Renungan Selasa, 12 Juni 2018: “Menyadari Garam dan Terang di Sekitarku”

0
222

Selasa, 12 Juni 2018

Hari Biasa, Pekan Biasa X

Bacaan Pertama: 1Raj 17:7-16; Tempat tepungnya tak pernah kosong sesuai dengan sabda Tuhan yang diucapkan Nabi Elia.

Pembacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja:

Pada waktu itu Sungai Kerit menjadi kering, sebab hujan tiada turun-turun di negeri itu. Maka datanglah sabda Tuhan kepada Elia, “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.” Maka Elia pun bersiap-siap, lalu pergi ke Sarfat. Ketika ia tiba di dekat gerbang kota, tampaklah seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Elia berseru kepada perempuan itu, “Cobalah, ambilkan daku sedikit air dalam kendi untuk kuminum.” Ketika wanita itu pergi mengambil air, Elia berseru lagi, “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.”Wanita itu menjawab, “Demi Tuhan Allahmu yang hidup, sesungguhnya tiada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Tetapi Elia berkata kepadanya, “Janganlah takut, pulanglah, dan buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil daripadanya, dan bawalah kepadaku; kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah sabda Tuhan Allah Israel, “Tepung dalam tempayan itu takkan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun takkan berkurang sampai tiba waktunya Tuhan menurunkan hujan ke atas muka bumi.”

Maka pergilah wanita itu, berbuat seperti yang dikatakan Elia. Maka Elia, wanita itu dan anaknya mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang sesuai sabda Tuhan yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mazmur: Mzm 4:2-3.4-5.7-8; Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan.

  • Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah yang membenarkan daku. Engkau memberi kelegaan kepadaku di saat kesesakan; kasihanilah aku, dan dengarkanlah doaku! Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan?

 

  • Ketahuilah, Tuhan telah memilih bagi-Nya seorang yang Ia kasihi; apabila aku berseru kepada-Nya, Ia mendengarkan. Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hati di tempat tidurmu, tetapi tetaplah tenang.

 

  • Banyak orang berkata, “Siapa akan memperlihatkan yang baik kepada kita? Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan! Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak daripada yang mereka berikan, di saat mereka kelimpahan gandum dan anggur.

 

Bait Pengantar Injil: Mat 5:16; Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapamu yang di surga.

 

Bacaan Injil: Mat 5:13-16; Kalian ini cahaya dunia.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda,”Kalian ini garam dunia.  Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan? Tiada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak orang. Kalian ini cahaya dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan: “Menyadari Garam dan Terang di Sekitarku

Seringkali dalam hidup ini, kita nanti menyadari betapa kita telah kehilangan seseorang yang sangat berarti ketika ia telah tiada. Saat itulah kita menangis tersedu dan mulai mengingat semua kebaikannya semasa hidupnya. Padahal semasa ia masih ada, seakan sulit melihat apa yang baik, yang berarti, bahkan yang luar biasa dalam dirinya. Atau bisa saja, nanti ketika ada orang lain yang datang menceritakan kebaikannya kepada kita, barulah kita tersadar betapa dia begitu berarti dan membanggakan. Merekalah orang tua kita. Teman-teman yang setia, pasangan hidup.

Dalam Injil hari ini, Yesus meminta kita menjadi garam dan terang dunia. Akan tetapi mari sebelumnya kita mencoba menyadari siapakah yang telah menjadi garam dan terang hidupku? Siapakah yang telah membuat hidupku penuh cita rasa yang berarti? Siapakah yang telah menerangi hidupku?

Mari kita berterimakasih kepada Tuhan, atas kedua orang tuaku. Atas guru-guru yang telah mendidikku dan menjadikanku garam dan terang. Atas pasangan hidupku yang telah setia menemani aku. Kita berterimakasih kepada Tuhan atas kesaksian hidup para biarawan-biarawati, para imam, para pelayan dan hamba-hamba Tuhan. Semua orang yang telah menjadi bagian dari hidupku.

Trimakasih atas inspirasi kehidupan yang telah mereka bagikan. Kini giliranku untuk terus menjadi garam dan terang di sekitarku. Trimakasih Tuhan atas orang-orang yang telah menjadi garam dan terang hidupku atas caranya masing-masing. Semoga akupun dapat terus  menjadi garam dan terang di sekitarku. Semoga aku tetap setia melakukan kebaikan-kebaikan. Semoga namaMu ya Tuhan dipuji dan dipuja karena karya kasih kami, putra-putriMu.

Dimuliakanlah namaMu ya Tuhan, kini dan sepanjang masa. Amin.

P. Revi Tanod, pr

Dengarkan versi audio dari renungan harian ini di website Radio Montini pada link gambar berikut ini:

 

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini