BerandaRenunganRenungan Harian Rabu, 13 September 2017: Dipandang Tuhan

Renungan Harian Rabu, 13 September 2017: Dipandang Tuhan

Published on

spot_img
Krisostomus
Si Bibir Emas

PERAYAAN WAJIB S.YOHANES KRISOSTOMUS, USKUP DAN PUJANGGA GEREJA, RABU PEKAN BIASA XXIII

BACAAN I: Kol 3:1-11, Mzm 145:2-3.10-13b.
Injil: Luk 6:20-26

Pada waktu itu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.  Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.  Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah,   sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabiTetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.  Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.  “Demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.

Demikianlah Injil Tuhan

Renungan

Entah apa yang dirasakan Petrus, Yohanes dan teman-teman ketika dipandang Tuhan Yesus. Bisa dibayangkan cara memandang Yesus penuh kasih dan mendamaikan. Mungkin Ia menatap mereka satu demi satu untuk menunjukkan tatapan cinta Tuhan. Tatapan merangkul mempesona yang menunjukkan keakraban dan kedekatan tulus. Di hadapan tatapan Yesus, Petrus dan teman-teman teman tidak dapat menghindar, apalagi melarikan diri. Mereka sungguh mendapatkan perhatian personal yang menghantar mereka pada penyerahan diri kepada pribadi Yesus, Allah yang menjadi manusia.

Mendapatkan tatapan Yesus dan mendengarkan Ia berbicara tentang yang miskin, empunya kerajaan Allah, yang kelaparan akan dipuaskan, yang menangis akan tertawa dan akan berbahagia bila demi anak manusia orang dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak. Lagi-lagi entah apa yang dipikirkan dan dirasakan para murid ketika itu. Kitab suci tidak bercerita tentang protes, penolakan atau pertanyaan para murid. Padahal kalau kita pikirkan secara logis kata-kata Yesus agak susah dicerna, apalagi diterangkan.

Bagaimana mungkin yang miskin, lapar, menangis, dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak disebut berbahagia? Apalagi selanjutnya Yesus mencela mereka yang kaya, kenyang, tertawa dan dipuji. Bukankah realitas sebaliknya yang dirindukan setiap manusia? siapa ingin miskin? lapar, menangis. dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak? Bukankah kita diminta berjuang, berbuat, berusaha supaya hidup sejahtera, dikenal baik, berstatus sosial tinggi, boleh makan-minum sepuasnya dan tertawa menikmati hidup ini? Mengapa Petrus yang biasanya suka protes bahkan pernah menegur Yesus tidak bersuara apa-apa? Apa yang terjadi?

Saudaraku, tampaknya kita semua harus maklum mengapa tidak ada yang protes karena para murid mengalami apa yang paling penting dan mendasar dari ajaran Yesus itulah MEMANDANG dan DIPANDANG TUHAN. Kemiskinan dilihat sebagai tidak punya apa-apa, karena itu tidak ada penghalang baginya untuk memandang Tuhan. Satu-satunya yang dimiliki dan bisa dipandang adalah Tuhan. Kelaparan, kesedihan, dimusuhi orang membuat orang berjuang lari dan memandang Tuhan. Pengalaman ini dialami para murid ketika mendengarkan kata-kata Yesus. Mereka dipandang dan memandang Yesus, karena itu semuanya indah dan tidak ada yang perlu diprotes.

Yesus tidak pernah melarang orang memiliki harta, sejahtera, tertawa dan makan minum. Sabda Celaka adalah peringatan keras kepada kita semua untuk tidak menjadikan harta, kesejahteraan dan kesenangan menjadi penghalang bagi kita untuk memandang dan dipandang Tuhan. Mari berjuang memandang dan dipandang Tuhan agar boleh mengalami damai dan sukacita sejati sebagaimana dialami Petrus, Jakobus, Johanes dan teman-temannya. Agar kemudian kita boleh mewartakan pengalaman damai ini kepada orang lain sebagaimana dilakukan Santo Yohanes Krisostomus, si bibir emas, yang kita rayakan pestanya hari ini. Amin.

 

 

KONTEN POPULER

Latest articles

WKRI Bunda Teresa Calcutta GPI Gelar Penyuluhan Hukum Tentang Bullying dan KDRT

Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah (GPI) melaksanakan...

KBK Kevikepan Manado Ibadah di Paroki Bunda Teresa Calcutta GPI

Kaum Bapak Katolik (KBK) se-Kevikepan Manado melaksanakan ibadah di Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya...

Umat Wilroh Santa Bernadette Keak Rayakan Pesta Pelindung

Banggai – Umat Wilayah Rohani Santa Bernadette Stasi Kerahiman Ilahi Keak merayakan pesta pelindungnya...

BIMAS Katolik Sulawesi Utara Jadi Mitra Strategis dan Tim Assessor Implementasi Renstra Keuskupan Manado

Manado – Bimbingan Masyarakat (BIMAS) Katolik Provinsi Sulawesi Utara aktif terlibat sebagai mitra Tim...

More like this

Bacaan Injil dan Refleksi, 28 Maret 2026

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa...

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...

Renungan 25 Februari 2026; Jangan Menuntut Tanda, Tetapi Bertobatlah

Lukas 11:29-32 Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mengerumuni-Nya. Mereka menghendaki tanda—sesuatu...