Renungan Selasa, 13 Maret 2018: “Menjadi Alat Penyembuhan Tuhan”

0
476

Selasa, 13 Maret 2018

Hari Biasa Pekan Prapaskah IV

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-9.12; Saya melihat air mengalir dari dalam Bait Suci;ke mana saja air itu mengalir, semua yang ada di sana hidup.

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Kata nabi: Seorang malaikat membawa aku ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci, itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; Air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci, sebelah selatan mezbah. Lalu malaikat itu menuntun aku ke luar melalui pintu gerbang utara, dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang yang menghadap ke timur. Sungguh, air itu membual dari sebelah selatan. Lalu malaikat itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya. Ia mengukur seribu hasta, dan menyuruh aku masuk dalam air itu; dalamnya sampai di pergelangan kaki. Ia mengukur seribu hasta lagi, dan menyuruh aku masuk sekali lagi dalam air itu; sekarang sudah sampai di lutut. Kemudian ia mengukur seribu hasta lagi, dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke dalam air itu; sekarang sudah sampai di pinggang. Sekali lagi ia mengukur seribu hasta, dan sekarang air itu sudah menjadi sungai di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang; suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi.

Lalu malaikat itu berkata kepadaku, “Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia?” Kemudian ia membawa aku kembali menyusur tepi sungai itu. Dalam perjalanan pulang, sungguh, sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana. Malaikat itu berkata kepadaku,  “Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin,  maka air laut yang mengandung banyak garam itu menjadi tawar. Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk yang berkeriapan di dalamnya akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar, dan ke mana saja sungai itu mengalir, semua yang ada di sana hidup.

Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis.Tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 46:2-3.5-6.8-9; Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah = Yakub.

  • Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut.
  • Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.
  • Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan, yang mengadakan pemusnahan di bumi.

Bait Pengantar Injil: Mzm 51:12a.14a; Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu.

 

Bacaan Injil: Yoh 5:1-16; Orang itu disembuhkan seketika.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Pada hari raya orang Yahudi, Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem, dekat Pintu Gerbang Domba, ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; serambinya ada lima, dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit.

Ada di situ seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di sana, dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya, “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu, apabila airnya mulai goncang; dan sementara aku sendiri menuju kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.

Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, “Hari ini hari Sabat, dan tidak boleh engkau memikul tilammu.” Akan tetapi ia menjawab mereka, “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Mereka bertanya kepadanya, “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?” Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu,  sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian ketika bertemu dengan dia dalam Bait Allah, Yesus berkata kepadanya, “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan: “Menjadi alat penyembuhan Tuhan”

Saudaraku terkasih.Kisah penyembuhan di kolam Betesda adalah sebuah kisah yang membuat hati pilu tapi di pihak lain mengharukan. Pilu hati kita mendengar bahwa orang yang sakit, dalam hal ini cacat, sudah 38 tahun menanti kesempatan untuk menyentuh air di kolam Betesda, tapi tidak bisa karena tak ada satupun orang yang membantunya untuk sampai ke kolam. Betapa mengharukan ketika Yesus datang ke kolam Betesda dan menawarkan kesembuhan pada si sakit ini. Akhirnya setelah 38 tahun menanti, ada orang yang peduli.

Saudaraku, apakah peristiwa seperti ini masih terjadi? Jawabnya: ya! Memang bukan lagi di kolam Betesda, tapi di banyak tempat, di mana orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri, dan tak pernah mengulurkan tangan membantu orang yang susah dan sakit.

Semoga kita bisa menjadi salah satu dari orang-orang yang peduli. Marilah kita menjadi bagian dari alat penyembuhan Tuhan melalui uluran tangan kita. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa tugas Gereja bukan terlebih untuk membuat pernyataan-pernyataan moral dan dogmatis, melainkan terutama untuk menyembuhkan dan menghangatkan hati begitu banyak orang yang terluka dan memerlukan kasih sayang sesamanya.

Ya Yesus, jadikan aku alatMu untuk membawa sesamaku kepada kesembuhan. Janganlah membiarkan, karena kelalaianku, anggota keluargaku, sesamaku, merasa diabaikan, tak diperhatikan dan terluka. Jadikanlah aku ya Yesus alat kesembuhanMu. Amin.

P. Revi Tanod, pr

 

Dengarkan versi audio dari renungan harian ini di website Radio Montini pada link gambar berikut ini:

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini