Renungan Selasa, 2 Januari : Integritas dan Kerendahan Hati: Belajar dari Yohanes Pembaptis

0
1364

02 Januari 2018

Hari Biasa Masa Natal

PW S. Basilius Agung dan S. Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja

 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:22-28; Apa yang telah kamu dengar harus tetap tinggal di dalam dirimu.

Pembacaan dari Surat pertama Rasul Yohanes:

Anak-anakku terkasih,barangsiapa menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus, dia itu seorang pendusta!Dan barangsiapa menyangkal baik Bapa maupun Anak,dia itu adalah antikristus. Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengakui Anak, ia juga memiliki Bapa.Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari semula, itu harus tetap tinggal di dalam dirimu.

Jika apa yang telah kamu dengar dari semula itu tetap tinggal di dalam dirimu,  maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

Semua ini kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu.Sebab di dalam dirimu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Yesus. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan Yesus mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 98:1.2-3b.3c-4; Segala ujung bumi telah melihat keselamatan  yang datang dari Allah kita.

  • Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
  • Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang dari pada-Nya.Ia telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa.Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel.
  • Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!

Bait Pengantar Injil: Ibr 1:1-2; Dahulu kala dengan pelbagai cara Allah berbicara kepada leluhur kita dengan perantaraan para nabi; pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya.

Bacaan Injil: Yoh 1:19-28; Sesudah aku akan datang Dia yang sudah ada sebelum aku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus kepadanyabeberapa imam dan orang-orang Lewi untuk menanyakan kepadanya, “Siapakah engkau?”Yohanes mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias!”Lalu mereka bertanya kepadanya,”Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Yohanes menjawab: “Bukan!””Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!”Maka kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?”Jawab Yohanes, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhanseperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Mengapa engkau membaptisjikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?”Yohanes menjawab kepada mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Hal ini terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis orang.

Demikianlah sabda Tuhan.

Integritas dan Kerendahan Hati:

Belajar dari Yohanes Pembaptis.

Sejauh yang saya ketahui, secara kekerabatan, Yohanes masih punya hubungan keluarga dengan Yesus. Dari segi usia Yohanes lebih senior dari Yesus. Akan tetapi Yohanes tidak pernah merasa lebih tinggi dari Yesus. Bahkan dengan penuh kerendahan hati Yohanes berkata bahwa membuka tali kasut Yesuspun, dia tidak layak. Yohanes tetap menempatkan diri sebagai utusan Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus. Dia bukan datang untuk mencari popularitas bagi dirinya sendiri. Yohanes menempatkan misinya untuk persiapan bagi orang Israel agar dapat menerima Yesus sebagai Mesias, adalah sebagai prioritas utamanya. Dengan penuh kerendahan hati Yohanes berkata, “Biarlah Dia semakin besar dan aku semakin kecil”.

Saudaraku, hukum dunia yang kita bawa sejak kecil, justru terbalik. Kita ingin lebih besar dan biarlah yang lain menjadi lebih kecil. Dengan demikian kita dianggap lebih hebat, lebih jago, lebih berkuasa, dan berbagai “lebih” lainnya.

Hari ini kita baru saja memasuki hari ke 2 di tahun yang baru, 2018. Kiranya teladan Yohanes menjadi contoh bagi kita untuk melihat maksud perjalanan hidup kita di Tahun yang baru ini. Tentu saja kita diperkenankan Tuhan memasuki dan mengalami tahun yang baru untuk maksud Tuhan dan bukan semata untuk maksud kita sendiri. Kita hidup untuk tujuan Tuhan: mencintai Tuhan dengan segenap hati dan mencintai sesama manusia seperti diri sendiri.

Ada banyak pekerjaan yang harus kita lakukan, maka kita melakukannya karena cinta terhadap Tuhan, maupun terhadap sesama, yang terdampak dari pekerjaan kita. Ada banyak relasi yang mesti kita jalin agar kasih dan kesetiaan Tuhan ikut dirasakan secara konkrit oleh orang-orang yang menjadi bagian dalam perjalanan hidup kita. Ada tanggungjawab pribadi untuk mengembangkan relasi dengan Tuhan, agar sungguh beriman padaNya dan menjadi saksi iman kepada orang lain.

Yohanes Pembaptis memberi teladan, apa artinya hidup dengan tujuan Tuhan, dan memberi prioritas pada kehendak Tuhan daripada keinginan diri sendiri. Usia Yohanes tidak panjang, karena ia mati sebagai martir yang membela kebenaran. Namun namanya abadi dan hidupnya tetap lestari sebagai utusan Allah yang penuh integritas dan penuh kerendahan hati.

Pertanyaan refleksif: bila hidup kita berakhir di Tahun ini, apa yang orang bisa kenang dari kita? Resolusi apa yang bisa kita tetapkan membangun integritas diri dan serentak terap penuh kerendahan hati?

Santu Yohanes Pembaptis, bantulah kami dengan doamu dari surga agar kami tetap setia pada tugas perutusan kami dan dengan penuh kerendahan hati berbakti pada Tuhan, mengutamakan orang lain, dan mengakui keterbatasan kami dan hanya mengandalkan Tuhan sumber kekuatan kami. Amin.

penulis renungan
Pst. Revi Tanod, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini