Renungan Minggu 17 September: Buah-Buah Pengampunan

0
2372
pengampunan

Minggu, 17 September 2017  Hari Minggu Biasa XXIV, warna liturgi Hijau
Sir. 27:30 – 28:9; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Rm. 14:7-9;
Matius 18:21-35:
Perumpamaan tentang pengampunan
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.  Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.   Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.  Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.  Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!   Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.   Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.  Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.  Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.  Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?   Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.  Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Renungan:

Kita tentu yang masih ingat peristiwa 13 Mei 1981. Salah satu peristiwa yang rasa-rasanya tidak mungkin dilupakan oleh orang Katolik di seluruh dunia, ketika seorang bernama Ali Agca menembak Paus Yohanes Paulus II. Paus sama sekali tidak membenci Ali Agca apalagi mengutuknya. Setelah kesehatannya pulih, Paus mengunjungi Ali Agca di penjara sambil memeluk laki-laki muda itu Paus berkata “Aku memaafkanmu, sahabat. Aku mengampunimu”. Saudara, itulah pengampunan.

Injil hari ini mengingatkan kita betapa pentingnya mengampuni dan berbelas kasih kepada sesama. Ketika Petrus bertanya, berapa kali harus mengampuni orang yang berbuat  salah? Yesus menjawab, bukan hanya tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Dalam kitab suci angka tujuh sering dipakai untuk menunjukkan sebuah kesempurnaan. Bukan tanpa maksud ketika Yesus mengatakan tujuh puluh kali tujuh, angka yang sempurna dikali lagi dengan angka yang sempurna hendak menjelaskan kepada kita bahwa pengampunan harus diberikan tanpa batas dan tanpa diukur. Tujuh puluh kali tujuh kali juga melambangkan kepenuhan, pengampunan harus diberikan dengan sepenuh hati bukan dengan setengah hati bukan pula dengan keterpaksaan.    

Saudara-suadariku terkasih, mengapa dalam hidup orang beriman pengampunan menjadi sedemikian penting dan justru wajib?  Alasan pertama, karena Tuhan telah lebih dahulu mengampuni kita maka kita juga harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Alasan kedua, pengampunan akan menghasilkan buah-buah yang baik. Pengampunan itu membebaskan, mengampuni orang yang bersalah dengan sepenuh hati akan membebaskan orang tersebut dari rasa bersalah dan juga membebaskan kita dari rasa sakit hati. Pengampunan itu membuahkan sukacita. Dengan mengampuni kita akan merasakan sukacita, orang yang kita ampuni juga akan mengalami sukacita yang sama. Saudara terkasih, mengampuni memang tidak selalu mudah. Tetapi Tuhan berkat kasih-Nya yang besar telah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Kita sebagai orang beriman yang telah mengalami pengampunan itu juga harus mau dan mampu memberikan pengampunan kepada orang yang bersalah. Pengampunan yang diberikan itupun harus dengan sepenuh hati, atau dengan bahasa Kitab Suci harus tujuh puluh kali tujuh kali. Supaya pengampunan itu membuahkan hal-hal yang baik, bagi kita dan bagi orang yang menerima pengampunan. Semoga demikian

Evi Kasiahe

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini