Renungan Kamis, 16 November: “Peka”

0
1790

Kamis, 16 November 2017

Pekan Biasa XXXII

PF S. Gertrud, Perawan

PF S. Margareta dari Skotlandia

(Keb 7:22-8:1; Mzm 119:89.90.91.130.135.175; Luk 17:20-25)

 

Bacaan Pertama: Keb 7:22-8:1: Kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cerminan tak bernoda kegiatan Allah.

Pembacaan dari Kitab Kebijaksanaan:

Di dalam kebijaksanaan ada roh yang arif dan kudus, tunggal, majemuk dan halus, mudah bergerak, jernih dan tidak bernoda, terang, tidak dapat dirusak, suka akan yang baik dan tajam, tidak tertahan, murah hati dan sayang akan manusia, tetap, meyakinkan dan mantap, mahakuasa dan memelihara semuanya serta menyelami sekalian roh yang arif, murni dan halus sekalipun. Sebab kebijaksanaan lebih lincah dari segala gerakan, karena dengan kemurniannya ia menembus dan melintasi segala-galanya.

Kebijaksanaan adalah nafas kekuatan Allah, dan pancaran murni kemuliaan Yang Mahakuasa.  Tidak ada sesuatupun yang bernoda masuk ke dalamnya. Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda kegiatan Allah, serta gambar kebaikan-Nya. Meskipun tunggal, namun kebijaksanaan mampu akan segala-galanya, dan walaupun tinggal di dalam dirinya, namun membaharui semuanya. Dari angkatan yang satu ke angkatan yang lain ia beralih masuk ke dalam jiwa-jiwa yang suci, yang olehnya dijadikan sahabat Allah dan nabi.

Tiada sesuatu pun yang dikasihi Allah kecuali orang yang berdiam bersama dengan kebijaksanaan.Sebab kebijaksanaan lebih indah daripada matahari, dan mengalahkan setiap tempat bintang-bintang. Dibandingkan dengan siang terang dialah yang unggul, sebab siang digantikan malam, sedangkan kejahatan tak sampai menggagahi kebijaksanaan. Dengan kuat ia meluas dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan halus memerintah segala sesuatu.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mazmur: Mzm 119:89.90.91.130.135.175

R:89a

Ya Tuhan, untuk selama-lamanya firman-Mu tetap teguh.

  • Untuk selama-lamanya, ya Tuhan, firman-Mu tetap teguh di surga.
  • Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan; bumi Kautegakkan, sehingga tetap ada.
  • Menurut hukum-hukum-Mu sekarang semuanya itu ada, sebab segala sesuatu melayani Engkau.
  • Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.
  • Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
  • Biarlah jiwaku hidup supaya memuji-muji Engkau, dan biarlah hukum-hukum-Mu menolong aku.

Bait Pengantar Injil: Yoh 15:5; Akulah pokok anggur, kalian ranting-rantingnya, sabda Tuhan.

Tinggallah beserta-Ku, maka Aku tinggal besertamu, dan kalian akan berbuah banyak.

Bacaan Injil: Luk 17:20-25; Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengahmu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Sekali peristiwa orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus, kapan Kerajaan Allah datang. Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Tidak dapat dikatakan, “Lihat, ia ada di sini’ atau ‘ia ada di sana.’ Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah sudah ada di di tengah-tengahmu.”

Yesus berkata kepada para murid, “Akan datang waktunya kalian ingin melihat salah satu hari Anak Manusia itu. Tetapi kalian tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu, ‘Lihat dia ada di sana! Lihat dia ada di sini! ‘Tetapi jangan kalian pergi ke situ, jangan kalian ikut. Sebab seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah halnya Anak Manusia, pada hari kedatangan-Nya kelak. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.”

Demikianlah Injil Tuhan.

maxresdefault

 

Renungan: “Peka”

Saudara terkasih, dimanakah Kerajaan Allah itu? Pertanyaan ini yang menjadi pergumulan utama Kaum Farisi waktu itu. Tetapi mungkin juga kita semua yang hidup sekarang ini. Dengan rupa-rupa situasi dan pergumulan hidup kita, kita mencoba mencari dan menemukan Kerajaan Allah itu. Mungkin di antara kita ada yang mengira bahwa Kerajaan Allah ada ketika semua masalah dalam hidup selesai, ketika sudah tidak ada hutang piutang, ketiga tugas yang diberikan oleh atasan sudah beres. Mungkin karena itu kita sering kecewa karena ternyata selama kita hidup di dunia ini masalah tidak pernah selesai, Karena itu orang sering mengidentikkan Kerajaan Allah dengan kematian sebagai berakhirnya hidup di dunia ini. Orang Manado sering mengatakan, kalau ada orang meninggal dunia, so sanang dia di surga. Apakah sungguh demikian Kerajaan Allah itu? Yang pasti dalam doa Bapa Kami kita semua mengucapkan, datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di atas Bumi seperti di dalam Surga.

Kedatangan Tuhan Yesus di dunia ini mempunyai misi utama, yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Hal itu secara jelas diungkapkanNya dalam Luk. 4:17-18 Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Apa yang dikatakan olehNya ketika berkotbah di Nazareth ini itu jugalah yang dilakukanNya dalam perjalanan sambil berbuat baik.

Dengan demikian bisa dikatakan kehidupan Yesus merupakan tanda dan kehadiran Kerajaan Allah yang sungguh nyata, riil, nampak dan jelas. Apa yang dilakukan oleh Yesus merupakan tanda-tanda dari kehadiran Kerajaan Allah. Apa yang diungkapkan oleh Yesus menjadi pewartaan akan nilai-nilai Kerajaan Allah. Namun demikian hanya yang memiliki kepekaan hati yang akan mampu melihat, mendengar dan merasakan dengan sungguh-sungguh Tanda Kerajaan Allah. Itulah yang justru tidak dimiliki oleh Kaum Farisi. Mata dan telinga hati mereka terhalang oleh segala kepentingan dan niat untuk menguasai dan memonopoli serta mencari keuntungan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Padahal hal itu yang telah mereka ikat dalam Perjanjian Sinai (Hukum Taurat). Yesus Kristus hendak menyempurnakan hukum itu dengan memberikan kesaksian.  Santo Atanasius mengatakan bahwa Anak Allah menjadi Anak Manusia supaya anak manusia boleh menjadi anak Allah.

Santa Teresa dari Kalkuta telah menjadi inspirasi bagaimana membangun kepekaan hati dan budi akan tuntunan roh itu. Ia mengajarkan kepada kita bahwa hanya dengan doa, merenungkan Kitab Suci dan merayakan ekaristi maka kita dapat menemukan Suara Tuhan. Tetapi suara Tuhan itu akan lebih kuat menggema kalau kita juga peka mendengarkan jeritan derita sesama di sekitar kita, jeritan dari sesama yang bahkan tidak mampu menjerit (voice of unvoiceless). Cinta yang peka melihat, mendengarkan jeritan sesama, dan dengan tulus menggerakkan untuk menolong inilah yang saya sangka disebut Kerajaan Allah. Itulah perjuangan kita dalam hidup di dunia ini supaya datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di atas Bumi seperti di dalam Surga.

P. Dismas Salettia, pr

 

Dengarkan versi audio dari renungan harian ini di website Radio Montini pada link gambar berikut ini:

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini