Renungan, Senin, 30 Oktober: Dipermalukan Oleh Kebenaran

0
481

Senin Pekan Biasa XXX: Bacaan 1 : Rom 8:12-17; Mazmur : Mzm 68:2.4.6-7ab.20-21Injil : Luk 13:10-17

Bacaan Pertama: Rom 8:12-17
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara, kita ini orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab jika kalian hidup menurut daging, kalian akan mati.
Tetapi jika oleh Roh kalian mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, maka kalian akan hidup.

Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kalian menerima bukan roh perbudakan yang membuat kalian menjadi takut lagi, melainkan Roh yang menjadikan kalian anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Abba, ya Bapa.’

Roh itu memberi kesaksian bersama-sama roh kita, bahwa kita ini anak Allah.
Dan kalau kita ini anak, berarti juga ahliwaris, yakni ahliwaris Allah, sama seperti Kristus. Artinya jika kita menderita bersama dengan Dia, kita juga akan dipermuliakan bersama dengan Dia.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mzm 68:2.4.6-7ab.20-21; R:21a; Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan.

*Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya. Tetapi orang-orang benar bersukacita,  mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.

*Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia.

*Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan, Allah, Tuhanku, memberi keluputan dari maut.

Bait Pengantar Injil
Yoh 17:17b.a Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran; kuduskanlah kami dalam kebenaran.

Bacaan Injil
Luk 13:10-17
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada suatu hari Sabat Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat. Di situ ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh.  Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.

Ketika Yesus melihat wanita itu, dipanggil-Nyalah dia. Lalu Yesus berkata, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Kemudian wanita itu ditumpangi-Nya tangan, dan seketika itu juga ia berdiri tegak dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat itu gusar
karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Lalu ia berkata kepada orang banyak, “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.”

Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya, “Hai orang-orang munafik, bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat dan membawanya ke tempat minum? Nah, wanita ini sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis. Bukankah dia harus dilepaskan dari ikatannya itu karena dia keturunan Abraham?” Waktu Yesus berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu, sedangkan orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia yang telah dilakukan-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan: Dipermalukan Oleh Kebenaran

Kepala rumah ibadat, gusar, marah dan berusaha mempermalukan Yesus yang menyembuhkan seorang ibu yang sampai bungkuk dikuasai Roh Jahat selama 18 tahun. Ia bermaksud mempermalukan Yesus dan megguruinya dengan aturan-aturan Hari Sabat. Bahkan Iapun mengajari ibu yang sakit untuk tidak datang minta kesembuhan pada hari Sabat. Tetapi sikap, ajaran dan sabda Yesus adalah kebenaran. Tak ada kepalsuan di dalamnya. Tak ada motivasi egois dan tak ada maksud terselubung. Ia mengibarkan bendera kebenaran, menyampaikan kebenaran dan menjadi orang benar.

Orang seperti Yesus tak pernah dapat dipermalukan oleh apapun dan siapapun. Kebenaran memberiNya kuasa penuh untuk membuka wawasan para penjaga (kadang pengintai) hukum Taurat, terlebih soal menyembuhkan orang di Hari Sabat. Mereka menafsirkan secara sangat hurufiah aturan tentang Hari Sabat. Larangan untuk melakukan aktivitas lain pada Hari Sabat, kiranya dimaksudkan supaya orang fokus kepada Tuhan. Fokus kepada Tuhan tentu untuk mengalami sukacita dan kegembiraan ilahi. Karena itu mereka sungguh menjaga aturan dan larangan dengan menegakkan kepala menunjukkan kewenangannya.

Tetapi akhirnya mereka dipermalukan oleh Sang Kebenaran. Karena dengan menyembuhkan wanita yang kerasukan setan selama 18 tahun, Yesus justru membantu memberi suka cita dan kegembiraan kepadanya supaya ia boleh menegakkan kepala dan fokus kepada Tuhan. Apalagi memang Yesus menunjuk bahwa orang-orang Yahudi juga pergi memberi makan dan minum ternak mereka.

Saudaraku, kebenaran memang tak dapat dilawan. Apalagi dipermalukan. Orang benar tidak pernah dapat dipermalukan. Mungkin ada peristiwa ketika kita saksikan orang benar seolah dipermalukan oleh orang-orang tidak benar. Tetapi di hadapan Tuhan orang benar itu tidak dipermalukan. Dan ada saatnya nanti Sang kebenaran akan membuktikan dan atau berbalik mempermalukan mereka yang sudah mempermalukannya. Dan ini terjadi bukan karena si orang benar tetapi oleh kebenaran  itu sendiri. Karena kebenaran tidak pernah dapat dibelokkan selamanya. Ia sendiri akan mencari jalan untuk menyatakan dirinya.

Saudaraku, mari kita berjuang memiliki kebenaran dengan pertama-tama belajar dan berguru pada sang pemilik kebenaran itu sendiri: Yesus Kristus. Mari kita menegakkan kepala sambil melepaskan kungkungan Roh jahat yang kadang menanungi dan membebani kita sama seperti wanita yang disembukan Yesus. Mari datang kepadaNya supaya kita dibebaskan oleh plebagai tingkah laku yang diajarkan Roh Jahat.

pst. Steven Lalu, pr

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini