Renungan, Minggu, 26 November: Raja Bermahkota Duri

0
1651
Raja Kristus
Kristus Raja Bermahkota Duri

HR Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Bacaan 1 : Yeh 34:11-12.15-17
Mazmur : Mzm 23:1-2a.2b-3.5-6
Bacaan 2 : 1Kor 15:20-26a.28
Injil : Mat 25:31-46

Bacaan Pertama
Yeh 34:11-12.15-17
Wahai domba-domba-Ku,
Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba.

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Beginilah firman Tuhan Allah,
“Dengar,
Aku sendirilah yang akan memperhatikan domba-domba-Ku
dan mencari mereka.
Seperti seorang gembala mencari dombanya
pada waktu domba itu tercerai dari kawanannya,
begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku,
dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat,
ke mana mereka diserakkan
pada hari berkabut dan hari kegelapan.

Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku,
dan Aku akan membiarkan mereka berbaring,
demikianlah firman Tuhan Allah.
Yang hilang akan Kucari,
yang tersesat akan Kubawa pulang,
yang luka akan Kubalut,
yang sakit akan Kukuatkan,
sedang yang gemuk dan kuat akan Kulindungi.
Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.”

“Wahai kamu domba-domba-Ku,”
beginilah firman Tuhan Allah,
“Sungguh, Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba,
dan di antara domba jantan dan kambing jantan.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur
Mzm 23:1-2a.2b-3.5-6
R:1
Tuhanlah Gembalaku, aku takkan berkekurangan.

*Tuhanlah Gembalaku, aku takkan berkekurangan.
Ia membaringkan daku di padang tumput yang hijau.

*Ia membimbing aku ke air yang tenang,
dan menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang lurus,
demi nama-Nya yang kudus.

*Engkau menyediakan hidangan bagiku,
di hadapan segala lawanku.
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak,
pialaku penuh berlimpah.

*Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku
seumur hidupku.
Aku akan diam di dalam rumah Tuhan
sepanjang masa.

Bacaan Kedua
1Kor 15:20-26a.28
Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa,
supaya Allah menjadi semua di dalam semua.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati,
sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia,
demikian juga
kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.
Karena sama seperti semua orang mati
dalam persekutuan dengan Adam,
demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali
dalam persekutuan dengan Kristus.
Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya:
Kristus sebagai buah sulung;
sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya
pada waktu kedatangan-Nya.

Kemudian tibalah kesudahannya,
yaitu bilamana Kristus menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa,
sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan,
kekuasaan dan kekuatan.
Karena Kristus harus memegang pemerintahan sebagai Raja
sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.
Musuh terakhir yang dibinasakan ialah maut.
Dan kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus,
maka Kristus sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya
di bawah Dia yang telah menaklukkan segala sesuatu,
supaya Allah menjadi semua di dalam semua.

Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil
Mrk 11:9.10
Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan.
Diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud.

Bacaan Injil
Mat 25:31-46
Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya
dan akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan
dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia,
maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya,
dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang,
sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing;
Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya,
dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya:
Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku,
terimalah Kerajaan
yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit, kamu melawat Aku;
ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Maka orang-orang benar itu akan bertanya kepada-Nya:
Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar
dan kami memberi Engkau makanan,
atau haus dan kami memberi Engkau minum?
Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing,
dan kami memberi Engkau tumpangan,
atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara
dan kami mengunjungi Engkau?

Dan Raja itu akan menjawab mereka:
Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini,
kamu telah melakukannya untuk Aku.

Lalu Raja itu akan berkata juga kepada mereka
yang di sebelah kiri-Nya:
Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk,
enyahlah ke dalam api yang kekal,
yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit dan dalam penjara,
kamu tidak melawat Aku.

Lalu mereka pun akan bertanya kepada-Nya:
Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar,
atau haus, atau sebagai orang asing,
atau telanjang atau sakit,
atau dalam penjara,
dan kami tidak melayani Engkau?

Maka Ia akan menjawab mereka:
Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini,
kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal,
tetapi orang benar masuk ke dalam hidup yang kekal.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Raja Bermahkota Duri

Saudaraku, kalau kepada kita ditanya, apakah anda ingin jadi raja atau ratu? Secara manusiawi, spontan pasti kita menjawab yah, iya, oh pasti! Siapa tidak mau menjadi raja atau ratu? Pasti semua orang ingin. Mengapa ingin? Apa yang ada di benak kita mendengar ungkapan “jadi raja atau jadi ratu”? Pasti! Yang terbersit dalam pikiran kita adalah akan mendapat kedudukan, kemuliaan, kekayaan, popularitas, pelayanan, kekuasaan tak terbatas, kenyamanan dan kemewahan. Begitu kan? Mengapa gambaran ini yang muncul dalam pikiran kita? Karena sebagai manusia, itulah yang kita cari dan butuhkan. Kita ingin punya kedudukan, ingin dimuliakan, jadi kaya raya, terkenal, punya kuasa, nyaman dan hidup dalam kemewahan. Kita terus mencari untuk mendapatkan.

Bahkan dalam hidup sehari-hari, meski bukan raja atau ratu kita kerap bertindak seolah-olah raja atau ratu di keluarga, di tempat kerja dan dalam pergaulan hidup. Kita berusaha menjadi raja atas isteri dan anak-anak. Kita berjuang menjadi Ratu atas suami dan anak-anak. Sebagai orang tua kadang kita memaksakan diri menjadi raja-ratu atas anak-anak, atau sebaliknya sebagai anak-anak kita bertindak seolah-olah raja atau ratu atas orang tua kita.

Saudaraku, hari ini Gereja merayakan pesta Kristus Raja Semesta alam. Sebagai raja, Yesus Kristus tampaknya sangat jauh dari gambaran dan pemikiran dunia. Yesus adalah raja yang tergantung di atas Kayu Salib. Mahkotanya bukan emas atau perak tetapi mahkota duri. Dia tidak punya pasukan bersenjata lengkap. Dia tidak punya istana yang mewah. Hidupnya jauh dari kenyamanan dan keamanan. Dia lahir di kandang hina, dia dibuang bangsanya dan dibunuh dengan keji oleh rakyatnya sendiri. Bukan main! Raja macam apakah Yesus Kristus itu? Dialah Raja Cinta. Dialah Raja yang sejati.

Dia tidak mencari kedudukan, kemuliaan, kekayaan, popularitas, kekuasaan, kenyamanan dan kemewahan. Dia tidak mencari diri untuk mendapatkan untuk dirinya sendiri. Dia MEMBERI seluruh hidupNya untuk bangsa yang dicintaiNya. Dialah Raja yang berkorban. Raja seperti inilah yang menguasai dan mengalahkan segala sesuatu tanpa perang, tanpa kekerasan dan tanpa pertikaian. Dialah Raja Damai.

Saudaraku, Contoh dan teladan Raja Kristus inilah yang harus kita ikuti. Kita semua dipanggil menjadi raja dan ratu. Tetapi raja dan ratu yang tidak mencari dan mendapatkan untuk diri sendiri. Bukan raja atau ratu yang berjuang tanpa henti untuk merebut kekuasaan, kedudukan dan kemuliaan tetapi Raja dan Ratu yang memberikan seluruh diri secara utuh untuk orang-orang yang kita cintai. Karena itu dalam Injil yang kita dengarkan hari ini digambarkan bagaimana nanti kita semua akan diadili. Ukuran yang dipakai adalah seberapa besar pemberian diri kita untuk mereka yang sakit, lapar, haus, dalam penjara, seorang asing, telanjang; mereka semua yang tersisih, terpinggir, terlempar bahkan terbuang dalam masyarakat. Ukurannya bukan seberapa besar kekayaan yang dikumpulkan, seberapa besar kekuasaan yang kita raih dan berapa persen tingkat kenyamanan dan kemewahan hidup kita tetapi seberapa besar kita Memberi kepada Tuhan, sesama dan alam semesta.

Mari saudaraku kita menjadi raja dan ratu dalam hidup dengan Memberi diri dan hidup kita dengan penuh cinta. Ingat kata-kata Yesus, Yang Kau perbuat bagi saudaraku yang paling hina ini, itu kau perbuat untuk Aku. Demikian yang tidak kau perbuat bagi saudaraku yang paling hina ini, itu tidak kau buat untuk Aku. Selamat Pesta Kristus Raja Semesta Alam.

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini