Renungan, Selasa, 31 Oktober: Melihat yang besar di balik yang kecil

0
522

Selasa Pekan Biasa XXX: Bacaan 1 : Rm. 8:18-25; Mazmur : Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6 Injil : Luk. 13:18-21

Bacaan Pertama: Rm. 8:18-25
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.

Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Demikianlah sabda Tuhan.

Bacaan Injil
Luk : Luk. 13:18-21
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Maka kata Yesus: “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.” Dan Ia berkata lagi: “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

 

Renungan: “Melihat yang besar di balik yang kecil”

Mengumpamakan hal yang luar biasa besar, hebat, bahkan agung, dengan suatu hal yang kecil dan sederhana, bukanlah untuk mengecilkan hal yang agung itu, tapi membuatnya terjangkau oleh pemahaman sederhana manusia. Kita tahu bersama bahwa semua benih/biji pasti jauh lebih kecil dari tanamannya. Tentu bukan kebetulan Yesus mengambil perumpamaan dari biji sesawi yang sangat kecil. Akan tetapi untuk membantu cara pandang kita mengenai kekuatan atau daya yang luar biasa yang ada di balik pertumbuhan benih yang kecil itu. Yesus mengajari kita untuk tidak berhenti pada realitas yang tertangkap oleh mata, tapi melihat pekerjaan Allah yang agung di balik apa yang kecil dan sederhana.

Di balik biji sesawi yang kecil, terkandung Kerajaan Allah yang maha agung dan mulia.  Di balik ragi yang sedikit dan sederhana, terkandung daya kebesaran Allah yang mampu mengubah realita dari yang kecil menjadi besar. Dengan kata lain, di balik apa yang kecil dan sederhana ini, kita bisa melihat kebesaran Allah yang luar biasa mengagumkan. Lihatlah kandang hina Betlehem. Dari sanalah cahaya keselamatan memancar ke seluruh dunia.

Lihatlah salib yang hina dan cemar. Dari sanalah datang keselamatan oleh salib dan pengorbanan Yesus. Apa yang bisa kita petik dari perumpamaan Yesus hari ini tentang biji sesawi dan ragi? Membandingkan  biji sesawi dengan KA tentu bukan pada bijinya yang kecil, tapi pada potensi pertumbuhannya. Demikian juga halnya dengan ragi. Bukan pada bentuk raginya, tapi pada potensinya untuk membuat adonan menjadi besar. Jadi fokus perhatian kita bukan pada bentuk biji sesawi, tapi pada kemampuannya untuk bertumbuh dan menjadi yang sesungguhnya. Biji yang kecil itu akan menjadi pohon yang besar dan kuat.

Ragi yang tak seberapa banyaknya, akan membuat adonan menjadi membesar. Orang manado bilang menjadi: reis. Naik, meningkat. Bahasa Inggrisnya: Raise up. Mungkin masih ingat lagunya George Groban: You raise me up. Engkau mengangkatku. Nah seperti itulah maksudnya. Perumpamaan Yesus tentang biji sesawi kiranya memperkuat iman kita akan Penyelenggaraan Ilahi, atau kemahakuasaan Allah. Bahwa apa yang kelihatannya kecil dan sederhana, bila ditempatkan dalam tangan Tuhan, atau dalam konteks penyelenggaraan Tuhan, maka dia akan menjadi besar, sarat makna dan akan sampai pada kepenuhannya.

Ingat kata Yesus, bahwa bila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kita dapat memindahkan gunung…waaw!Itu berarti bahwa bila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi, luar biasa kekuatan ilahi yang diberikan Tuhan bagi kita. Kita dapat melihat di balik kelemahan manusiawi kita, tersimpan sebuah daya ilahi yang maha dahsyat untuk mendatangkan kebaikan dan berkat yang melimpah. Tapi ini tentu tidak berlaku secara otomatis. Rahmat iman yang kita terima dari Tuhan perlu terus kita kembangkan. Sama seperti biji sesawi yang perlu ditanam di tanah yang subur. Perlu dirawat dan diperhatikan. Disiram, dipupuk dan dibersihkan, agar tumbuh menjadi pohon yang besar. Demikian juga halnya dengan iman kita.

Kita perlu latihan rohani dalam bentuk doa dan ucapan syukur. Memperdalam relasi kita dengan Tuhan. Kita perlu membaca Kitab Suci, dan mendalaminya. Kita perlu menerima sakramen-sakramen, terutama Ekaristi. Kita perlu menjalin kebersamaan dalam komunitas, wilayah rohani dan paroki, agar kita tidak berjalan sendirian.

Lebih lanjut kita perlu melatih kesabaran dan penuh penyerahan diri kepada Tuhan. Dengan kata lain, kita perlu bersandar terus kepada Tuhan. Kita akan terus rajin menanam, rajin menyiram dan merawat, sambil seluruh pertumbuhannya kita serahkan pada Tuhan.

Ya Yesus, tambahkanlah selalu iman kami. Amin.

penulis renungan

P. Revi Tanod, pr

 

Dengarkan versi audio dari renungan ini di website Radio Montini pada link image berikut:

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini