BerandaKatekeseMeninggalkan Sifat Kanak-Kanak untuk Menjadi Dewasa dalam Iman

Meninggalkan Sifat Kanak-Kanak untuk Menjadi Dewasa dalam Iman

Published on

spot_img
1000051869

Dalam perjalanan hidup ini, kita sering kali dihadapkan pada berbagai situasi yang menguji kedewasaan kita. Rasa kecewa, marah, iri hati, dan berbagai sifat buruk lainnya bisa muncul ketika harapan kita tidak terwujud, ketika kita merasa diperlakukan tidak adil, atau ketika kita melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Namun, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk meninggalkan sifat-sifat tersebut dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam iman.

Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:11 berkata, “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” Ayat ini mengajarkan bahwa pertumbuhan iman seharusnya membawa perubahan dalam sikap dan karakter kita. Kedewasaan rohani tidak hanya diukur dari seberapa banyak kita tahu tentang firman Tuhan, tetapi juga dari bagaimana kita mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mudah kecewa dan marah menunjukkan bahwa kita masih terikat pada ego dan keinginan pribadi. Iri hati muncul ketika kita tidak bersyukur atas apa yang Tuhan telah berikan kepada kita. Sifat-sifat ini bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga dapat merusak hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, kita harus belajar untuk menggantinya dengan kasih, kesabaran, pengampunan, dan kerendahan hati.

Yesus mengajarkan kita untuk memiliki hati yang penuh kasih dan pengampunan. Dalam Matius 5:44, Dia berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Ini adalah tanda kedewasaan rohani—ketika kita mampu mengendalikan emosi kita, tidak mudah tersinggung, dan memilih untuk tetap mengasihi meskipun kita disakiti.

Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:22-24). Proses ini memang tidak mudah, tetapi dengan pertolongan Roh Kudus, kita bisa bertumbuh dan berubah sedikit demi sedikit.

Marilah kita meninggalkan sifat-sifat kanak-kanak yang menghambat pertumbuhan rohani kita. Mari kita belajar untuk lebih sabar, lebih mengampuni, lebih bersyukur, dan lebih mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan. Dengan demikian, kita tidak hanya mengalami damai sejahtera dalam hati, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain.

KONTEN POPULER

Latest articles

Paroki St. Ignatius Manado Selenggarakan Pelatihan Dirigen untuk Mendukung Pelayanan Liturgi

Paroki St. Ignatius Manado mengadakan pelatihan dirigen sebagai bagian dari upaya pembinaan dan pengembangan...

Masa Depan dalam Rencana Kasih Tuhan

Dalam perjalanan hidup, manusia kerap diliputi rasa lelah dan kekhawatiran akan apa yang akan...

Mengasihi Tanpa Batas, Mengampuni Tanpa Akhir

Kasih Kristiani bukanlah kasih yang bersyarat. Kasih sejati mengalir dari hati yang rela memberi...

Menjadi Saksi Kristus di Tengah Penderitaan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,Hari ini Gereja mengenangkan Santo Paulus Miki dan Kawan-kawan, para martir...

More like this

Masa Depan dalam Rencana Kasih Tuhan

Dalam perjalanan hidup, manusia kerap diliputi rasa lelah dan kekhawatiran akan apa yang akan...

Mengasihi Tanpa Batas, Mengampuni Tanpa Akhir

Kasih Kristiani bukanlah kasih yang bersyarat. Kasih sejati mengalir dari hati yang rela memberi...

Menjadi Saksi Kristus di Tengah Penderitaan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,Hari ini Gereja mengenangkan Santo Paulus Miki dan Kawan-kawan, para martir...