“Roh Kudus vs roh jahat”

0
246

Minggu, 4 Juni 2017,
Hari Raya Pentakosta: Kis2:1-11; 1Kor.12:3b-7,12-13; Yoh.20:19-23.

 

Pentakosta  menghadirkan bagian penutup dari seluruh rangkaian misteri Paskah Yesus secara megah. Semuanya bermuara pada anugerah turunnya Roh Kudus. Hari raya Pentakosta ini memiliki beberapa aspek berbeda yang ungkapkan melalui bacaan-bacaan pada hari ini. Kisah Para Rasul berkisah tentang episode yang menggemparkan nan mulia itu, turunnya Roh Kudus; bacaan kedua berkisah tentang aneka karunia yang dianugerahkan oleh Roh Kudus yang dimaksudkan untuk kerukunan dan kedamaian umat. Oleh rasul Paulus karunia  Roh Kudus itu dipahami sebagai pelayanan yang memberi bentuk kepada Gereja Kristus. Roh Kuduslah yang memberi peneguhan atas hubungan persaudaraan karena baptisan yang sama. Semuanya dipanggil untuk membentuk satu Tubuh Kristus; sedangkan bacaan Injil berkisah tentang penganugerahan Roh Kudus oleh Yesus sendiri pada hari Minggu Paskah. Setelah kebangkitanNya, Yesus menghembuskan Roh KehidupanNya sebagai kelanjutan dari perutusanNya.

Pada saat-saat sebelum Yesus menghadapi episode akhir hidupNya, dengan terbuka Yesus mengakui bahwa kelak para murid akan dimusuhi dunia, hal ini tentu tidak mengherankan. Siapakah yang bisa bertahan dalam situasi seperti ini? Sepertinya dalam keadaan normal pasti banyak orang yang tidak akan tahan. Ini juga pasti menjadi pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati para murid Yesus pada waktu itu. Apalagi Yesus dengan terus terang mengatakan bahwa saat Dia akan meninggalkan mereka sudah sangat dekat. Itu pasti ! Berarti para murid akan ditinggalkan sendirian. Lalu apa gunanya bertahan dalam keadaan itu jika Sang Guru sudah tidak akan berada bersama-sama mereka lagi? Sampai pada saat sebelum sengasaraNya, mereka masih dengan bangga disapa murid-murid Yesus yang tenar dengan segala macam mujizat yang dibuatNya. Mereka dengan bangga bisa berkisah pernah menjadi saksi mata atas segala peristiwa hebat walaupun hanya singkat, 3 tahun. Semua peristiwa dan pengakuan serta decak kagum dari orang banyak itu membuat mereka percaya diri, tidak malu-malu tampil di depan umum. Mereka sangat yakin dengan masa depan yang cerah jika terus bersama Yesus. Tidak bisa diragukan lagi. Tetapi apa yang terjadi ketika Yesus ditangkap? Mereka bubar. Layu. Malah menyangkal. Antusiasme mereka redup seketika. Dari orang-orang yang dengan bangga bisa berkisah tentang Yesus Sang Guru, mereka sekarang menjadi orang-orang yang takut dituduh sebagai tukang kibul, pendusta, penyebar ajaran sesat. Mereka dengan mudah bisa ditangkap. Situasi ini membuat mereka kehilangan muka di hadapan para simpatisan.

Nah, Injil pada hari ini menjawab semua kegalauan para murid itu. Mereka dihembusi oleh Yesus dengan RohNya sendiri. Merekapun diajak untuk mengingat-ingat lagi apa yang pernah disampaikan Yesus. Yesus pernah menjanjikan Roh Kudus, Penolong, Parakletos, yang akan diutus oleh, dari, dan bersama Bapa. Parakletos ini juga yang akan menghibur dan menyukakan hati bagi siapa yang berseru. Parakletos yang sama juga yang akan menjadi kekuatan, yang menopang, yang membesarkan jiwa, yang menjadi pembela bagi orang yang tidak bisa mengatasi keadaan dengan kekuatannya sendiri.

Dalam diri kita selalu ada pertarungan: yang baik dan yang jahat, dikuasai oleh Roh Kudus atau roh jahat. Kita tidak bisa mengikuti serentak secara buta semua dorongan dalam diri kita. Ada dorongan-dorongan yang bersifat kedagingan tetapi ada juga dorongan-dorongan rohani. Kita tidak bisa serentak menghidupi satu bentuk kehidupan yang terdiri dari  kesenangan-kesenangan egoistis dan kehidupan yang tertata rapi dengan sukacita karena kemurahan hati kristiani. Kita harus memilih salah satunya. Dengan bantuan Roh Kudus kita akan bisa memilih secara tepat mana jalan yang benar, jalan yang dikehendaki oleh Tuhan sendiri.

Don STop

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini