Manado – “Banyak orang menginginkan menjadi seorang pemimpin atau orang besar, bahkan dunia menawarkan untuk menjadi hebat, terkenal, sehingga terbawa arus dunia,”
Hal ini diungkapkan Pemimpin Ibadah Wilayah Rohani St Ursula, Paroki St Mikael Perkamil, Kartini Marintja, bertempat di Keluarga Sitindaon-Ginting, Selasa, 25 Februari 2025.
Thema renungan Ibu Kartini yaitu ‘Kebesaran Yang Sejati, diambil sesuai bacaan liturgi hari ini dari Injil Markus 9:30-37.
Dalam bacaan Injil, Yesus menyampaikan kepada murid-muridNya tentang penderitaan yang akan ditanggungnya.
“Yesus mempersiapkan murid-muridNya untuk menghadapi kematianNya, namun di tengah jalan mereka justru berdebat, ‘siapa yang terbesar di antara mereka,'” tutur Ibu Kartini.
Menurut Ibu Kartini, menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana menjadi besar menurut bacaan Injil ini.
“Pada ayat 35 di katakan, jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya,” urainya.
“Kebesaran yang sejati menurut Filipi 2:3 yakni dalam kerinduan untuk melayani Allah dan sesama manusia, dan dalam kerelaan untuk di pandang sebagai yang paling tidak penting dalam kerajaan Allah.
artinya orang yang melayani atau pelayan, jangan menganggap diri penting,” jelasnya.
“Kebesaran yang sejati, bagaimana yang di maksudkan dalam bacaan ini? ayat 35, seorang pelayan bukanlah tentang kedudukan, jabatan, kepemimpinan, kuasa, pengaruh, gelar pendidikan, ketenaran, kemampuan, prestasi keberhasilan yang besar, bukan juga apa yang kita kerjakan bagi Allah, melainkan bagaimana keadaan rohani kita di hadapan Allah,” paparnya.
“Orang yang membangun rohaninya dan memiliki hubungan dengan Tuhan, dan dia tahu tujuan Tuhan dalam hidupnya, serta membangun hubungan dengan Tuhan melalui doa dan membaca Firman,” bebernya.
“Kebesaran yang sejati menuntut agar menjadi besar dalam hal yang benar. Sebagai pemimpin terkadang menyalahgunakan tugas atau wewenang. Kita perlu belajar untuk menjadi besar dalam Iman, tentunya di butuhkan kerendahan hati, hikmat, penguasaan diri, kesabaran dan kasih,” ujarnya.
Lanjut Ibu Kartini, kesabaran yang sejati tentunya mencintai keadilan dan membenci kefasikan.
“Kebesaran yang sejati, menyangkut kasih kepada Allah dan sesama, Matius 5:43-44, kasih Yang sepenuh hati, menutut kita untuk terus mengabdi dengan setia di manapun Allah menempatkan kita,” tegasnya.
“Kebesaran Yang sejati adalah: membangun hubungan dengan Tuhan, mencintai keadilan dan membenci kefasikan, memiliki kasih kepada Allah dan sesama,” tandasnya kepada 15 umat yang hadir.
(Komsos Wilroh Sta Ursula, Kartini Marintja)
