Renungan Jumat, 23 Februari 2018: “Segeralah Berdamai”

0
253

Jumat, 23 Februari 2018
Hari Biasa Pekan Prapaskah I
PW S. Polikarpus, Uskup dan Martir

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Adakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik?Bukankah kepada pertobatannya Aku berkenan, supaya ia hidup?

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Beginilah Tuhan Allah berfirman,”Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi, ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. Adakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? Demikianlah firman Tuhan Allah. Bukankah kepada pertobatannya Aku berkenan, supaya ia hidup? Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan orang fasik, apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berubah setia, dan karena dosa yang dilakukannya.
Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel! Apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat? Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, maka ia pasti hidup, ia tidak akan mati.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 130:1-2.3-4ab.4c-6.7-8; Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan?

  • Dari jurang yang dalam aku berseru kepada Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.
  • Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, maka orang-orang takwa kepada-Mu.
  • Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. Lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, berharaplah kepada Tuhan, hai Israel!
  • Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

Bait Pengantar Injil: Yeh 18:31 :Buangkanlah daripadamu,segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku, sabda Tuhan,dan perbaharuilah hati serta rohmu.

Bacaan Injil :Mat 5:20-26 ; Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Kalian telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; barangsiapa berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,tinggalkanlah persembahan di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu.
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan: “Segeralah Berdamai”

Ada banyak hal dalam kehidupan ini yang sering dipandang oleh kebanyakan orang sebagai kemendesakan. Kemendesakan dalam hal kepemilikan materi, karier, prestasi bahkan relasi. Untuk yang terakhir ini, yakni kemendesakan dalam relasi, seringkali dijumpai kesulitan yakni bagaimana bisa saling membahagiakan satu sama lain, entah di tempat kerja, dalam hubungan pertemanan dan lebih khusus dalam keluarga, pasangan suami istri, orangtua dan anak. Syukurlah kita sadar bahwa untuk saling membahagiakan adalah kemendesakan. Di sekitar kita tidak sedikit orang yang justru saling menjatuhkan, saling fitnah, dendam, saling mempermalukan, bahkan saling hujat di media sosial.
Yesus dalam Injil hari ini mengungkapkan perintah ini: Segeralah berdamai… Kedamaian adalah kemendesakan yang didesak oleh Yesus bagi manusia yang mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Ingat bahwa teks ini adalah bagian integral dari pengajaran Yesus di bukit yang diawali dengan Sabda Bahagia. Bagi Yesus orang yang memperjuangkan kedamaian menampakkan karakter sebagai anak Allah. Dialah yang pantas juga mengalami kebahagiaan. “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah”.
Berdamai dengan sesama pastinya bukan suatu hal yang mudah. Apalagi hendak berdamai dengan Tuhan karena dosa-dosa kita. Tetapi justru inilah kemendesakan kehidupan. Meski kita sering berdosa namun Tuhan selalu mengundang kita untuk berdamai. Ruang pengakuan dosa selalu terbuka bagi kita. Dalam relasi dengan sesama, ingat bahwa saat merayakan ekaristi kita sering berdoa “ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Inilah doa sekaligus ungkapan komitmen sebagai anak Allah yang mau berjuang mewujudkan rasa damai. Persoalannya sekarang, sungguhkah hati kita terpanggil untuk membaharui diri dan berdamai denganNya? Jika ya, maka berdamailah dengan sesamamu. Segera!

P. Andreas Rumayar, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini