St. Petrus dan Paulus; Beda tapi Sama

0
39

Merenungkan Sabda
Sabtu, 29 Juni 2024
HR. St. Petrus dan Paulus
(Kis.12:1-11, 2Tim.4:6-8.17-18, Mat.16:13-19)

Merayakan HR St. Petrus dan Paulus banyak hal yang ingin dikatakan karena kedua rasul ini memiliki peran kunci dalam pertumbuhan gereja. Petrus dipilih Tuhan menjadi Kepala para rasul dan menwartakan injil untuk orang-orang Yahudi. Sementara Rasul Paulus adalah rasul yang focus mewartakan kabar baik kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Kalau kita merenungkan peran masing-masing dari rasul ini, pasti membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk mengungungkapkannya. Namun dua hal dapat kita katakan tentang dua rasul ini:

Pertama , Persatuan; Disatukan karena Kasih kepada Kristus. Mereka adalah dua orang yang sangat berbeda, namun mereka melihat satu sama lain sebagai saudara, seperti yang terjadi dalam keluarga yang akrab di mana mungkin sering terjadi pertengkaran tetapi selalu ada cinta yang tak pernah gagal. Namun kedekatan menyatu antara Petrus dan Paulus bukan berasal dari kecenderungan alami, tetapi dari Tuhan. Dia tidak memerintahkan kita untuk saling menyukai, tetapi untuk saling mengasihi. Dia adalah yang mempersatukan kita, tanpa membuat kita semua sama. Dia menyatukan kita dalam perbedaan kita.

Kedua : Ditantang oleh Yesus sebagai Muridnya. Ketika Yesus memilih para murid selalu memberikan tantangan kepada mereka. Petrus mendengar pertanyaan Yesus: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (lih. Mat 16:15). Pada saat itu dia menyadari bahwa Tuhan tidak tertarik pada apa yang dipikirkan orang lain, tetapi pada keputusan pribadi Petrus untuk mengikutinya. Kehidupan Paulus berubah setelah tantangan serupa dari Yesus: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kis 9:4). Tuhan mengguncang Paulus sampai ke intinya: lebih dari sekadar menjatuhkannya ke tanah di jalan menuju Damaskus, dia menghancurkan ilusi Paulus tentang menjadi sorang religius yang terhormat. Akibatnya, Saulus yang sombong berubah menjadi Paulus, nama yang berarti “kecil”. Tantangan dan pembalikan ini diikuti oleh nubuat: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (Mat 16:18); dan, bagi Paulus: “orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.” (Kis. 9:15). Hanya seseorang yang terbuka terhadap kejutan Tuhan yang bisa menjadi murid Tuhan. Dan di sanalah mereka: Petrus dan Paulus, para murid atau nabi yang melihat ke masa depan. Petrus adalah yang pertama menyatakan bahwa Yesus adalah “Kristus, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Paulus, yang mempertimbangkan kematiannya yang akan segera terjadi: “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan” (2 Tim 4: 8).

Dua pertayaan refleksi bagi kita.
(1). Apakah dalam berbagai macam perbedaaan: sifat, karakter, kepribadian, pendapat, peran bahkan berbeda pendidikan, status social, kaya dan miskin, dapatkan kita menyingkirkan perbedaan-perbedaan ini dan bersatu hati untuk mewartakan kabar baik atau memajukan kehidupan gereja? Ataukah kita tetap bertahan dengan egoku yang merasa diri benar, hebat sementara yang lain kita pandang berdosa, keliru, salah, tidak kompeten dan tidak pantas? Dua rasul ini meskipun berbeda tetapi mampu bersatu dalam pelayanan, mewartakan kabar baik dan demi tegaknya kerajaan Allah.

(2). Tantangan apa yang Yesus buat untuk diri kita? Mungkin dengan peran-peran sederhana dan kecil tapi kita memberi kontribusi bagi gereja: di wilayah rohani, pada kelompok kategorial, atau pada kelompok2 doa yang kecil atau malah dalam kehidupan umat paroki. Salah satunya kesetiaan kita setiap pagi kita datang berdoa, kita telah menjadi pendoa bagi keluarga kita, bagi umat dan bagi gereja kita.

Kita berdoa semoga semangat kerasulan St. Petrus dan Paulus tumbuh juga dalam diri kita meskipun dalam bentuk-bentuk yang kecil dan sederhana. Amin.

AMDG. Pst. Y.A.
St. Ignatius, Manado

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini