Renungan Jumat, 29 Desember : Mengenal Allah

0
885

29 Desember 2017

Hari Kelima dalam Oktaf Natal

PF S. Tomas Becket, Uskup dan Martir

 

Bacaan Pertama:1Yoh 2:3-11; Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:

Saudara-saudara terkasih, inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata “Aku mengenal Allah” tetapi tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta, dan tidak ada kebenaran di dalam dia. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu kasih Allah sungguh sudah sempurna; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Allah. Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Allah, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Saudara-saudara kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu; perintah ini telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang melenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barangsiapa berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 96:1-2a.2b-3.5b-6; Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai.

  • Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya!
  • Kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan yang datang dari pada-Nya, ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku.
  • Tuhanlah yang menjadikan langit, keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan hormat ada di tempat kudus-Nya.

Bait Pengantar Injil: Luk 2:32; Kristus cahaya yang menerangi pada bangsa, Dialah kemuliaan bagi umat allah.

Bacaan Injil: Luk 2:22-35; Kristus cahaya para bangsa.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat, Maria dan Yusuf membawa kanak-kanak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. Ketika kanak-kanak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Kanak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Renungan: Mengenal Allah

Ada pepatah lama yang telah dikenal dan sering disebut oleh banyak orang: “Tidak dikenal tidak disayang”. Ketika seseorang memperkenalkan dirinya satu sama lain dan saling mengakrabkan diri maka di sanalah cinta kasih serta saling pengertian itu tumbuh. Rupaya ungkapan pepatah ini melekat erat dalam relasi interpersonal dan bahkan dalam relasi dengan Tuhan sendiri. Pengenalan terhadap pribadi seseorang dengan yang lain memungkinkan mereka mampu bergaul akrab dan bahkan relasi kasih bertumbuh di dalamnya. Demikian juga relasi seseorang dengan Tuhan. Tuhan sangat mengenal manusia ciptaanNya karenanya Dia sangat mengasihi manusia. Sebaliknya manusia pun sering berkata bahwa ia mengenal Tuhan karenanya ia mengasihi Tuhan. Namun harus diakui bahwa seringkali relasi kasih ini tidak berjalan sempurna. Adakalanya manusia kurang mampu menunjukkan kasihnya terhadap Tuhan. Mungkinkah karena kita masih kurang mengenal Dia?

Injil hari ini mengisahkan tentang Simeon seorang yang benar dan saleh serta penuh Roh Kudus. Kepadanya telah dinyatakan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Tuhan. Dikisahkan bahwa ketika melihat Yesus diantar oleh orangtuanya ke Bait Allah, Simeon pun menyambutnya dan memuji Allah: “Sekarang Tuhan biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu…” Simeon sangat yakin bahwa dia sementara berhadapan dengan yang dia nantikan selama ini. Meski pada waktu itu ada juga banyak orang lain di tempat itu, namun mereka tidak mengenalNya. Simeon mengenal Dia karena sepanjang hidup dijalaninya dengan kebenaran dan kesalehan serta membiarkan dirinya dipenuhi dengan Roh Kudus.

Mengenal Allah adalah suatu kebutuhan mendasar bagi setiap orang beriman. Hanya dengan mengenal dia lebih dalam maka kita akan mampu mengasihi Dia serta mengalami damai sejahtera dan keselamatan.

Allah tidak sulit untuk dikenal. Simeon mengajarkan kita bahwa dengan berusaha hidup benar dan saleh, saling mengasihi dan membantu satu sama lain dan membiarkan diri dituntun Roh Kudus, maka orang akan melihat dan mengenal wajah Allah. Pada akhirnya setelah melihat dan mengenal Allah dalam pengalaman hidup harian kita, semoga kita pun dapat memuji Dia sebagaimana Simeon yang siap mati setelah menikmati kehadiran Tuhan.

Sudahkah kita berbuat sesuatu yang baik hari ini? Mari mengenal dan memperkenalkan Allah bagi dunia dangan tindakan kebaikan dan kesalehan kita.

Penulis renungan
Pst.Andreas Rumayar, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini