Renungan Kamis, 28 Desember : Tremendum Et Fascinosum

0
3490

28 Desember 2017

Pesta Para Kanak-Kanak Suci, Martir

(1Yoh 1:5-2:2, Mzm 124:2-3.4-5.7b-8, Mat 2:13-18 )

 

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:5-2:2; Darah Yesus Kristus menyucikan kita dari segala dosa.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:

Saudara-saudara terkasih, inilah berita yang telah kami dengar dari Yesus Kristus, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang, dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta, dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa. Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri, dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Allah adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Allah menjadi pendusta, dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.

Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa; namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil. Dialah pendamaian untuk segala dosa kita; malahan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mazmur: Mzm 124:2-3.4-5.7b-8; Jiwa kita terluput seperti burung terlepas dari jerat penangkap.

  • Jika bukan Tuhan yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita,maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita.

 

  • Maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir menembus kita;telah mengalir melanda kita air yang meluap-luap itu.

 

  • Jerat itu telah putus, dan kita pun terluput!Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.

 

Bacaan Injil: Mat 2:13-18 ; Herodes menyuruh agar semua anak laki-laki di Betlehem dan sekitarnya dibunuh.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Setelah orang-orang majus yang mengunjungi Bayi Yesus di Betlehem itu pulang, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi. Malaikat itu berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya! Larilah ke Mesir, dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena raja Herodes akan mencari Anak itu untuk dibunuh.”

Maka Yusuf pun bangunlah. Malam itu juga diambilnya Anak itu serta ibu-Nya, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan lewat nabi-Nya, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”

Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, sangat marahlah ia. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat memilukan; Rahel menangisi anak-anaknya, dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan: Tremendum Et Fascinosum

Pengalaman tremendum et fascinosum adalah pengalaman dekat dengan Allah. Pengalaman tremendum et fascinosum berarti pengalaman yang mengagumkan tetapi Menakutkan. Pengalaman ini juga yang kita alami dalam menjalani dan merenungkan Masa Adven dan Natal. Pengalaman gado-gado, kontradiktif atau bahkan paradox. Berbeda dengan Masa Prapaskah yang dominan berwarna ungu, Masa Advent dan Masa Natal adalah masa paling “rumit” dalam kalender Kristen karena ada warna ungu sebagai lambang pertobatan bercampur dengan pink sebagai embusan sukacita gaudete, putih ungkapan bintang Daud, dan hari ini warna merah darah para martir.

Tidak seperti putih yang tampaknya tak henti-hentinya dari lima puluh hari Paskah. Masa Adven dan Natal memiliki banyak warna – dan pengalaman. Elizabeth, sekali mandul, sekarang mengandung. Maria, yang tidak menikah, namun bertunangan dengan Yusuf, juga mengandung. Tidak ada kegembiraan yang tak tergoyahkan dalam pemberitaan itu. Dalam satu bagian Injil, Yohanes Pembaptis melompat gembira dan kemudian dia merana dipenjara. Pada Hari Natal seluruh dunia bersukacita karena kelahiran seorang anak, dan keesokan harinya kita orang Kristen mengingat darah martir pertama, Santo Stefanus, yang mati demi iman kita. Pada hari natal, kita bersukacita karena seorang anak yang lahir pada malam gelap sekaligus diinspirasi oleh bintang yang terang, baru beberapa hari kemudian, hari ini kita mengingat pembantaian sejumlah anak-anak, para martir yang terlalu muda karena hembusan nafsu, ambisi dan kekuasaan yang tidak terkendalikan.

Tuhan Yesus Kristus lahir di dunia kita ini, penuh kegelapan dan kompleksitas masalah dosa yang dalam. Ia bahkan tidak dikenali oleh mereka yang belajar Taurat sekian lama, mereka yang belajar nubuat Mesianik sekian lama hanya karena silau oleh kekuasaan dan kekayan. Kedatangan Mesias dengan Misi menghadirkan Kerajaan Allah justru menjadi masalah bagi Herodes, bahkan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Maka Belas kasih Allah sungguh menjadi kesaksian sekaligus obat berhadapan dengan egoisme manusia seperti itu. Belas kasih Allah yang tidak hanya dibicarakan tetapi didemonstrasikan oleh Allah sendiri melalui PuteraNya Yesus Kristus.

Belas kasih Allah itu jugalah yang sungguh dihayati oleh Keluarga Kudus di Nazareth. Mereka menghayati itu dalam kesiapsediaan penuh. Maka Keluarga kudus di Nazareth menawarkan sebuah model kehidupan religius di Zaman Now ini. Mereka menampakkan keberanian untuk memilih yang paling baik dan benar karena sesuai dengan kehendak Tuhan, bahkan ketika waktu baru diminta kesediaan. Seperti Maria kita harus merenungkan semua kerumitan hidup di dalam hati kita, Maria menerima kendati tidak terlalu mengerti, segala sesuatu dan merenungkan semuanya di dalam hatinya, bukannya sibuk pamer kekayaan dan kecantikan tetapi suka mengeluh di Media Sosial ketika mendapat masalah. Seperti Yosef kita harus bersedia menjadi ayah dari Allah yang baik yang mengasihi kita, bahkan Yusuf dengan berani bertanggung jawab menggembalakan keluarga muda itu untuk melakukan perjalanan yang menakutkan ke padang pasir Mesir bukannya lari dari tanggung jawab karena lebih suka senang dengan minuman dan urusan bisnis. Yosef dan Maria bukan orang yang diperintah oleh ketakutan dan kecemasannya, seperti Herodes. Maria, Yosef dan Yesus, keluarga suci muda, sebagai pemandu dan model kehidupan religius kita di zaman Now karena iman yang dihidupi dan dipraktekkan sehingga boleh menghadirkan Yesus sebagai penyelamat Dunia. Semoga keluarga kita masing-masing benar-benar menjadi keluarga yang menghayati iman dalam saling memaafkan dan mendoakan supaya keluarga kita menjadi keluarga yang menyelamatkan.

P. Dismas Salettia, pr

Dengarkan versi audio dari renungan harian ini di website Radio Montini pada link gambar berikut ini:

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini