Renungan Minggu, 29 Oktober 2017; “Jebakan nda abis-abis”

0
1325

Hari Minggu Biasa XXX

Kel. 22.21-27; 1Tes. 5-10; Mat. 22:34-40

Bacaan Injil: Mat. 22:34-40 : Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Demikianlah Injil Tuhan.

 

Renungan: “Jebakan nda abis-abis”

Masih belum bisa terhapus dari ingatan ketika orang-orang Kristen di Irak dan Siria berteriak minta tolong karena dianiaya dan terusir dari tanah mereka, dunia tersentak: di jaman moderen ini masih ada sekelompok orang yang mau memperkosa, menganiaya, memaksakan kehendak bahkan membunuh atas nama agama. Nama Tuhan diserukan ketika pedang dan pisau dipakai untuk menumpahkan darah, nama Tuhan dengan nyaring diteriakkan berulang-ulang ketika tubuh manusia jatuh ke tanah kehilangan nyawa, nama Tuhan semakin lantang diserukan ketika tempat ibadah orang lain berhasil dirusak dibakar. Benarkah Tuhan memerintahkan demikian?.

            Penafsiran yang tidak seimbang dan keliru atas cinta kasih memang bisa membutakan hati nurani. Ketimpangan atas penafsiran hukum cinta kasih kepada Allah justru akan membawa kehancuran. Dalam Injil hari ini Yesus mau menyeimbangkan isi dari Hukum yang Terbesar, yaitu Cinta Kasih. Bagi Yesus keluhuran cinta kasih kepada Tuhan hanya bisa terwujud dalam praktek cinta kasih kepada sesama. Yesus mau meluruskan praktek yang keliru pada jaman itu: orang Farisi yang begitu menekankan kemahabesaran Allah sampai melupakan sesama yang ada di sekitar mereka. Allah yang akbar, agung, mulia, jauh dan tak tersentuh harus disenangkan dengan segala macam cara, sedangkan sesama yang justru ada di dekat tidak mereka perhitungkan sama sekali. Inilah ketimpangan yang hendak diluruskan oleh Yesus. Kasih terhadap sesama yang ada di sekitar harus menjadi bukti pernyataan cinta kepada Tuhan. Yesus menegaskan perintah baru ini bukan dengan mengulangi rumusan negatif “Jangan ini, jangan itu …..!”, tetapi Yesus justru mengganti rumusannya dengan rumusan positif “Kasihilah Tuhan Allahmu, kasihilah sesamamu !”

Sampai saat ini gereja tidak pernah lelah menyuarakan upaya penegakan keadilan. Keadilan dicari dan diupayakan agar dinikmati oleh setiap insan, namun keadilan itu harus didapatkan dengan cara-cara yang manusiawi tanpa melupakan unsur cinta kasih. Keadilan tidak pernah ada tanpa cinta kasih. Hak-hak asasi sesama manusia haruslah mendapat tempat secara istimewa dalam mempraktekkan isi ajaran agama apapun, jangan sampai upaya mempraktekkan ajaran agama tertentu justru menjadi alasan untuk mendatangkan kebinasaan bagi kelompok agama lain. Dialog terus diupayakan, upaya damai terus dicari, dan toleransi tetap dijunjung tinggi. Gereja selalu menolak penyelesaian masalah dengan perang yang menyengsarakan banyak orang, Gereja selalu menentang  kebijakan ekonomi dan politik yang justru menyengsarakan rakyat banyak, Gereja tidak pernah setuju dengan tindakan terror yang membawa nama agama. Orang beragama tidak seharusnya menjadi penyebab kesengsaraan sesama meskipun sesama itu tidak seagama.

Dalam bacaan pertama, praktek cinta kasih dua arah: Tuhan – sesama sudah menjadi perhatian para nabi di saat itu. Kegoncangan ekonomi yang terjadi pada abad ke delapan sebelum masehi ternyata berakibat fatal bagi kelangsungan hidup masyarakat di jaman nabi. Orang-orang asing dan kaum kecil seperti para janda dan yatim pasti tidak dapat bertahan untuk sekedar mempertahankan hidup sedikit lebih lama. Situasi terlalu sulit sedangkan tak seorangpun menjadi risau atas situasi yang mengancam tersebut, apalagi mau membantu. Muncullah suara para nabi yang tanggap atas situasi berat itu. Jika orang yang mengaku beriman tidak peduli dengan situasi ini, maka menurut nabi, murka Allah akan datang menimpa mereka. Seharusnya tidak boleh ada orang beriman yang diam atas kegelisahan sesamanya, tidak boleh ada orang beriman yang tertawa atas kemalangan sesamanya, dan tidak boleh ada orang beriman yang menjadi penyebab dari kesusahan sesamanya. Wujud keberimanan kepada Tuhan harus menjadi nyata kepada sesama, terlebih yang membutuhkan pertolongan. Kasih itu seharusnya mengalir dari dalam diri seseorang yang dalam dirinya sendiri berdiamlah Allah sang sumber kasih itu.

P. Sefry Topit, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini