Renungan Jumat, 5 Januari : “Saling Memandang”

0
465

05 Januari 2018

Hari Biasa Masa Natal

(1Yoh 3:7-10; Mzm 100:1-2.3.4.5; Yoh 1:35-42)

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:11-21; Kita sudah berpindah dari maut ke dalam hidup, karena kita mengasihi saudara kita.

Pembacaan dari Surat pertama Rasul Yohanes:

Anak-anakku terkasih,inilah berita yang telah kamu dengar dari semula, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi;bukan seperti Kain yang berasal dari si jahat dan membunuh adiknya. Apakah sebabnya Kain membunuh adiknya? Sebab segala perbuatannya jahat, sedang perbuatan adiknya benar.Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap berada di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh. Dan kamu tahu, tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup kekal di dalam dirinya. Tetapi kita mengetahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; maka kita pun wajib menyerahkan nyawa untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan, tetapi ia menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran, dan kita dapat menghadap Allah dengan hati tenang,sebab jika kita dituduh oleh hati kita, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita, dan Ia mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian penuh iman untuk mendekati Allah.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 100:1-2.3.4.5; Bersorak-soraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi.

  • Bersorak-soraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!
  • Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita, dan punya Dialah kita; kita ini umat Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
  • Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, masuklah ke pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya, dan pujilah nama-Nya!
  • Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun temurun.

 

Bacaan Injil : Yoh 1:43-51; Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Sekali peristiwaYesus memutuskan untuk pergi ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Lalu Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”Kata Natanael kepadanya,”Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!” Melihat Natanael datang kepada-Nya, Yesus berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”Kata Natanael kepada Yesus, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya, “Karena Aku berkata kepadamu ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka,  dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Renungan: “Saling Memandang”

“Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali; dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. Demikian bunyi pantun yang menggambarkan betapa cinta itu sedemikian indahnya. Perasaan tertarik, rasa suka, dan cinta, semuanya muncul karena adanya saling memandang. Maka tak heran jika kita pernah mendengar istilah “cinta pada pandangan pertama”. Baik mereka yang telah menikah maupun mereka yang masih pacaran, tentu setuju jika dikatakan bahwa penglihatan di awal perjumpaan ini menentukan perasaan mereka selanjutnya. Itulah cinta, sebuah perasaan yang muncul dari hati sesudah menerima signal berkat penglihatan.

Yesus dalam Injil hari ini hendak menekankan pentingnya saling melihat, memandang dan memperhatikan satu sama lain. Dia pergi ke Galilea berjumpa dengan Filipus. Ketertarikan pun muncul. Yesus melihat bahwa orang ini sangatlah potensial untuk menjadi pengikutNya, maka Ia pun berkata: “Ikutlah Aku!”. Filipus pun setelah mengalami perjumpaan ini terlanjur “jatuh cinta” dengan Yesus. Selama ini ia hanya mendengar kesaksian para nabi dan orang lainnya tentang Yesus. Namun kerinduannya itu akhirnya terjawab setelah Yesus sendiri datang, berjumpa dan saling memandang satu sama lain. Berbeda dengan Filipus, Natanael belum pernah melihat dan berjumpa dengan Yesus, bahkan sesudah apa yang ia sendiri dengar tentang Yesus, masih ada keraguan dalam hatinya tentang Yesus. Namun rupanya, meskipun Natanael belum pernah melihat Yesus, tetapi Yesus telah lebih dahulu melihatnya, bahkan “jatuh cinta” kepadanya: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”. Yesus ternyata tidak hanya lebih dahulu melihat Natanael, Ia juga telah lebih dahulu mengenalnya. Pengenalan Yesus dan perjumpaan saling memandang inilah yang  akhirnya membuat Natanael percaya kepadaNya.

Dalam ritus pemberkatan pernikahan ada saatnya di mana kedua pengantin akan saling bertatapan dan imam berkata: “semoga kalian berdua selalu saling memandang dengan wajah penuh cinta.” Saling memandang ternyata tidak hanya sekedar melihat satu sama lain. Dengan saling memandang maka masing-masing akan saling mengenal, memahami, mencintai dan saling melayani. Coba bayangkan jika suami dan istri, anak dan orang tua, pemerintah dan masyarakat, bahkan umat dan Tuhan tidak lagi saling berjumpa dan memandang? Adakah rasa cinta dan kemauan saling melayani di sana?

Saat suami istri saling memandang maka rasa cinta itu akan semakin besar dan kuat. Saat orang tua dan anak saling jumpa dan memandang, maka rasa cinta dan damai itu pun semakin kokoh. Saat pemerintah dan masyarakat saling memandang, maka semangat kasih dan kepedulian akan semakin nyata, saling bantu dan menyejahterakan. Saat umat beriman pun dengan penuh iman memandang Yesus dalam Sakramen Mahakudus, maka iman, pengharapan dan kasih Yesus akan semakin besar dan mendalam. Semoga karena ketekunan kita saling jumpa, memandang dan memperhatikan satu sama lain, maka Yesus akhirnya akan berkata: “sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia”.

Penulis renungan
P. Andreas Rumayar, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini