Tahuna – Umat Stasi Santo Petrus Kahakitang diajak untuk memahami keadilan Allah bukan berdasarkan perhitungan manusia, melainkan melalui kasih dan kemurahan-Nya. Pesan tersebut disampaikan Pastor Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna, RD. Jacob Adilang, dalam homili pada Perayaan Ekaristi, Minggu (20/9/2026).
Merenungkan perumpamaan para pekerja di kebun anggur, RD. Jacob mengatakan bahwa secara manusiawi orang dapat merasa tidak adil ketika pekerja yang datang sejak pagi menerima upah yang sama dengan mereka yang baru bekerja beberapa jam. Namun, Yesus justru memperlihatkan kemurahan hati Allah kepada semua orang, termasuk mereka yang baru memperoleh kesempatan untuk bekerja.

“Allah melihat kebutuhan dan keadaan setiap orang. Kita hidup, bekerja dan melayani karena kemurahan Tuhan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa manusia tidak perlu membanggakan diri atas keberhasilan yang diperoleh. Seperti Rasul Paulus, umat dipanggil untuk menyadari bahwa segala kemampuan dan pelayanan merupakan buah kasih karunia Allah.

Dalam perjalanan iman, umat juga dituntut untuk tetap bertahan. Melalui perumpamaan tentang benih, RD. Jacob mengingatkan bahwa iman dapat tumbuh, tetapi juga dapat layu ketika manusia berhadapan dengan kesulitan. Karena itu, yang penting bukan hanya bagaimana seseorang memulai perjalanan iman, tetapi bagaimana ia tetap setia sampai akhir.
Teladan kesetiaan itu tampak dalam diri Maria. Sejak menerima kabar dari malaikat, Maria mengalami berbagai penderitaan: mendengar nubuat Simeon, mengungsi karena ancaman Herodes, mengalami kecemasan ketika Yesus hilang di Yerusalem, hingga menyaksikan wafat-Nya di kayu salib.

Namun, semua penderitaan itu tidak membuat Maria kehilangan iman dan sukacitanya.
“Memilih sukacita bukan berarti menolak penderitaan, tetapi tetap percaya kepada Tuhan di tengah penderitaan,” jelas Pastor Jacob.

Ia mengajak umat untuk tidak mengukur kehidupan hanya berdasarkan ukuran dunia. Dalam kehilangan, kekecewaan, konflik maupun pergumulan, umat diajak tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia.
Menutup homilinya, RD. Jacob mengajak umat membuka hati terhadap kemurahan Allah, meninggalkan iri hati dan kemarahan, serta membangun kehidupan yang penuh kasih, pengampunan dan persatuan.
Seperti Maria yang tetap berdiri dalam iman di bawah salib, umat pun dipanggil untuk tetap setia dan percaya bahwa dalam setiap penderitaan, Tuhan tetap hadir dan menyertai. (Riko)
