Umat Katolik di Paroki Bunda Teresa dari Calcutta, Griya Paniki Indah (GPI) Manado, mengikuti perayaan Misa Kamis Putih dengan khidmat pada Kamis (02/04/2026) malam. Perayaan yang menandai dimulainya Tri Hari Suci ini menjadi momen refleksi mendalam mengenai arti pengorbanan dan pelayanan sejati di tengah masyarakat.
Dalam homilinya, Pastor Paroki Pst. Fransiscus Antonio Runtu, Pr kembali menyampaikan pesan Yesus Kristus yang membasuh kaki para murid-Nya sebagai bentuk tertinggi dari kasih yang tidak mementingkan diri sendiri.
Di awal khotbah Pastor menjelaskan bahwa Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci adalah satu kesatuan ibadah yang tak terpisahkan (Triduum). Umat diingatkan untuk tidak terjebak pada formalitas ibadah semata, melainkan memahami esensi dari setiap ritus yang dijalani.
“Tradisi dalam Gereja Katolik adalah pengulangan yang menghidupkan. Kita merayakan Ekaristi bukan sekadar rutinitas, tetapi sebagai cara utama untuk sungguh-sungguh mengenang Kristus,” ujar Pastor Angky, sapaan akrabnya.
Lebih lanjut, Pastor Angky menekankan bahwa iman yang utuh menuntut kehadiran dan penghayatan di setiap prosesi, mulai dari perjamuan kasih hingga pengorbanan di salib.
Dalam misa ini dilakukan ritus pembasuhan kaki (Mandatum). Dimana Pastor Angky membasuh kaki 12 perwakilan umat, sebuah tindakan simbolis yang merujuk pada apa yang dilakukan Yesus kepada para Rasul-Nya.
Pastor menggarisbawahi bahwa tindakan membasuh kaki adalah tugas seorang pelayan, bukan seorang tuan. Memberikan kritik membangun terhadap fenomena kepemimpinan saat ini yang terkadang lebih mengejar status dan penghormatan.
“Menjadi seorang ‘Guru’ atau pemimpin berarti menjadi teladan yang mengayomi. Pertanyaannya bagi kita semua—baik kepala keluarga, ketua kelompok, hingga pemimpin rohani—apakah kehadiran kita sungguh-sungguh memberdayakan orang lain karena kasih, atau justru memperdayakan mereka demi kepentingan kita?” tuturnya Pastor Angky.
Umat diajak untuk meninggalkan budaya “haus jabatan” dan melakukan pelayanan yang tulus. Menjadi pemimpin, menurutnya, adalah kesiapan untuk menyentuh bagian yang paling rendah dan kotor dari sesama demi mengangkat martabat mereka.
Usai perayaan Ekaristi, tidak ditutup dengan berkat meriah seperti biasanya. Hal ini melambangkan bahwa rangkaian peribadatan masih berlanjut. Sakramen Mahakudus kemudian diarak menuju Altar Persinggahan untuk disemayamkan.
Umat kemudian melanjutkan dengan ritus Tuguran, yakni berdoa dalam keheningan hingga tengah malam. Suasana gereja yang tenang tanpa hiasan altar menjadi simbol kesederhanaan dan duka cita menjelang Jumat Agung.
“Malam ini adalah kesempatan bagi kita untuk berefleksi secara pribadi. Mari kita belajar sabar dan rela berkorban bagi sesama, sebagaimana Kristus telah mencintai kita sampai akhir,” pungkas Pastor Fransiscus.(Roy)
