Renungan Kamis, 26 Oktober : Jujur Terhadap Keyakinan

0
1810
api
Api Kasih Membakar menyemangati orang beriman

Kamis Pekan Biasa XXIX

Bacaan 1 : Rom 6:19-23; Mazmur : Mzm 1:1-4.6;Injil : Luk 12:49-53

Bacaan Pertama: Rom 6:19-23:Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara, mengingat kelemahanmu, Aku berbicara secara manusia.
Sebagaimana kalian dahulu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu
menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kalian kepada kedurhakaan, demikianlah sekarang kalian harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kalian kepada pengudusan.

Sebab waktu kalian menjadi hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.Dan buah apakah yang kalian petik dari padanya? Semuanya menyebabkan kalian sekarang merasa malu, karena kesudahannya ialah kematian.Tetapi sekarang kalian telah dimerdekakan dari dosa, dan menjadi hamba Allah. Maka kalian memperoleh buah yang membawa kalian kepada pengudusan, dan akhirnya hidup yang kekal.
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Demikianlah sabda Tuhan.

api
Api Kasih Membakar menyemangati orang beriman

Mzm 1:1-4.6; R:40:5a; Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan.

*Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh;
tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.

*Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan daunnya tak pernah layu; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

*Bukan demikianlah orang-orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiup angin.
Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bait Pengantar Injil: Flp 3:8-9 Segala sesuatu kuanggap sebagai sampah, supaya aku memperoleh Kristus dan berada dalam Dia.

Bacaan Injil: Luk 12:49-53: Aku datang bukannya membawa damai, melainkan pertentangan.

Hati
Hati Yesus Sumber Damai

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala! Aku harus menerima baptisan dan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung!

Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan! Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.Mereka akan saling bertentangan, bapa melawan puteranya, dan putera melawan bapanya, ibu melawan puterinya, dan puteri melawan ibunya, ibu mertua melawan menantu, dan menantu melawan ibu mertuanya.” Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan: Jujur Terhadap Keyakinan

Albert Nolan pernah menulis Buku Jesus Today; yang isinya tentang apa yang kira-kira Yesus akan lakukan jika dia hidup di zaman millennial ini. Hari ini dalam injil kita dapat menangkap bagaimana Yesus mengungkapkan itu dalam tindakan yang menyentil. Orang Manado bilang “rasa geli”. Rasa geli karena sepintas kita mendengar Tuhan Yesus yang adalah pembawa damai memberikan sebuah kata-kata yang keras kepada murid-muridNya, bahkan secara terang-terangan.
Pertama, Dia mengungkapkan keinginannya yang dalam untuk melemparkan api ke bumi. Dalam citra Perjanjian Lama, api adalah simbol kehadiran Tuhan yang kuat. Musa berjumpa dengan Allah di semak yang terbakar, tiang api yang menyertai orang Israel pada malam hari saat mereka berjalan-jalan di padang gurun ke Tanah Perjanjian, serta lidah api yang melayang di atas para murid pada hari Pentakosta. Api Pentakosta inilah yang membakar hati manusia dan menarik mereka untuk mengubah arah kehidupan mereka. Agar keinginan Yesus digenapi, kita harus memainkan peran kita dalam membantu menyebarkan sebagian dari api kasih Allah di mana-mana.
Kedua,
0915g15cYesus mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk membawa kedamaian namun perpecahan di bumi. Ada kesan bahwa ini adalah kata keras dan itu tidak masuk akal. Apakah Yesus bukan Pangeran Perdamaian? Apakah Yesus tidak mengatakan pada Perjamuan Terakhir bahwa dia memberikan kedamaian kepada murid-muridnya, sebuah kedamaian yang tidak dapat diberikan oleh dunia dan bahwa tidak ada yang bisa mengambilnya? Apakah ucapan terakhir tentang Kristus Yang Bangkit kepada murid-murid-Nya di ruang atas bukanlah “Damai sejahtera bagimu?
Ya, tapi dia juga memperingatkan murid-muridnya bahwa, setelah dia pergi, mereka bisa menghadapi tantangan yang kasar. Mereka akan dihadapkan ke penguasa , mereka akan dipukuli dan dipenjara dan dihukum mati. Dalam pada itu orang akan mengira mereka melakukannya dengan baik dalam membersihkan dunia mereka. Dalam hal ini, Yesus tentu saja tidak akan membawa kedamaian.
Yesus telah memperingatkan bahwa mereka yang ingin mengikutinya harus siap, jika perlu, untuk meninggalkan rumah dan keluarga dan masuk ke dalam keluarga saudara dan saudari yang baru. Untuk mengikuti jalan kebenaran dan cinta, kebebasan dan keadilan selalu akan membangkitkan permusuhan orang-orang yang merasa terancam oleh kebaikan.
Di China ada kasus dimana seorang anggota keluarga telah menemukan kebenaran tentang Gereja Katolik. Sebagian besar hidupnya, telah dirasuki kebohongan tentang Gereja. Sekarang, dia menyadari kebenarannya sehingga dia dibaptis. Tapi kemudian anggota keluarga lainnya tidak melihat kebenaran saat melihatnya. Jadi mereka pikir dia gila. Mereka pikir dia tidak waras dan keluarga terpecah karena ini.
Akhirnya, permusuhan, perpecahan, penganiayaan, dan jika orang Kristen tidak bertanggung jawab secara langsung, tidak menghilangkan kedamaian yang Yesus bicarakan. Sebaliknya, hanya dengan bersikap jujur ​​terhadap keyakinan dan integritas seseorang, berapa pun harga yang harus dibayar, kedamaian itu bisa dialami. Benrnard Lonergan pernah mengatakan manusia tidak pernah mencapai kebenaran yang benar-benar objektif karena dalam diri setiap manusia selalu ada unsur subjektiftas. Tetapi manusia yang menyadari ini akan dengan rendah hati dan jujur selalu bertobat dan mengarahkan dirinya pada Sang Kebenaran Sejati.

Penulis Renungan
Pst. Dismas Salettia, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini