Renungan Selasa, 17 April 2018: “Lapar dan Haus akan Tuhan”

0
421

Selasa, 17 April 2018

Hari Biasa Pekan Paskah III

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a: Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Di hadapan sidang Mahkamah Agama Yahudi Stefanus berkata kepada Imam Besar, para penatua dan ahli Taurat, “Hai orang-orang yang keras kepala, yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus; sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang telah menubuatkan kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh. Kita telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, tetapi kamu tidak menurutinya!”

Mendengar semuanya itu, para anggota Mahkamah Agama sangat tertusuk hatinya. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.

Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit; ia melihat kemuliaan Allah, dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Maka katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka, dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”

Maka berteriak-teriaklah mereka, dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus. Sementara dilempari batu, Stefanus berdoa, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut Stefanus berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah Stefanus.Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 31:3c-4.6ab.7b.8a.17.21ab; Ke dalam tangan-Mu, Tuhan, kuserahkan nyawaku.

  • Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung, dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku; oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
  • Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku; Sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia. Tetapi aku percaya kepada Tuhan, aku akan bersorak-sorai dan bersukacita karena kasih setia-Mu.
  • Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu! Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Mu terhadap persekongkolan orang-orang.

Bait Pengantar Injil: Yoh 6:35; Akulah roti hidup, sabda Tuhan; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.

Bacaan Injil: Yoh 6:30-35: Bukan Musa yang memberi kamu roti dari surga, melainkan Bapa Kulah yang memberi kamu roti yang benar dari surga.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Di rumah ibadat di Kapernaum orang banyak berkata kepada Yesus, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”

Maka kata Yesus kepada mereka “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.”

Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi,  dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

Demikanlah sabda Tuhan.

 

Renungan: “Lapar dan haus akan Tuhan

Sebagai makhluk hidup kita butuh makan dan minum agar tetap hidup. Ketika lapar dan haus datang, kita mencari makan dan minum. Ini suatu gerakan alami yang setiap hari terjadi dalam hidup kita.

Setelah makan dan minum kita merasa kenyang dan selesailah sudah panggilan alam ini.  Pertanyaannya: apakah hidup kita cukup sampai pada makan dan minum? Menurut Abraham Maslow, makan minum adalah pemenuhan kebutuhan dasar tapi tahap awal. Kita perlu memenuhi kebutuhan emosional, kasih sayang, rasa aman, rasa dicintai. Kita juga butuh mengungkapkan diri dan menjadi seperti yang kita ingini. Ini yang tertinggi menurut Maslow, yakni aktualisasi diri.

Apakah hanya sampai di sini? Santo Agustinus berkata: Jiwaku haus akan Allah, dan tidak akan tenang, sebelum beristirahat dalam Allah. Dengan ungkapan ini, Santo Agustinus, sebagaimana juga penulis Mazmur, menyadari ada satu kebutuhan yang tak terpisahkan dalam hidup manusia, ialah kebutuhan jiwa kita akan Tuhan. Sebagaimana tubuh kita merasa lapar dan haus akan makan dan minum, demikian juga, jiwa kita akan terus merasa lapar dan haus akan Tuhan.

Bila lapar dan dahaga kita akan Tuhan terpuaskan, maka kita akan seimbang dalam pertumbuhan jasmani dan rohani. Puji Tuhan, Yesus mau menjadi santapan jiwa kita. Kata Yesus, Akulah roti yang turun dari surga. Barangsiapa makan roti ini, ia tidak akan lapar lagi. Dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.

Saudaraku, mari kita terus merindukan Tuhan, makan dan minum sehidangan dengan Tuhan dalam ekaristi, dan selalu merindukan kehadirannya dan berjalan bersama Yesus. Kehadiran dan berkatNya selalu menyertai kita. Amin.

P. Revi Tanod, pr

Dengarkan versi audio dari renungan harian ini di website Radio Montini pada link gambar berikut ini:

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini