Renungan, Senin 6 November: Tanpa Pamrih

0
302
tanpa pamrih
Memberi tanpa pamrih

Senin Pekan Biasa XXXI

(Bacaan 1 : Rom 11:29-36; Mazmur : Mzm 69:30-31.33-34.36-37; Injil : Luk 14:12-14)

 

Bacaan Pertama: Rom 11:29-36: Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara, Allah tak pernah menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Dahulu kalian tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang kalian mendapatkan kemurahan karena orang-orang Israel tidak taat. Demikian pun sekarang mereka tidak taat, supaya memperoleh kemurahan berkat kemurahan yang telah kalian peroleh.  Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.Alangkah dalamnya kekayaan, kebijaksanaan dan pengetahuan Allah!Sungguh tak terselidiki keputusan-Nya, tak terselami jalan-jalan-Nya!

Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan Allah sesuatu,sehingga Allah wajib menggantinya? Sebab segala sesuatu berasal dari Allah. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mzm 69:30-31.33-34.36-37: R:14cd: Demi kasih setia-Nya yang besar jawablah aku, ya Tuhan.

*Aku ini tertindas dan kesakitan, keselamatan dari pada-Mu, ya Allah, kiranya melindungi aku! Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan lagu syukur;

*Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; biarlah hatimu hidup kembali, hai kamu yang mencari Allah!  Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya yang ada dalam tahanan.

*Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda,supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya; anak cucu hamba-hamba-Nya akan mewarisinya, dan orang-orang yang mencintai nama-Nya akan diam di situ.

 

Bait Pengantar Injil: Yoh 8:31b-32z; Jika kalian tetap dalam firman-Ku, kalian benar-benar murid-Ku, dan kalian akan mengetahui kebenaran.

 

Bacaan Injil: Luk 14:12-14: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Yesus bersabda kepada orang Farisi yang mengundang Dia makan,

“Bila engkau mengadakan perjamuan siang atau malam, janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu, atau tetangga-tetanggamu yang kaya,karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula,dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.

Tetapi bila engkau mengadakan perjamuan,  undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta.  Maka engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau.  Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

Demikianlah Injil Tuhan.

tanpa pamrih
Mari Memberi tanpa pamrih

Renungan: Tanpa Pamrih

Saudaraku, mengundang-diundang, memberi-diberi, membagi dan mendapat bagian adalah pengalaman keseharian yang sangat biasa dalam hidup relasional kita. Anda mengundang saya ke jamuan kasih dan ketika saya menggelar acara, sayapun akan mengingat-ingat orang-orang yang biasa mengundang saya sebagai bentuk balas budi dan balas jasa. Ada rasa malu kalau ketahuan tidak mengundang mereka yang biasa mengundang saya.  Demikianpun dengan memberi dan diberi serta membagi dan dibagi. Nada dasarnya adalah balas-membalas. Di luar itu kita sering membela diri dengan mengatakan: “Masakan saya harus mengundang satu kampung?”.

Saudaraku, Mungkin ada yang mulai protes ketika prinsip saling balas kebaikan dipersoalkan. Apa yang salah kalau saya mengundang orang yang pernah mengundang saya? Apa yang salah kalau saya memberi kepada orang yang pernah memberi kepada saya? Dan apa yang salah kalau saya saling berbagi dengan mereka yang juga punya semangat berbagi dengan saya dalam hidup sehari-hari? Jangan kuatir, tidak ada yang salah dan dipersalahkan. Inilah sikap realistis yang terjadi dalam praksis hidup kita.

Tetapi saudaraku, dalam Injil hari ini Yesus mengingatkan kita bahwa bersikap realistis atas dasar hukum balas-membalas atau kadang atas dasar hukum ekonomi ternyata tidak cukup sebagai orang beriman. Karena dasar hidup pengikut Yesus bukan sekedar prinsip saling membalas kebaikan, tetapi Kasih. Kasih memiliki tingkatan yang jauh lebih tinggi dan memiliki ukuran yang lebih dalam. Yesus tidak mempersoalkan tentang tindakanmu mengundang, memberi dan berbagi. Yesus mengumpamakan pesannya dalam kisah mengundang orang kaya atau orang miskin dalam perjamuan pesta.

Yesus menunjuk motivasi terdalam setiap tindak-tanduk kita. Dasarnya adalah ketulusan kasih kita. Mengasihi merujuk pada tindakan tulus tanpa pamrih. Mengasihi menunjuk pada perbuatan baik tanpa syarat, tanpa perhitungan untung-rugi dan tanpa dipengaruhi siapa yang dikasihi.

Saudaraku, tampaknya sikap ini kurang realistis mengingat egoisme atas dasar kemanusiaan kita. Dan tampaknya ini sebuah mimpi di siang bolong. Karena sebagai manusia lemah, secara spontan kita harus bertanya “siapa” yang akan kita undang, kepada siapa saya memberi dan membagi sebagai ungkapan kasih. Tetapi apakah kita harus menyerah pada spontanitas manusiawi kita?

Saudaraku, apa yang kelihatannya tidak realistis dan tampak tidak mungkin ini menjadi sebuah kemungkinan dalam Kristus. Paulus mengatakan “Caritas Christi Urget Nos”, Cinta kasih Kristus mendorong kita. Cinta Tuhan kepada kita dan cinta kita kepada Tuhanlah dasar dari seluruh motivasi tindak-tanduk kita. Kekayaan Cinta Tuhan dan Kesuburan Kasih kita kepada Tuhanlah yang meluber keluar dalam bentuk perbuatan. Kasih sedemikian ini tidak akan pernah berhitung, karena laksana air sungai ia akan mengalir terus dan seperti Matahari yang akan terus bersinar mengitari bumi tanpa peduli “siapa” yang akan menerima sinarnya.

Saudaraku mari berjuang mengalami Kasih Kristus, membalasnya dan mengalirkannya kepada sesama tanpa Pamrih.


 

Dengarkan versi audio dari renungan harian ini di website Radio Montini pada link gambar berikut ini:

 

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini