BerandaBerita KomsosHidupi Budaya Kasih, Torang Samua Basudara

Hidupi Budaya Kasih, Torang Samua Basudara

Published on

spot_img

Manado – “Kita membutuhkan orang lain dalam kehidupan kita, dan orang lain juga membutuhkan kita dalam kehidupannya. Siamo tutti fratelli, torang samua basudara!”,

Hal ini diungkapkan Pastor Johanis Ohoitimur, MSC (Yong), pada Misa kedua, jam 09.00 Wita, Hari Minggu Biasa XV, bertempat di Gedung Gereja St Mikael, Minggu, (13/07/2025).

Menurut Pastor Yong, dalam Injil hari ini kita mendengar dialog Yesus dengan seorang ahli Taurat tentang “apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?”. Jawabannya: Melaksanakan hukum kasih, mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Tetapi muncul pertanyaan, “Siapakah sesamaku?”

“Pada tanggal 3 Oktober 2020, mendiang Paus Fransiskus menerbitkan sebuah ensiklik yang sangat bagus, judulnya: Fratelli Tutti, Saudara Sekalian.
Ensiklik ini berbicara tentang satu tema yang dibutuhkan dunia: “Persaudaraan dan Persahabatan Sosial”. Dengan tema ini Paus Fransiskus mengajak kita pada “keterbukaan kepada sesama manusia,” tutur Pastor Yong.

Pastor Yong menjelaskan, dalam ensilik itu Paus Fransiskus berbicara dengan 2 budaya yang saling bertentangan, yaitu “budaya tembok” dan “budaya kasih”. Ada kecenderungan di zaman sekarang, di mana komunikasi begitu mudah, tapi orang cenderung membangun “budaya tembok” – baik di pikiran maupun di dunia nyata – yang membuat kita tidak saling berjumpa; budaya tembok itu memisahkan orang-orang satu dari yang lain. Orang fokus dengan dirinya sendiri, mengabaikan orang lain, tidak peduli kepada sesama, bahkan menyingkirkan orang lain dan mengabaikan penderitaan mereka. Kenyataan ini didukung juga oleh penggunaan alat-alat digital. Misalnya melalui media sosial kita menyatakan kebencian dan penolakan terhadap orang lain.

“Dalam Injil tadi, orang dari suku Lewi dan seorang imam Yahudi membangun “budaya tembok”, sehingga tidak peduli kepada sesama orang Yahudi yang sedang menderita dan membutuhkan pertolongan. Mereka lewat begitu saja, fokus pada urusannya, padahal orang yang menderita itu satu suku, sesama Yahudi, dan seagama,” tegasnya.

Pastor Yong menegaskan, orang Samaria, walaupun dia berasal dari suku yang lain, dimusuhi oleh orang Yahudi, tetapi ia terbuka kepada orang Yahudi yang sedang menderita. Ia mendekati orang yang dirampok dan sedang menderita itu sebagai sesama manusia, ia menolong, merawat, membiayai orang yang tidak dikenal itu. Inilah yang disebut “budaya kasih”.

“Dalam budaya kasih kita melihat orang lain sebagai saudara, sahabat, tanpa batas-batas suku, ras, golongan ataupun agama. Dalam budaya kasih kita melihat setiap orang dan semua orang sebagai ciptaan yang berasal dari satu Bapa, Allah Pencipta. Dalam budaya kasih, setiap orang dihadapi dengan rasa hormat, karena sesamaku memiliki martabat yang sama luhurnya dengan saya,” ujarnya.

Pastor Yong menyatakan, dalam budaya kasih, kita terbuka kepada siapa saja dengan hati dan kehendak yang baik. Dalam budaya kasih kita menyapa setiap orang sebagai saudara. Dalam budaya kasih kita berdialog dan menghargai orang lain yang berbeda dari kita. Kita menghormati agama dan keyakinan yang berbeda dari kita. Kita peduli dan menolong mereka yang menderita atau mereka yang meminta pertolongan dari kita.

“Bahkan ketika orang lain memusuhi, memfitnah, dan melakukan kejahatan terhadap kita, kita tidak membalas dengan kejahatan melainkan dengan kebaikan dan kasih. Mengapa begitu? Karena Yesus melakukannya juga,” pesannya.

Diungkapkan Pastor Yong, budaya tembok bisa terjadi di mana saja, dalam keluarga, dalam pergaulan, dalam Gereja, dalam masyarakat, di tempat kerja. Ketika kita tidak peduli dengan orang lain di sekitar kita, menghina dan mengabaikan orang lain, menolak membantu orang lain, kita sesungguhnya mendirikan tembok pemisah, dan saat itulah budaya kasih terhadap sesama gagal dihidupi.

“Marilah kita mempraktikkan budaya kasih dengan terbuka dan peduli pada sesama kita,” tandasnya.

Berikut ini, jadwal dan Selebran Misa pertama, jam 07.00 Wita, Selebran Pastor Paroki St Mikael Perkamil Manado, RD Aloisius Wenseslaus Maweikere (Wens) dan Misa ketiga, jam 18.00 Wita, Pastor RD Theodorus Michael Palit (Theo).

Petugas liturgi pada Misa kedua, Hari Minggu Biasa XV, dari Kelompok Kategorial OMK St Mikael Perkamil.(man repi)

KONTEN POPULER

Latest articles

Umat WR Sta. Lidwina GPI Bantu Masyarakat di Stasi Kima Atas dan Stasi Mapanget Barat

Umat Wilayah Rohani Santa Lidwina, Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah (GPI) mengadakan...

Minggu Panggilan: Saat Umat Diteguhkan untuk Menjawab Suara Sang Gembala

Tahuna – Suasana penuh hikmat mewarnai Perayaan Ekaristi Minggu Paskah IV, yang juga dikenal...

Rayaan HUT ke-30 Imamat, Pastor Jan Koraag Berpisah dengan Umat Paroki GPI

Hari Ulang Tahun Imamat ke-30 menjadi momen kegembiraan dan haru bagi Pastor Jan Silvianus...

Anggota LC Paroki Tahuna Terima Atribut. Pastor Jacob: LC Jadi Panutan di Tengah Umat

Tahuna – Perayaan Ekaristi memperingati Santo Georgius sekaligus penyerahan atribut bagi anggota Legio Christi...

More like this

Umat WR Sta. Lidwina GPI Bantu Masyarakat di Stasi Kima Atas dan Stasi Mapanget Barat

Umat Wilayah Rohani Santa Lidwina, Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah (GPI) mengadakan...

Minggu Panggilan: Saat Umat Diteguhkan untuk Menjawab Suara Sang Gembala

Tahuna – Suasana penuh hikmat mewarnai Perayaan Ekaristi Minggu Paskah IV, yang juga dikenal...

Rayaan HUT ke-30 Imamat, Pastor Jan Koraag Berpisah dengan Umat Paroki GPI

Hari Ulang Tahun Imamat ke-30 menjadi momen kegembiraan dan haru bagi Pastor Jan Silvianus...