“Hosana vs Salibkan Dia !”

0
367

9 April 2017,
Minggu Palma:
Mat.21:1-11; Yes. 50:4-7; Flp.2:6-11; Mat,26.14-66.

 

Hari ini kita mengawali permenungan kita dalam Pekan Suci, sebuah kesempatan untuk merenungkan karya keselamatan yang diwujudkan Tuhan pada hari-hari terakhir hidupNya sejak Ia memasuki kota suci Yerusalem. Minggu Palma mengawali kemenangan Yesus atas kematian, tetapi sebuah kemenangan yang harus dilalui dengan perendahan diri lewat sengsaraNya. Sebuah perendahan diri yang penuh dengan kasih yang akhirnya menjadi pengangkatan diri karena kasih yang sama.

Kedua bacaan sebelum Injil mengungkapkan bagaimana ketaatan Yesus yang sungguh sempurna kepada kehendak BapaNya, sebuah ketaatan dan ketulusan seorang yang sungguh-sungguh menghidupi perannya sebagai seorang Anak; Yesus mendengarkan dan menaati BapaNya. Bacaan pertama menguraikan bagaimana ketaatan itu ditunjukkan melalui sabda nabi: “Setiap pagi ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang…. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” Selanjutnya rasul Paulus dalam bacaan kedua menggambarkan puncak ketaatan Yesus yang mencapai kepenuhannya dalam kematian yang dimahkotai dengan kemuliaan yang tiada taranya; Ia merendahkan diri, taat sampai mati, bahkan mati dengan cara yang sangat tragis, di kayu salib, tetapi setelah selesai semuanya itu, kepadaNya dianugerahkan segala kemuliaan, akhirnya semua lidah harus mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Semua ini menunjukkan aspek ganda dari episode sengsara Yesus, yaitu: sebuah peristiwa yang mengungkapkan betapa manisnya sebuah hubungan Bapa-Anak dalam ketaatan dan sebuah peristiwa yang menggambarkan solidaritas persaudaraan terhadap kita manusia.

Mengapa Yesus membiarkan diriNya ditolak oleh para pemimpin Yahudi padahal sebelumnya Yesus mengalami peristiwa yang sangat menghebohkan, disambut meriah di Kota Suci? Mengapa Yesus memilih diam dan tidak membela diri, bukankah Dia bisa melakukannya? Mengapa Yesus tidak menggunakan kuasaNya? Bukankah Yesus sanggup melaksanakan segala sesuatu termasuk membangkitkan orang mati? Kemana perginya kuasa Yesus ketika Dia sanggup menghardik angin dan danau sehingga segala sesuatu kembali menjadi tenang? Kemana kuasa yang Dia tunjukkan ketika sahabatNya Lazarus meninggal dunia meskipun sudah dikuburkan selama empat hari? Masih banyak pertanyaan yang bisa disampaikan untuk mencari tahu mengapa Yesus bisa bertahan dalam kepatuhan.

Yesaya 50:4-7 kiranya bisa menjadi jawaban yang paling jitu: sikap batin Yesus sebagai Anak yang taat sepenuhnya kepada kehenadak Bapa terjadi karena hidupNya memang sudah terarah untuk itu sejak awal. Inilah yang membuat Yesus mampu membawa kehadiran yang Ilahi ke tengah-tengah kehidupan manusia. Ia tidak melawan ketika dimusuhi. Ia tetap pada jalanNya: menghadirkan Yang Ilahi dalam keadaan apapun.

Kedatangan Yesus ke Yerusalem memang sudah dinubuatkan sejak lama oleh nabi Zakaria 9:9 “Katakanlah kepada putri Sion, Lihat rajamu datang. Ia lemah lembut mengendarai seekor keledai betina dan seekor keledai beban yang muda. Aneh dan lucu. Keledai bukanlah hewan tunggangan biasa, dibutuhkan kesabaran untuk mengajari seekor keledai supaya bisa ditunggangi, apalagi seorang yang belum dikenalnya. Bagaimana mungkin seorang raja menunggangi keledai bukan seekor kuda besar dan perkasa? Jangan lupa Yesus datang sebagai raja dengan dua sisi: raja yang perkasa dan raja yang lemah lembut; di sisi lain ada kebesaran di sisi lain ada kelemahlembutan. Kedua unsur ini ada dalam diri Yesus yang mendatangi Yerusalem. Dengan demikian pada akhirnya nanti Yesus bisa melewati semua drama penghinaan, penderitaan dan penyaliban secara berwibawa dan anggun.

Lebih daripada itu semua Yesus menunjukkan bagaimana ia mau solider dengan dengan manusia yang paling menderita. Ia menerima bukan hanya nasib manusiawi pada umumnya, melainkan sebuah akhir hidup yang penuh derita yang luar biasa, yang dipenuhi dengan adegan penghinaan dan perendahan diri yang sangat hebat. Sebagaimana dikatakan Paulus, Ia menjadi sama seperti manusia, menjelma menjadi manusia untuk merendahkan dirinya sendiri sampai mati. Ia menerima nasib orang yang dituduh  secara salah, diadili secara sangat tidak adil, ia menerima nasib orang-orang yang disiksa dan teraniaya yang harus mati seperti penjahat: inilah bentuk solidaritas Yesus yang nampak dalam deritaNya. Kita ada di pihak mana: Yang bersorak gembira dengan pekik “Hosana !” ketika Dia memasuki Yerusalem, atau yang bersorak “Salibkan Dia !”, atau  malah justru kitalah yang meneriakkan kedua kalimat itu dengan suara paling lantang ???

Don STop

 

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini