Renungan Sabtu, 25 November: “Katanya; Kawin dan dikawinkan?”

0
1693

Sabtu Pekan Biasa XXXIII

Bacaan Pertama: 1Mak 6:1-13; Karena segala kejahatan yang kuperbuat terhadap Yerusalem, maka aku sekarang mati dalam kepedihan yang besar.

Pembacaan dari Kitab Pertama Makabe:

Pada waktu itu Raja Antiokhus menjelajahi wilayah pegunungan Persia. Didengarnya kabar bahwa Elimais, sebuah kota di negeri Persia, termasyhur karena kekayaan perak dan emas. Lagi pula di kota itu ada sebuah kuil yang sangat kaya, karena di sana disimpan alat-alat perang emas, serta baju baja dan senjata yang ditinggalkan Aleksander, putera Filipus, raja Makedonia, yang mula-mula menjadi raja atas orang-orang Yunani.Maka Antiokhus pergi ke sana dan berusaha merebut kota itu serta menjarahnya. Tetapi ia tidak berhasil karena maksudnya ketahuan oleh penduduk kota itu.

Mereka memberikan perlawanan kepada raja, sehingga ia melarikan diri dari situ dan dengan meyesal mau kembali ke kota Babel. Kemudian datanglah seseorang ke daerah Persia memberitahu raja, bahwa bala tentaranya yang memasuki negeri Yudea sudah dipukul mundur. Khususnya Lisias yang berperang dengan bala tentara yang kuat telah dipukul mundur oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi itu bertambah kuat karena senjata, pasukan dan banyak barang rampasan yang mereka peroleh dari tentara yang sudah mereka kalahkan. Mereka telah membongkar juga patung berhala yang didirikan oleh raja di atas mezbah di Yerusalem. Mereka telah memagari bait suci dengan tembok-tembok yang tinggi seperti dahulu. Demikian pula halnya dengan Bet-Zur, salah satu kota raja. Mendengar berita itu maka tercenganglah raja dan sangat kacau pikirannya. Ia merebahkan diri di ranjang dan jatuh sakit karena sakit hati. Sebab semuanya tidak terjadi sebagaimana diinginkannya.

Berhari-hari raja berbaring di ranjangnya dan terus-menerus dihinggapi kemurungan besar. Ketika merasa akan meninggal dipanggilnya semua sahabatnya lalu dikatakannya kepada mereka, “Tidur sudah lenyap dari mataku dan hatiku hancur karena kemasygulan. Maka dalam hati aku berkata: Betapa besar keimpitan dan kemalangan yang menimpa diriku sekarang ini! Padahal aku ini selalu murah hati dan tercinta dalam kekuasaanku!Tetapi teringatlah aku sekarang akan segala kejahatan yang telah kuperbuat terhadap Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh menumpas penduduk Yerusalem dengan sewenang-wenang.Sekarang aku menjadi insaf bahwa semuanya itulah sebabnya aku ditimpa malapetaka ini. Sungguh aku sekarang jatuh binasa di negeri yang asing dengan amat sedih hati.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 9:2-3.4.6.16b.19: Ya Tuhan, aku bergembira atas kemenangan-Mu.

  • Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi.
  • Sebab musuhku telah mundur, tersandung jatuh, dan binasa di hadapan-Mu. Engkau menghardik bangsa-bangsa, dan telah membinasakan orang-orang fasik; nama mereka telah Kauhapuskan untuk seterusnya dan selama-lamanya;
  • Kakinya tertangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri. Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.

Bait Pengantar Injil: 2Tim 1:10b: Juruselamat kita Yesus Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Bacaan Injil: Luk 20:27-40; Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Lukas:

Pada suatu ketika datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, Musa menuliskan untuk kita perintah ini: ‘Jika seorang yang mempunyai saudara laki-laki mati meninggalkan isteri tetapi tidak meninggalkan anak, maka saudaranya harus kawin dengan wanita itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya.’ Ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang wanita lalu mati tanpa meninggalkan anak. Lalu wanita itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga, dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu. Mereka semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati.Bagaimana sekarang dengan wanita itu? Siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.”

Berkatalah Yesus kepada mereka, “Orang dunia ini kawin dan dikawinkan,tetapi orang yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati tidak kawin dan tidak dikawinkan.Sebab mereka tidak dapat mati lagi. Mereka sama dengan malaikat-malaikat dan menjadi anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.

Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, karena di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.”Maka mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan: Katanya; Kawin dan dikawinkan?

Dalam kehidupan kita selama ini, Apakah kita sungguh mengimani bahwa semua orang akan dibangkitkan dari kematian? Baguslah kalau kita punya kepercayaan sedemikian. Orang-orang Saduki, yang adalah sekelompok pemimpin agama dari kalangan atas pada zaman Yesus, tidak percaya pada kebangkitan tubuh orang mati untuk mendapatkan hidup yang kekal. Masalah terbesar mereka adalah menyamakan apa yang ada di bumi dengan di surga, begitupun mengenai kawin-dikawinkan.

Ada kebiasaan zaman perjanjian lama yakni hukum perkawinan levirat yang menyatakan: “Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar” (Ul. 25:5). Tujuan ditetapkan hukum perkawinan levirat adalah mempertahankan nama almarhum melalui keturunan, sehingga anak sulung yang dilahirkan dari perkawinan ipar tersebut harus dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu.

Dalam konteks orang-orang Yahudi, kasus hukum perkawinan levirat tersebut digunakan oleh orang-orang Saduki untuk meruntuhkan argumentasi teologis tentang kebangkitan orang mati. Sebab setelah tujuh orang pria yang telah mengawini seorang wanita, bagaimana status hubungan mereka di sorga setelah mereka semuanya mati. Tuhan Yesus menjawab bahwa saat mereka dianggap layak untuk hidup dalam kebangkitan orang mati, mereka tidak kawin dan dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti para malaikat dan mereka hidup sebagai “anak-anak Allah” sebab mereka telah dibangkitkan.

Tanggapan dan Jawaban Tuhan Yesus tersebut merupakan suatu penegasan bahwa setelah kehidupan di dunia ini, kehidupan umat manusia khususnya umat yang dianggap layak oleh Allah tidak akan berakhir. Sebaliknya kehidupan yang dibangkitkan merupakan kehidupan yang dipenuhi oleh kemuliaan Allah dan tidak lagi dipengaruhi oleh hawa-nafsu sebagaimana mereka hidup di dunia. Penting bagi kita bukan soal kawin dan dikawinkan tetapi bagaimana seluruh hidup kita menjadi sebuah kehormatan dan pujian bagi kemuliaan Allah karena apa yang kita buat dan tunjukkan setiap hari menandakan bahwa kita putra dan putri terkasih Bapa. Apa yang kita buat menjadikan kita layak dan pantas dihadapan sesama dan Allah sendiri. Mari kita berusaha untuk itu.

Penulis Renungan
Pst. Melky Malingkas, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini