Renungan Selasa, 10 April 2018: “Lahir Baru”

0
303
Dilahirkan secara baru
Gambar Ilustrasi Dilahirkan Kembali

Selasa, 10 April 2018

Hari Biasa Pekan Paskah II

 

Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mereka sehati dan sejiwa.

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Kumpulan orang yang telah percaya akan Yesus sehati dan sejiwa. Dan tidak seorang pun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

Di antara mereka tidak ada seorang pun yang berkekurangan. Karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu,  dan hasil penjualan itu mereka bawa

dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mazmur: Mzm 93:1ab.1c-2.5; Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan!

  • Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, dan kekuatanlah ikat pinggang-Nya.
  • Sungguh, telah tegaklah dunia, tidak goyah! takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.
  • Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu berhias kekudusan, ya Tuhan sepanjang masa.

 

Bait Pengantar Injil: Yoh 3:15; Anak manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Bacaan Injil: Yoh 3:7-15; Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Dalam percakapannya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Janganlah engkau heran karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau; engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

Nikodemus menjawab, katanya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui, dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Renungan: “Lahir Baru

Kutipan Injil Yohanes pasal 3 yang kita renungkan, adalah percakapan Yesus dengan Nikodemus, seorang Farisi yang terpelajar dan pemimpin agama Yahudi. Dia datang pada Yesus pada malam hari untuk mengetahui lebih jauh mengenai diri Yesus, yang dilihatnya mengadakan tanda2 dan mujizat2 yang tidak bisa dilakukan manusia biasa. Yesus kemudian mengajak Nikodemus untuk masuk lebih jauh dan lebih dalam, tentang rancangan Allah untuk keselamatan umat manusia.

Yesus menyampaikan pada Nicodemus pertama mengenai realitas Allah Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Manusia diundang untuk masuk dalam reaitas Trinitas ini. Caranya adalah dengan: dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus, menjadi ciptaan baru. Sebagai seorang Farisi yang paham mengenai Kitab Kejadian, Yesus mengingatkan Nikodemus mengenai awal penciptaan dunia, ketika Roh Allah melayang-layang dibatas air, dan mulailah Allah mencipta.  Akan tetapi, penciptaan dalam arti lahir sebagai manusia di bumi, tidaklah cukup untuk sampai pada realitas yang jauh lebih mulia dari realitas ciptaan, yakni realitas ilahi. Itulah realitas di mana Allah Tritunggal bersatu dengan ciptaan, melalui inisiasi. Suatu sakramen di mana seorang masuk dalam kesatuan dengan Allah Tritunggal, yang kita imani sebagai pembaptisan. Dengan lahir kembali dalam pembaptisan, kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Kita bukan lagi hanya anak-anak dunia, anak dari orang tua kita, tapi kita diangkat menjadi anak Allah. Kita menjadi saudara Yesus, dan Roh Kudus, tinggal dalam diri kita.

Dengan demikian kita menjadi ciptaan baru, menjadi anak Allah yang diselamatkan oleh Yesus dari dosa-dosa. Kita mati bersama Yesus dan serentak bangkit bersama Dia. Roh Yesus, itulah Roh Kudus diam dalam hati kita, dan menuntun suara hati kita untuk beriman pada Yesus, percaya dan berserah pada rangkulan kasih Yesus dan bersama Yesus kita berseru “Abba ya Bapa” kepada Allah yang mahakuasa dan mahabesar. Allah menjadi Bapa kita, dan kita menjadi anakNya. Kita mendapatkan keluarga baru: keluarga Allah.

Maka hidup kita tidak hanya terbatas di dunia ini, tapi juga dalam hidup yang kekal. Meterai baptisan kita, kita bawa terus sampai saatnya Yesus memanggil kita untuk tinggal bersamaNya dalam rumah Bapa. Marilah saudara kita ikut melebarkan Kerajaan Allah, menambah terus baptisan baru, agar semua orang diselamatkan dalam Yesus.  Sambil tentu saja, kita terus berjuang untuk hidup sesuai dengan martabat kita sebagai anak-anak Allah, anak-anak terang. Semoga Roh Kudus Allah terus menjaga dan menuntun kita. Amin.

P. Revi Tanod, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini