Renungan Jumat, 8 Desember : “Engkau Yang Dikaruniai”

0
2970

08 Desember 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15.20; Aku akan mengadakan permusuhan antara keturunanmu dan keturunan wanita itu.

Pembacaan dari Kitab Kejadian:

Pada suatu hari, di Taman Eden, setelah Adam makan buah pohon terlarang, Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?” Ia menjawab, “Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Lalu Tuhan berfirman, “Siapakah yang memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab, “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu:, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada ular itu, “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan! Dengan perutmulah engkau akan menjalar, dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu! Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 98:1.2-3ab.3c-4; Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya karya yang ajaib.

  • Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
  • Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang dari pada-Nya. Ia telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel.
  • Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!

 

Bacaan Kedua: Ef 1:3-6.11-12; Di dalam Kristus Allah telah memilih kita.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus:

Saudara-saudara, terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di surga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya oleh perantaraan Yesus Kristus, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia yang dikasihi-Nya. Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan Allah, yakni kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya. Dengan demikian kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, ditentukan-Nya supaya menjadi pujian bagi kemuliaan-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Bait Pengantar Injil: Luk 1:28; Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.

Bacaan Injil: Luk 1:26-38; Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Dalam bulan yang keenam Allah mengutus malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.

Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung  dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu.Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Maka kata Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Demikianlah Injil Tuhan.

 

Renungan: Engkau Yang Dikaruniai

Apa benar Bunda Maria dikandung tanpa dosa sejak awalnya? Bukankah setiap manusia justru terlahir dengan dosa asal? Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda dosa. Ajaran ini ditegaskan oleh Paus Pius IX pada tanggal 8 Desember 1854: “Bahwa perawan suci Mari sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang Mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal”. Inilah keyakinan iman Gereja yang diwariskan turun temurun. Allah telah menyiapkan Maria sebagai “saluran suci” untuk melahirkan putra-Nya. Keyakinan ini bukan sekedar suatu pernyataan yang muncul begitu saja, melainkan melalui suatu refleksi yang mendalam tentang pribadi Bunda Maria sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci.

Bunda Maria, demikian kita menyapanya, dikisahkan dalam Injil hari ini dijumpai oleh malaikat Gabriel yang memaklumkan kepadanya tentang keterpilihannya sebagai Bunda Yesus, Sang Allah yang menjadi manusia. Tentu saja Maria tidak menyangka akan hal ini. Ia tentu sangat terkejut dan bahkan heran dengan peristiwa ini. Tetapi apa yang kemudian terjadi itulah yang dapat menjadi bukti bagi kita bahwa Allah telah mempersiapkan Maria jauh lebih awal, bahkan sejak Maria sendiri sementara dikandung ibunya. Malaikat berkata : “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai Engkau.” Maria diyakinkan oleh Malaikat dalam salamnya bahwa bukan pada saat itu, tetapi telah lebih dahulu terjadi bahwa Maria telah dikaruniai. Bahkan sejak karunia itu diberikan, “Tuhan menyertai” dia selalu, hingga saat itu tiba. Keraguan Maria tentang proses perkandungan Yesus secara manusiawi pun muncul. Itulah yang membuat Maria sendiri berani berdialog dengan malaikat. Dialog yang sangat manusiawi ini ditanggapi secara ilahi, “jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau.” Tanggapan Maria atas keterpilihan ini semakin memperkuat jati dirinya sebagai “yang dikaruniai”: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Tidak ada alasan lain lagi bagi Maria untuk menolak tugas suci ini, sebab jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa Tuhan telah menyucikan dia demi misi suci menjadi ibu Yesus, Sang Allah Putra.

Kisah injil dan perayaan hari ini mengajak kita orang beriman untuk merenungkan tentang keterpanggilan kita juga dalam tugas suci pengabdian kita masing-masing. Kita memang tidak dikandung tanpa dosa. Kita juga tidak seperti Maria yang didatangi oleh malaikat yang memaklumkan bagi kita tugas ilahi. Kita juga tidak seperti Maria yang berani berdialog dengan malaikat tentang keraguan, ketakutan dan pergumulan hidup kita. Tetapi sesungguhnya kita sama seperti Maria, yakni dipanggil untuk menjadi “ibu Yesus”. Ketika kita dibaptis, kita telah menerima tugas itu, meski kata-kata malaikat itu tidak terdengar secara langsung, tetapi sungguh keyakinan ini ada yakni bahwa, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau”. Saat Sakramen Krisma diterimakan kepada kita, saat itulah kita diteguhkan untuk tugas yang suci, “mengandung Yesus” di dalam hati kita, “melahirkan Yesus” dalam pikiran, perkataan, perasaan dan perbuatan kita, serta “membesarkan Yesus” dalam seluruh aktivitas hidup dan panggilan kita. Semoga saat ini sadarlah kita, bahwa sebagai orang-orang yang “dikaruniai” baiklah bersama bunda Maria, dalam seluruh pergumulan hidup kita, kita pun berseru: “Aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu”.

Penulis renungan
Pst.Andreas Rumayar, pr

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini