Renungan Kamis, 23 November: “Sebuah Pemaknaan”

0
3629

Kamis Pekan Biasa XXXIII

PF S. Kolumbanus, Abas

PF S. Klemens I, Paus dan Martir

 

Bacaan Pertama: 1Mak 2:15-29; Kami akan mentaati hukum nenek moyang kami.

Pembacaan dari Kitab Pertama Makabe:

Pada masa pemerintahan Raja Antiokhus Epifanes orang-orang Yahudi dipaksa meninggalkan ketetapan hukum Taurat. Sekali peristiwa para pegawai raja datang ke kota Modein untuk menuntut orang-orang Yahudi mempersembahkan kurban kepada berhala. Banyak orang Israel datang kepada mereka. Matatias dan anak-anaknya berkumpul pula.Pegawai raja itu angkat bicara dan berkata kepada Matatias, “Saudara adalah seorang pemimpin, orang terhormat dan pembesar di kota ini, dan lagi didukung oleh anak-anak serta kaum kerabat. Baiklah saudara sekarang juga maju ke depan sebagai orang pertama untuk memenuhi ketetapan raja.

Hal ini telah dilakukan semua bangsa, bahkan juga orang-orang Yehuda dan mereka yang masih tinggal di Yerusalem. Kalau demikian, niscaya Saudara serta anak-anak Saudara termasuk dalam kalangan sahabat-sahabat raja dan akan dihormati dengan perak, emas dan banyak hadiah!”

Tetapi Matatias menjawab dengan suara lantang, “Kalaupun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi perintah Sri Baginda dan masing-masing murtad dari agama nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah Sri Baginda, namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku hendak tetap hidup menurut perjanjian nenek moyang kami.Semoga Tuhan mencegah kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan.Titah raja itu tidak dapat kami taati. Kami tidak dapat menyimpang sedikit pun dari agama kami.”

Belum lagi Matatias selesai berbicara, seorang Yahudi tampil ke depan umum untuk mempersembahkan kurban di atas mezbah berhala di kota Modein menurut penetapan raja. Melihat itu Matatias naik darah dan gentarlah hatinya karena geram yang tepat. Disergapnya orang Yahudi itu dan digoroknya di dekat mezbah. Petugas raja yang memaksakan kurban itupun dibunuhnya pada saat itu juga. Kemudian mezbah itu dirobohkannya.Tindakannya untuk membela hukum Taurat itu serupa dengan yang dahulu pernah dilakukan oleh Pinehas terhadap Zimri bin Salom.

Lalu berteriaklah Matatias dengan suara lantang di kota Modein, “Siapa saja yang rindu memegang hukum Taurat dan berpaut pada perjanjian hendaknya mengikuti aku!”Kemudian Matatias serta anak-anaknya melarikan diri ke pegunungan. Segala harta miliknya di kota ditinggalkannya.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 50:1-2.5-6.14-15: Siapa yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.

  • Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya. Dari Sion, puncak keindahan, Allah tampil bersinar.
  • “Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Daku, perjanjian yang dikukuhkan dengan kurban sembelihan!”Maka langit memberitakan keadilan-Nya; Allah sendirilah Hakim!
  • Persembahkanlah syukur sebagai kurban kepada Allah, dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, maka Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Daku.”

Bait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab: Hari ini janganlah bertegar hati, tetapi dengarkanlah suara Tuhan.

Yesus berdoa untuk Yerusalem

Bacaan Injil: Luk 19:41-44; Andaikan engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada waktu itu, ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya, “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, musuhmu mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Dan mereka akan membinasakan dikau beserta semua pendudukmu. Tembokmu akan dirobohkan dan tiada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Sebab engkau tidak mengetahui saat Allah melawati engkau.”

Demikanlah sabda Tuhan.

 

Renungan: Sebuah Pemaknaan

Kekayaan sebuah doa sering kali ditemukan di tengah kesesakan. Tidak seorangpun dapat berseru kepada Tuhan di luar seluruh pengalaman hidupnya. Hanya orang beriman yang benar-benar menyadari hal itu. Dalam bacaan pertama Matatias mengalami pergulatan hebat di tengah gerakan Umat Israel meninggalkan perjanjian dengan Tuhan. Di tengah kesesakan itu, ia berseru, “Semoga Tuhan mencegah kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan.” Iman yang teguh membuatnya tetap sadar akan pilihan hidupnya. Kita dapat melihat bahwa Tuhan memberi kekuatan kepadanya untuk tetap setia sehingga godaan duniawi ataupun ancaman kematian tidak menggoyahkan imannya.

Yesus sendiripun sebagai Anak Allah berdoa di tengah kesesakan. Ia mengungkapkan keprihatinan-Nya terhadap warga kota Yerusalem. Mereka yang sudah tidak setia lagi pada perjanjian dengan Allah yang padahal janji itu sudah terpenuhi dalam DiriNya. Mereka tidak menerima Dia sebagai pembawa damai sejahtera karena Yesus tidak melawan para penjajah Romawi secara politis dan militer seperti yang mereka harapkan. Namun demikian inilah pergulatan batin yang dibawa oleh Yesus dalam doa. Doa yang lahir dari kekayaan batin Sang Anak Allah yang penuh belas kasih. Tuhan Yesus menghendaki agar orang di Yerusalem dan kita sekarang ini “mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu”.

Keterlibatan batin yang sungguh-sungguh dalam di dalam setiap pergumulan hidup akan menjadi kekayaan setiap doa kita. Berdoa, mengeluh, mengesah bahkan menangis di tengah pergulatan hidup merupakan ungkapan keterlibatan seluruh diri kita dalam karya pelayanan yang menghadirkan damai sejahtera dan bukan permusuhan. Seperti Tuhan Yesus yang menangisi Yerusalem dan berkata, “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!” Yesus menangis, berduka dan mengeluhkan umat-Nya. Ia menyadari bahwa ia akan segera mati bagi umat di Yerusalem dan untuk segala bangsa. Yesus menangisi kota Yerusalem karena dalam sejarah, banyak penguasa dan penduduk Yerusalem yang menolak para nabi yang berbicara atas nama Allah. Mereka terlalu angkuh dan tidak percaya. Mereka juga menolak untuk mendengarkan Yesus yang datang sebagai Mesias yang diurapi Allah menjadi penyelamat dan raja damai mereka.

Injil hari ini kita mengajak kita untuk merenungkan bahwa Yesus Kristus menghendaki kita dimaknai oleh pendamaian dengan Allah dan sesama. Ia menghendaki agar kita bersatu dalam damai dan kasih dengan sesama, terutama mereka yang memusuhi kita. Ia memampukan kita hidup dalam damai, harmonis dengan keluarga, tetangga, komunitas dan masyarakat. Dalam setiap doa, khususnya perayaan Ekaristi, kita mendengarkan bahkan bersatu, berjumpa dan menyembah Yesus Kristus yang adalah pengharapan kita sebab Dialah satu-satunya yang dapat mendamaikan kita dengan Allah dan sesama. Melalui wafat dan kebangkitan-Nya Ia meruntuhkan tembok keangkuhan dan tembok pemisah dengan mendamaikan kita dengan Allah. Ia mengunjungi kita dan tinggal di antara kita dalam Sabda dan Ekaristi. Mari kita mengenali kunjungan-Nya yang penuh rahmat untuk mewartakan rahasia Kerajaan Surga dan menyatukan kita dengan diriNya, kurban pendamaian sehingga damai sejahtera boleh hadir dalam hidup kita. Damai sejahtera yang dibawa oleh Dia yang penuh cinta dan belas kasih yang datang untuk melayani, yang datang untuk menghadirkan damai sejahtera.

P. Dismas Salettia, pr

Dengarkan versi audio dari renungan harian ini di website Radio Montini pada link gambar berikut ini:

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini