Renungan Minggu, 15 Oktober 2017; Pesta Lagi….!!!

0
1540

Hari Minggu Biasa XXVIII

Yes 25:6-10a; Flp 4:12-14, 19-20; Mat 22:1-14

Bacaan Injil: Mat 22:1-14: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:”Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.

Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.

Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.

Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.

Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan: Pesta Lagi….!!!

Semua orang pasti mau terlihat anggun, cantik, indah, rapi dan berwibawa jika menghadiri sebuah undangan perjamuan pesta. Orang akan mengupayakan pelbagai macam cara untuk bisa terlihat “sedikit lebih” dari penampilan biasa. Sangat tidak lazim jika kita menghadiri sebuah acara perjamuan pesta nikah dengan memakai pakaian seragam dinas. Menjadi lebih aneh lagi jika kita memakai pakaian olahraga ketika menghadiri undangan perjamuan nikah. Setiap orang pasti punya cara tersendiri untuk memilih mana pakaian yang pantas untuk sebuah acara tertentu.

Di jaman Timur Tengah kuno setiap raja yang memenangkan perang, akan menggelar perjamuan syukur secara besar-besaran, mewah dan tentu saja harus menyenangkan. Apa yang disajikan ialah hasil rampasan dari musuh-musuh yang saja dikalahkan. Biasanya pada saat-saat pesta seperti itu semua orang kepercayaan raja dan yang masih mengakui raja akan berkumpul untuk memperbaharui pernyataan kesetiaan terhadap sang raja pemenang. Mereka memperbaharui perjanjian dan ikatan yang lama. Situasi inilah yang juga ditangkap oleh nabi untuk melukiskan perjamuan kemenangan yang disiapkan oleh Allah bagi setiap bangsa.

Penulis Injil memodifikasi sedikit tema perjamuan kemenangan ini dengan perjamuan perjamuan kemesiasan. Perjamuan kemesiasan merupakan tema yang sangat lumrah dalam tradisi kenabian. Penulis injil menggunakan cara ini untuk menggambarkan bagaimana hal kerajaan Allah bisa dipahami. Diceritakan dalam perumpamaan bahwa Yesus secara spontan menggambarkan kerajaan Allah yang diberitakanNya dengan gambaran perjamuan nikah. Perumpamaan Yesus berbicara soal jawaban atau tanggapan atas undangan perjamuan nikah. Para undangan digambarkan sebagai orang Yahudi, bangsa pilihan Allah. Kepada mereka Allah menawarkan sebuah situasi penuh sukacita, berkelimpahan, dan ada rasa persatuan. Tapi apa daya, para undangan menolak hadir dengan segala macam alasan, malahan tawaran kedua dibalas dengan reaksi brutal. Sebagai balasannya, kota mereka akhirnya dihancurkan. Gambaran ini sebenarnya adalah penglihatan bagaimana kota Yerusalem akhirnya dihancurkan.

Adegan kedua yang ditampilkan ialah upaya dari sang raja untuk mengundang siapa saja yang bersedia datang. Ia tidak mau membatalkan rencana belas kasih kemurahan hatinya. Siapa saja diundang, dengan demikian ruangan pesta menjadi penuh. Tapi apa yang terjadi? Ternyata ada seseorang yang tidak memakai pakaian pesta, ia tidak menghargai sang raja, dan tentu saja ia tidak menghargai perjamuan mewah itu, ia tidak menghargai tawaran kemurahan hati sang raja. Dengan perumpamaan ini Yesus mau mengajarkan kepada kita sebuah nasehat; undangan Allah adalah sebuah tawaran cinta penuh kebahagiaan dan sukacita yang pada dirinya sendiri juga menghadirkan rahmat yang melayakkan kita menghadiri perjamuan mewah itu. Dari diri kita sendiri, sebagai orang berdosa, kita sama sekali tidak layak untuk menghadiri perjamuan mewah itu. Allah berkehendak baik dengan mengundang kita. Kita harus menanggapi bukan hanya undangan pesta itu saja tetapi juga harus menyadari rahmat yang menganggap kita layak diundang.  Rahmat itulah yang menguduskan, menyucikan dan melayakkan kita menghadiri undangan perjamuan mewah yang penuh sukacita dan kegembiraan itu. Menolak undangan itu berarti menempatkan diri kita sendiri dalam situasi yang tidak menguntungkan, kita menolak rahmat dan berkat Allah. Tawaran belaskasih ilahi tentu saja membutuhkan kerjasama dari pihak kita. Allah tidak bisa menyucikan manusia yang menolak rahmatNya.

Bukankah Perjamuan Ekaristi yang kita rayakan seharusnya juga merupakan tawaran cinta kasih Allah yang ditawarkan kepada kita? Bagaimanakah cara kita menanggapinya, apakah kita cukup mempersiapkan hati ketika maju menyambutnya? Semoga hati kita yang bersih  menjadi “pakaian pesta” yang layak untuk menyambut Tuhan.

P. Sefry Topit, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini