BerandaRenunganPedang Sanda Lebih Tajam

Pedang Sanda Lebih Tajam

Published on

spot_img

Merenungkan Sabda
Senin, 15 Juli 2024
PW. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
(Yes.1:11-17, Mat.10:34-11:1).

Pedang adalah simbol kekerasan, peperangan, pemisahan, dan penolakan. Apakah Yesus mengajarkan jalan kekerasan dan perpecahan dengan ungkapannya tadi? Mari kita bandingkan perkataan Yesus ini dengan apa yang diungkapkan dalam surat kepada orang Ibrani 4:12: “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”

Pedang yang dimaksudkan Yesus dalam ungkapannya bukan merujuk kepada kekerasan, namun Dia ingin mengatakan bahwa doktrin atau ajaran-Nya seringkali tidak dapat diterima oleh banyak orang, seperti pengajaran tentang Salib. Rasul Paulus menegaskan ajaran tentang Salib ini, bahwa dia memberitakan Kristus yang disalibkan, yang bagi orang Yahudi merupakan batu sandungan dan bagi orang Yunani adalah suatu kebodohan (1 kor 1:23).

Berapa banyak orang yang tidak dapat menerima bahwa Yesus adalah Immanuel, Allah yang beserta kita? Atau berapa banyak orang yang mengalami kesulitan karena ingin menerapkan prinsip-prinsip ajaran Kristus di tempat kita bekerja, di masyarakat? Berapa banyak orang yang dianggap sok suci, kalau dia berusaha untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan?

Berapa banyak para pastor dan suster yang menyalibkan kedagingan mereka untuk mengikuti jejak Kristus secara lebih sempurna? Dan sering orang menganggap bahwa ini adalah suatu kebodohan.

Jadi Yesus datang ke dunia ini bukan dengan pedang di tangan yang dapat melukai daging, namun Dia datang ke dunia ini, dengan kasih yang dapat membelah hati manusia, sehingga manusia dapat bertobat dan memperoleh keselamatan.

Akhirnya, kita harus belajar dari Kristus, bahwa memang kadang kita harus berdiri teguh, namun dengan penuh kasih untuk mewartakan kebenaran, walaupun tentu saja mempunyai resiko. Namun diperlukan suatu sikap yang bijak untuk mewartakan kebenaran. Cara yang paling efektif adalah mewartakan kebenaran dengan kehidupan kita yang memancarkan kasih Kristus, atau dengan hidup kudus. Amin.

AMDG. Pst. Y.A.
St. Ignatius, Manado

KONTEN POPULER

Latest articles

Paus Leo XIV: Perdamaian Terwujud Ketika Manusia Bersatu dalam Kasih

Paus Leo menegaskan bahwa ancaman perang hanya dapat diatasi ketika manusia mampu bersatu dalam...

Paus Leo XIV Ajak Umat Berdoa untuk Perlucutan Senjata dan Perdamaian

Umat Katolik di seluruh dunia diajak untuk mendoakan perdamaian dan perlucutan senjata sebagai intensi...

Paus Leo XIV: Akademisi Gereja Diajak Menyelami Kedalaman Iman

VATIKAN – Pope Leo XIV mengajak para akademisi dan teolog Gereja untuk semakin menyelami...

Pastor Angki Runtu Ingatkan Hakekat Iman Kristiani

Pastor Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah, Fransiscus Antonio Runtu Pr., mengingatkan umat...

More like this

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...

Renungan 25 Februari 2026; Jangan Menuntut Tanda, Tetapi Bertobatlah

Lukas 11:29-32 Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mengerumuni-Nya. Mereka menghendaki tanda—sesuatu...

Renungan 24 Februari 2026; Doa yang Memurnikan Hati

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat, saat Gereja mengajak kita berhenti sejenak, masuk ke keheningan...