Manado – “Semoga sepanjang tahun 2025 ini kita mengalami penyelamatan Allah yang dikandung Bunda Allah bagi kita, dan kita sendiri memberkati orang lain dengan memberikan pengharapan melalui kata-kata yang baik, yang lembut, dan sikap serta perbuatan kasih,”
Hal ini disampaikan Pastor Johanis Ohoitimur, MSC (Yong) dalam homili pada Misa Kedua Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah dan Hari Perdamaian Sedunia, bertempat di Gedung Gereja St Mikael Perkamil – Manado, Rabu, (01/01/2025).
Dikatakan Pastor Yong, hari ini bersama semua orang di seluruh dunia kita memasuki tahun yang baru, tahun 2025.
“Tetapi bagi kita orang Katolik, hari ini adalah khusus Hari Raya St Perawan Maria Bunda Allah dan secara istimewa, Tahun Suci dengan tema ‘Ziarah Pengharapan,'” jelasnya.
Menurut Pastor Yong, hari raya St Perawan Maria Bunda Allah punya sejarah sangat panjang sampai abad ke-5. Pada tahun 431 Konsili Efesus menetapkan bahwa Maria adalah Bunda Allah. Penetapan iman ini diadakan karena satu kelompok orang mengatakan bahwa Yesus adalah manusia dan sekaligus Allah; bahwa Yesus adalah Putra Allah, tetapi Maria bukan Bunda Allah, Maria hanya ibu dari kemanusiaan Yesus.
“Apa artinya Maria adalah Bunda Allah? Maria adalah perempuan yang dipilih Allah untuk melahirkan Putra Allah. Melalui Maria, Allah masuk ke dalam dunia. Maria adalah Bunda Allah karena ia melahirkan Sang Sabda yang adalah Allah sendiri,” tuturnya.
“Maria menjadi pembawa Allah penyelamat kepada dunia. Maria menjadi berkat bagi dunia. Maka pada hari pertama setiap tahun ketika kita merayakan Hari Raya St Perawan Maria Bunda Allah, kita mengawali tahun yang baru bersama Maria yang menyalurkan rahmat Allah bagi kita,” paparnya.
Lanjut Pastor Yong, dengan itu kita menerima berkat pada awal tahun, bahwa seluruh tahun baru akan menjadi tahun penyelamatan. Sesudah kita menerima rahmat penyelamatan Allah melalui Maria Bunda Maria, kita pun harus menjadi berkat bagi orang-orang lain. Bagaimana cara kita menjadi berkat bagi orang lain?
“Pada malam Natal 24 Desember 2024, Paus membuka Pintu Suci di Basilika St Petrus Roma. Itulah ritual yang diadakan setiap 25 tahun untuk menandai Tahun Suci. Tahun 2025 bagi umat Katolik sedunia dirayakan sebagai tahun suci, tahun rahmat Allah. Untuk Tahun Suci 2025 dipilih tema ‘Ziarah Pengharapan’. Tema ini mengundang kita untuk menjadi pembawa pengharapan bagi dunia, urainya.
Pastor Yong mengungkapkan, seperti yang kita ketahui dan alami juga, dalam dunia ini banyak orang hidup dalam keadaan tidak berdaya; banyak orang hidup dengan beban yang berat, kesulitan, dengan masalah, dan tantangan yang berat. Banyak anak muda hidup tanpa masa depan yang jelas, sementara dunia semakin maju tapi manusia merana dalam hidupnya. Masyarakat kita adalah masyarakat yang kelelahan, mengalami keletihan karena beban hidup dan depresi. Dalam situasi ini, kita dipanggil untuk membawa pengharapan. Kita berjalan bersama orang lain. Dalam tahun suci ini kita diundang untuk berjalan bersama dalam keluarga, dalam paroki, dalam masyarakat. Kita berjalan sambil membuka hati bagi orang lain. Kita berbuat baik, menyapa orang lain, memberi perhatian bagi orang lain. Kita membawa pengharapan bagi mereka yang lanjut usia, sakit, putus asa, dan bergumul. Kita berdoa bagi mereka dan memberi dukungan serta kekuatan bagi sesama kita.
“Namun sebagai manusia kita tidak mampu melakukan itu. Maka kita harus bergandengan tangan dengan sesama kita. Teristimewa kita berjalan bersama Bunda Maria,” tegasnya.
“Hari ini tahun baru. Kita saling memberkati anggota keluarga, sesama umat, tetangga, para sahabat dan kenalan, dan siapapun juga yang kita jumpai. Kita memberkati orang lain dengan menghadapkan wajah kita yang bercahaya dan sukacita. Selamat tahun baru 2025,” tandasnya.(man repi)
