyat dan sujud menyembah, serta melambungkan pujian ke Surga, kepada Dia yang memberi mereka hasil yang baik. Delapan hari lamanya perayaan pentahbisan mezbah itu dilangsungkan. Dengan sukacita dipersembahkanlah kurban bakaran, kurban keselamatan dan kurban pujian.Bagian depan Bait Allah dihiasi dengan karangan-karangan keemasan dan utar-utar. Pintu-pintu gerbang dan semua balai diperbaharui dan pintu-pintu dipasang padanya.Segenap rakyat diliputi sukacita yang sangat besar. Sebab penghinaan yang didatangkan orang-orang asing itu sudah terhapus.Yudas serta saudara-saudaranya dan segenap umat Israel menetapkan sebagai berikut, ‘Perayaan pentahbisan mezbah itu tiap-tiap tahun harus dilangsungkan dengan sukacita dan kegembiraan delapan hari lamanya, tepat pada waktunya, mulai tanggal dua puluh lima bulan Kislew.’

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mazmur: 1Taw 29:10-12d; Ya Tuhan, kami memuji nama-Mu yang agung.

  • Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah Israel leluhur kami, dari kekal sampai kekal.
  • Ya Tuhan, milik-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya milik-Mulah segala yang ada di langit dan di bumi, Ya Tuhan, milik-Mulah kerajaan.
  • Engkau yang tertinggi melebihi segala-galanya. Dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan, dalam tangan-Mulah kuasa untuk memperluas dan memperkokoh kerajaan.

 

Bait Pengantar Injil: Yoh 10:27; Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan;Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.

Yesus mengusir pedagang di Bait Allah

Bacaan Injil: Luk 19:45-48; Rumah-Ku telah kalian  jadikan sarang penyamun.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada waktu itu Yesus tiba di Yerusalem dan masuk ke Bait Allah. Maka mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ. Ia berkata, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun!”

Tiap-tiap hari Yesus mengajar di Bait Allah. Para imam kepala dan ahli Taurat serta orang-orang terkemuka bangsa Israel berusaha membinasakan Yesus. tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan: Rumah Doa Bagi Penyamun

Masihkah orang zaman ini menyadari bahwa Tuhan hadir dalam bait-Nya, gereja-Nya? Atau, masihkah orang zaman ini merindukan perjumpaan dengan Tuhan di dalam gereja-Nya? Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja saya ajukan di awal permenungan ini untuk menggugat pribadi kita masing-masing berhadapan dengan kerinduan kita untuk menjumpai Tuhan dalam “rumah”-Nya. Gereja merupakan sarana agar umat beriman dapat secara pribadi maupun bersama-sama beribadah, berdoa, menjumpai Tuhan di dalam bait-Nya. Akan tetapi, akhir-akhir ini kesadaran ini sepertinya mulai memudar. Tidak sedikit orang yang melakukan hal yang tidak perlu di dalam gereja. Bahkan entah mengapa, ada orang yang lebih tertarik ibadah di luar gereja daripada di dalam gereja. Lebih suka ibadah di taman atau di rumah daripada di gereja. Lebih suka menikah di wedding chapel hotel berbintang, dari pada di gereja. Sungguhkah Tuhan ditemukan di sana?

Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan tentang Yesus yang menyucikan Bait Allah. Sungguh menggugah kata-kata Yesus yang menegaskan nubuat nabi Yesaya: “Rumah-Ku adalah rumah doa”. Yesus mengatakan kata-kata ini sambil mengajak orang untuk membandingkannya dengan kenyataan di sekitar mereka: ada yang berdagang, mencari keuntungan, mementingkan diri sendiri, mengejar kekayaan material, bahkan mungkin disengaja atau tidak ada juga yang merugikan orang lain, menyakiti orang. Orang akhirnya lupa di mana ia berada dan di hadapan siapa semuanya itu dilakukannya? Bagi Yesus, kenyataan di sekitar Bait Allah ini adalah “sarang penyamun”. Yesus dengan keras dan tegas bersuara bahkan mengusir mereka yang “bersarang” di Bait Allah sebagai penyamun. Bait Allah bukanlah sarang penyamun, melainkan rumah doa, “sarang iman dan rahmat”. Bait Allah bukan tempat berjualan, melainkan tempat orang berjumpa Tuhan. Yesus merasa perlu bertindak demikian guna “membersihkan” Bait Allah. Yesus menunjukkan bahwa bait Allah tidak sekedar bangunan, melainkan tempat pengajaran dan rahmat Allah diterima, tidak hanya bagi yang suci, tetapi juga bagi mereka yang ingin menyucikan diri, bertobat. Bait Allah tidak boleh dijadikan “sarang” penyamun, di mana mentalitas penyamun dipelihara dan dikembangkan. Sebaliknya, Bait Allah harus menjadi rumah doa, bagi segala bangsa, juga bagi “penyamun” yang bertobat.

Bisa jadi kita termasuk orang-orang yang juga disebut oleh Yesus sebagai “penyamun”. Kita dengan rajin dan bangga ke gereja tapi mata, pikiran dan hati kita tidak terarah kepada Tuhan yang hendak kita jumpai dalam doa dan ibadah, melainkan kepada hal-hal lainnya: apa yang dipakai orang, mengkritik orang lain, mengkritik ornamen-ornamen hiasan gereja, ber-selfie, main hape, bercerita, makan-minum, dan sebagainya. Bukankah ini semua mentalitas seorang penyamun? Injil hari ini memperkenalkan Yesus yang tiap hari mengajar di bait Allah. Demikianlah Yesus tiap-tiap hari merindukan kita hadir di gereja-Nya, untuk mendengarkan dia, agar mentalitas penyamun kita dibersihkan dan kita semakin terpikat dan percaya kepadaNya. Yesus tiap-tiap hari rindu menyalurkan rahmat-Nya bagi kita. Sudahkah kita ke gereja hari ini?

 

Penulis renungan
P.Andreas Rumayar, pr

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini