BerandaRenunganAd Maiorem Dei Gloriam

Ad Maiorem Dei Gloriam

Published on

spot_img

Merenungkan Sabda
Rabu, 31 Juli 2024
PW. St. Ignatius, Loyola
(Yer.15:10.16-21, Mat.13:44-46)

Suatu pertanyaan, apakah yang paling berharga dalam hidup kita sekarang ini, hingga kita mau mengurbankan segala-galanya demi mendapatkannya: Keluarga, suami/istiri, anak, kekayaan, pekerjaan, karir? Kita dapat membuat daftar Panjang, apa yang berharga. Untuk memperolehnya kita siap menderita, berkorban, rugi, sakit, berjuang sampai mempertaruhkan segalanya. Tapi ingat apakah itu menjamin kehidupan kita? Jangan sampai yang diperjuangkan hanyalah sementara dan semu. Berjuanglah untuk sesuatu yang abadi.

Dalam teks-teks Injil, Yesus sering menyinggung hal yang penting dalam hidup. Seorang mudah yang kaya (Mat.19:21) bertanya apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus menjawabnya dengan mengatakan jual segala milikmu dan berikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga. Ada juga yang mau mengikuti Yesus tetapi diizinkan dulu mengurus keluarganya (bdk.Luk.9:57-62). Jawaban Yesus jelas bahwa setiap orang yang mau mengikuti Dia, harus melepaskan segala sesuatu yang dapat menghalangi pandangannya, yang dapat mencuri perhatiannya sehingga tidak mengenal Yesus secara sempurna.

St. Ignatius, Pelindung kita salah satu contoh teladan iman bagaiman dengan komitmen yang kuat, rela meninggalkan ambisi dan kemauannya demi mengikuti Yesus. Kekalahan pertempuran dan tertembak meriam merupakan cara Tuhan mempersiapkan suatu kehidupan baru dari Inigo. Dalam perawatan untuk kesembuhan di RS menghantarnya berkenalan secara perlahan-lahan dengan Tuhan. Dua buku yang jauh dari apa yang diinginkannya, yakni KS dan Riwayat Para Kudus menjadi pilihan bacaan yang tesedia. Dari pada lelah bosan menganggur, dengan perasaan segan ia membaca kedua buku tersebut. Perlahan-lahan ia mulai melamunkan hidup para kudus seperti dikisahkan. Ia terkesan akan julukan para kudus sebagai “Para Prajurit Allah yang membaktikan diri demi pelayanan kepada Yesus Kristus Raja Abadi.” Mereka adalah orang-orang yang karena inspirasi Injil gagah berani melawan kejahatan yang lebih canggih daripada meriam.

Salah satu momen yang menandakan St. Ingantius rela meninggalkan segala-galanya terjadi di salah satu biara di bukit Monserat. Ia hendak menuju Yerusalem untuk memenuhi panggilan jiwanya mengabdi Tuhan. Ia berangkan ke arah Bacelona, ke suatu Pelabuhan dari mana ia bisa pergi ke Yerusalem. Di satu biara yang terletak di bukit Monserrat, ia memepersiapkan diri selama tiga hari dan mengakui dosanya. Dia melucuti pakaian kebesarannya sebagai seorang prajurit: Kuda diserahkan kepada biara, pakaiannya ditukar dengan pakaian seorang pengemis dan pedang ia letakkan di bawah patung Bunda Maria di Kapel. Penyerakan pakaian kebesaran sebagai kesatria menandakan Ia meruba haluan hidupnya secara total; hidup baru bagi pelayanan kepada Raja Abadi. Luar biasa tekad seorang St. Ignatius untuk melepaskan segala-galanya untuk mengabdi Kristus.

Mungkin kita tidak bisa menyamai tekat dan komintmen St. Ignatius dalam soal mengikuti Yesus. Tetapi pertanyaan sederhana yang boleh kita renungkan dan boleh menjadi tekat kita membangun diri dalam relasi dengan Tuhan dan sesama adalah Perbuatan apa yang bisa saya usahakan agar saya dapat memuliakan Tuhan dalam hidup saya. Mudah-mudahan ada satu dua perbuatan yang kita perjuangkan dalam hidup supaya nama Tuhan dimuliakan melalui diri kita sebagaimana motto st. Ignatius: Ad Maiorem Dei Gloriam. Satu doa singkat dari St. Ignatius yang bagus, kita doakan mengakhiri renungan ini: “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.” Amin.

AMDG. Pst. Y. A.
St. Ignatius, Manado

KONTEN POPULER

Latest articles

Umat WR Sta. Lidwina GPI Bantu Masyarakat di Stasi Kima Atas dan Stasi Mapanget Barat

Umat Wilayah Rohani Santa Lidwina, Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah (GPI) mengadakan...

Minggu Panggilan: Saat Umat Diteguhkan untuk Menjawab Suara Sang Gembala

Tahuna – Suasana penuh hikmat mewarnai Perayaan Ekaristi Minggu Paskah IV, yang juga dikenal...

Rayaan HUT ke-30 Imamat, Pastor Jan Koraag Berpisah dengan Umat Paroki GPI

Hari Ulang Tahun Imamat ke-30 menjadi momen kegembiraan dan haru bagi Pastor Jan Silvianus...

Anggota LC Paroki Tahuna Terima Atribut. Pastor Jacob: LC Jadi Panutan di Tengah Umat

Tahuna – Perayaan Ekaristi memperingati Santo Georgius sekaligus penyerahan atribut bagi anggota Legio Christi...

More like this

Bacaan Injil dan Refleksi, 28 Maret 2026

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa...

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...

Renungan 25 Februari 2026; Jangan Menuntut Tanda, Tetapi Bertobatlah

Lukas 11:29-32 Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mengerumuni-Nya. Mereka menghendaki tanda—sesuatu...