BerandaRenunganRenungan Harian, Selasa, 19 September 2017: Bangun, Duduk dan Berbicara

Renungan Harian, Selasa, 19 September 2017: Bangun, Duduk dan Berbicara

Published on

spot_img

PF S. Yanuarius, Uskup dan Martir
Selasa Pekan Biasa XXIV

Bacaan 1 : 1Tim 3:1-13
Mazmur : Mzm 101:1-3b.5-6
Injil : Luk 7:11-17

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada suatu ketika pergilah Yesus ke sebuah kota bernama Nain. Para murid serta banyak orang pergi bersama Dia. Ketika Ia mendekati pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, yaitu anak laki-laki tunggal seorang ibu yang sudah janda.
Banyak orang kota itu menyertai janda tersebut. Melihat janda itu tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan. Lalu Tuhan berkata kepadanya, “Jangan menangis!”
Dihampiri-Nya usungan jenazah itu dan disentuh-Nya, Maka para pengusung berhenti. Tuhan berkata, “Hai Pemuda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”
Maka bangunlah pemuda itu, duduk, dan mulai berbicara. Yesus lalu menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan,
dan mereka memuliakan Allah sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah mengunjungi umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus ke seluruh Yudea
dan ke seluruh daerah sekitarnya.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan: Bangun, Duduk dan Berbicara

Yesus hendak berkunjung ke kota Nain. Ketika hendak masuk, di pintu gerbang ada rombongan orang justru sedang keluar mengusung jenasah seorang muda yang mati, putera tunggal seorang janda. Hatinya tergerak oleh belas kasihan atas penderitaan janda itu. Karena si janda sungguh kehilangan. Ia sudah kehilangan suaminya; sekarang ia kehilangan putera tunggalnya. Betapa sebuah beban duka yang amat dahsyat. Karena itu Yesus berinisiatif membangkitkan pengharapan si janda dengan membangkitan putera tunggalnya. Yesus menghampiri usungan jenasah dan berseru kepada orang mati itu, untuk bangkit. Orang muda itupun bangun, duduk dan mulai berbicara. Ia bergerak dari diam tak berdaya, ia duduk dari tidur kebinasaan dan berkata-kata dari kebisuan. Kuasa sabda Yesus memberinya kehidupan baru. Kata-kata Yesus, Allah yang mengunjungi umatnya, membangunkan dia dari ketidakberdayaan.
Kunjungan, sapaan dan sabda yang keluar dari hati Yesus yang berbelaskasihan membawa sukacita hidup baru. Kata-katanya membangunkan, mengubah jasad tak bernyawa menjadi raga berkekuatan untuk duduk dan berbicara.
Saudaraku, apa yang dibuat orang sehingga Yesus berinisiatif membangkitkan pemuda di Nain? Tampaknya tak ada yang berbuat apa-apa. Si janda tidak datang meminta belas kasihNya, para pengusung dan orang yang menyertai usungan juga tidak mencegat Yesus dan meminta pertolongan. Mereka pasrah pada nasib, pergi, membawa keluar si pemuda yang mati keluar dari lingkungan hidup mereka. Tidak ada yang berinisiatif meminta belas kasihNya. Syukurlah mereka berjumpa dengan Yesus di Pintu Gerbang kota. Sebuah perjumpaan yang tidak direncanakan. Tetapi tetaplah sebuah perjumpaan yang menggerakan hati Yesus. Dan perjumpaan ini menyelamatkan.
Saudaraku, ada saat kita mengalami situasi seperti si janda yang hanya bisa menangis di hadapan penderitaan. Ada saat kita bahkan seperti si pemuda yang diam tak bicara, tak bergerak, pasrah, dan tak berdaya, di hadapan segala perkara yang mematikan. Mari kita ingat. Perjumpaan dengan Yesus akan membangunkan, akan membuat kita duduk dan berbicara. Perjumpaan menggerakan hati Tuhan yang berbelaskasih. Dan perjumpaan dengan sesama kiranya juga menggerakkan hati kita akan belas kasihan kepada sesama.

KONTEN POPULER

Latest articles

Paus Leo XIV: Akademisi Gereja Diajak Menyelami Kedalaman Iman

VATIKAN – Pope Leo XIV mengajak para akademisi dan teolog Gereja untuk semakin menyelami...

Pastor Angki Runtu Ingatkan Hakekat Iman Kristiani

Pastor Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah, Fransiscus Antonio Runtu Pr., mengingatkan umat...

Paus Leo XIV: Perdamaian Tidak Dibangun dengan Ancaman dan Senjata Mematikan

VATIKAN – Pope Leo XIV menyerukan kepada para pemimpin dunia agar mengingat kembali tanggung...

Paus Leo XIV: Tanpa Relasi dengan Tuhan, Hidup Kehilangan Arah

Vatikan, 28 Februari 2026 – Paus Leo XIV menekankan bahwa hubungan hidup dengan Tuhan...

More like this

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...

Renungan 25 Februari 2026; Jangan Menuntut Tanda, Tetapi Bertobatlah

Lukas 11:29-32 Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mengerumuni-Nya. Mereka menghendaki tanda—sesuatu...

Renungan 24 Februari 2026; Doa yang Memurnikan Hati

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat, saat Gereja mengajak kita berhenti sejenak, masuk ke keheningan...