BerandaSorot KomsosMENGHAYATI MAKNA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS DALAM KELUARGA

MENGHAYATI MAKNA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS DALAM KELUARGA

Published on

spot_img

Kematian Yang “Diperlukan”

            Kematian Yesus menjadi puncak rangkaian derita maha berat. Inilah bentuk paling kongkrit dari ekspresi Kasih dan solidaritas Allah pada manusia. Yesus, Allah menjadi manusia dan Imanuel, Allah beserta kita menunjuk betapa Allahpun merasakan penderitaan dan kematian sebagaimana dialami manusia. Ketaatan Yesus sampai mati di salib sungguh diperlukan untuk kebangkitan dan menjadi inspirasi dan keteladanan bagi manusia: “Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13: 15, 17).

Kebangkitan Sesudah Kematian

            Yesus membuka harapan baru akan Hidup kekal. Sesudah derita dan kematian, Ia bangkit. KebangkitanNya menjadi petunjuk jelas bahwa Allah tidak membiarkan manusia dikalahkan dosa dan maut. Hidup manusia tidak berhenti di liang kubur tetapi berlanjut ke hidup surgawi. Seandainya Yesus tidak bangkit, Maut akan menjadi puncak hidup kita. Karena Diapun tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan kematian. Tetapi sesudah kematian, Yesus dibangkitkan Bapa. Ia diangkat menuju kemuliaan kekal. Ia memutus rantai dosa dan kematian lewat kematianNya. Ia menebus umat manusia yang dikuasai dosa dan Maut.

Keluarga Bangkit perlu “Belajar untuk Mati”

Kebangkitan Yesus dari antara orang mati harusnya memberi inspirasi bagi umat beriman terlebih bagi keluarga-keluarga. Keluarga dibentuk oleh seorang pribadi pria dan seorang pribadi wanita yang berbeda. Perbedaan karakter, keinginan, selera, cita-cita dan lain-lain menjadi tantangan membangun kesatuan dan kebersamaan. Karena itu setiap anggota keluarga perlu “belajar untuk mati”. Mematikan egoisme, semangat cinta diri, keangkuhan, kesombongan dan kemunafikan. Belajar dari Yesus yang memberi diri sampai mati karena cinta, Keluarga-keluarga juga perlu memberi diri seutuhnya karena cinta. Kalau ungkapan kasih ini terjadi maka aka nada kebangkitan terus-menerus dalam keluarga.

Keluarga Mulia bangkit bersama Kristus

Keluarga-keluarga dan setiap orang beriman yang memberi diri sepenuhnya sambil menyangkal diri atas dasar kasih, kiranya akan bangkit mulia bersama Kristus. Kristus dibangkitkan Bapa karena taat dan bersedia untuk mati. Keluarga-keluarga dan seluruh umat beriman kiranya boleh fokus pada usaha memberi diri bukan menuntut pemberian, belajar melayani bukan menuntut dilayani, belajar membantu bukan menuntut dibantu. Dengan demikian keluarga-keluarga kristiani, di masa Paskah boleh bangkit bersama Kristus sambil menatap hidup berpengharapan dan sukacita.

Po’

MENGHAYATI MAKNA 2

 

KONTEN POPULER

Latest articles

Umat WR Sta. Lidwina GPI Bantu Masyarakat di Stasi Kima Atas dan Stasi Mapanget Barat

Umat Wilayah Rohani Santa Lidwina, Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah (GPI) mengadakan...

Minggu Panggilan: Saat Umat Diteguhkan untuk Menjawab Suara Sang Gembala

Tahuna – Suasana penuh hikmat mewarnai Perayaan Ekaristi Minggu Paskah IV, yang juga dikenal...

Rayaan HUT ke-30 Imamat, Pastor Jan Koraag Berpisah dengan Umat Paroki GPI

Hari Ulang Tahun Imamat ke-30 menjadi momen kegembiraan dan haru bagi Pastor Jan Silvianus...

Anggota LC Paroki Tahuna Terima Atribut. Pastor Jacob: LC Jadi Panutan di Tengah Umat

Tahuna – Perayaan Ekaristi memperingati Santo Georgius sekaligus penyerahan atribut bagi anggota Legio Christi...

More like this

Panitia Family Gathering KOMSOS KUSUMA 2026 Resmi Dilantik di Paroki Warembungan

Warembungan, 29 Maret 2026 – Panitia Family Gathering KOMSOS Keuskupan Manado resmi dilantik di...

Perjumpaan Hangat Uskup Manado dan Gubernur SULUT

Rabu 29 Oktober 2025, di kantor Keuskupan Manado, telah berlangsung pertemuan kekeluargaan antara Gubernur...

Semangat Persaudaraan! Temu Vikjen Nusantara 2025 Resmi Dibuka di Keuskupan Manado

Komsosmanado.com – Suasana penuh kehangatan dan semangat kebersamaan menyelimuti hari pertama Temu Vikjen Nusantara...