Merenungkan Sabda
Jumat, 30 Agustus 2024
Pekan Biasa XXI
1Kor.1:17-25, Mat.25:1-13)
Kita bisa bayangkan bagaimana tergesa-gesanya orang yang nanti bersiap-siap ketika beberapa saat kegiatan dimulai. Pasti mengalami kerepotan dan banyak hal yang mungkin bisa terlupakan karena waktu yang sudah mempet. Kalau pun siap pasti ada yang berantakan, tidak beres bahkan, terlupakan. Maka biasanya orang selalu mempersiapkan sesuatu hal sehari sebelum kegiatan dilaksanakan agar tidak terburu-buru, tidak ada yang terlupakan dan bisa tenang.
Persiapan yang panjang membuat semua bisa beres dan legah. Orang yang hendak melangsungkan perkawinan, jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segala sesuatu; mulai dari belajar perkawinan, memesan gedung resepsi, menentukan gaun yang hendak dipakai, memesan cathring yang hendak digunakan untuk resepsi, mencetak undangan, berapa orang yang akan diundang. Semua itu dilakukan agar pada saatnya semua beres dan berjalan baik. Dan memang biasanya pesta pernikahan berjalan meriah, anggun dan sukses karena persiapannya jauh-jauh hari sudah dilaksanakan. Pada saatnya semuanya menjadi sukses dan membahagiakan.
Sabda Tuhan mengingatkan kita betapa pentinganya persiapan dan antisipasi itu, bukan hanya dalam kegiatan kita sehari-hari tetapi memasuki kehidupan surgawi yang dilambangkan pada perjamuan pesta Perkawinan. Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis bodoh. Gadis-gadis yang bijaksana dikatan bijaksana karena mereka selain mempersiapkan obor tapi juga minyak agar bisa menyertai mempelai menjemput mempelai wanita dan ikut dalam pesta nikah. Sementara gadis-gadis lain dikatakan bodoh hanya karena tidak membawa persiapan minyak untuk pelita mereka. Akibatnya mereka tidak masuk bersama pengantin lelaki dalam pesta pernikahan karena mereka masih sibuk untuk mencari minyak bagi obor mereka.
Hanya karena tidak mempersiapkan sesuatu atau abai terhadap persiapan minyak, mereka tidak bisa masuk dalam pesta pernikahan. Suatu hal yang sangat penting terlewatkan karena mereka lalai mempersiapkan suatu yang penting untuk ikut pesta. Kita dikatakan bijaksana kalau kita selalu siap sedia.
Kita juga tidak suka untuk tergesa-gesa karena tidak siap. Orang yang sering terlambat pun, tidak kita sukai, karena memelihara suatu sikap yang tidak baik atau kemalasan. Jadi jangan lalai, abai. Mari kita menjadi bijaksana dengan selalu siap sedia dan tekun berdoa dan berbuat kebaikan. Kesiap-sediaan mengarahkan kita pada keselamatan. Semoga kita menjadi orang yang selalu siap sedia. Amin.
AMDG. Pst. Y.A.
St. Ignatius, Manado