“Seandainya Yesus tidak bangkit”

0
498

16 April 2017,
Hari Raya Paskah:
Kis. 10:34-43; Kol.3:1-4; atau1Kor.5:6-8; Yoh.20:1-9.

 

Injil hari ini berkisah tentang apa yang terjadi pada hari Minggu pagi itu. Maria Magdalena bergegas ke kubur ketika hari masih gelap, ia melihat bahwa batu penutup kubur telah bergeser dari tempatnya. Kiranya bisa dimengerti mengapa Maria Magdalena bergegas ke kubur pada pagi hari Minggu itu, karena menurut hukum Yahudi yang sangat ketat, orang tidak bisa berbuat apa-apa pada hari Sabtu, Sabbath. Maria yang penuh kasih itu juga diliputi oleh kepiluan yang luar biasa. Apa yang dilihatnya pada pintu kubur semakin membuatnya terkejut. Semua kisah dalam injil hendak memberitahukan kepada kita bahwa peristiwa kebangkitan sesungguhnya adalah sebuah peristiwa yang tak disangka-sangka sebelumnya oleh para murid. “Rencana” kematian dan kebangkitan yang dulu pernah disampaikan oleh Yesus kepada para muridNya belum dimengerti sampai sejauh itu. Mereka masih meyakini bahwa segala sesuatu yang telah dimulai oleh Yesus bersama dengan mereka telah berakhir dengan kematian. Titik ! Kematian Yesus adalah akhir dari segala sesuatu yang telah mereka usahakan dan mereka bangun selama tiga tahun terakhir. Tidak ada yang tersisa. Semuanya telah kembali seperti semula, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan, tidak ada lagi cerita yang bisa diteruskan, tidak ada lagi mujizat yang bisa membuat mereka ikut serta merasakan kebesaran Tuhan. Suka stau tidak suka, mereka harus memilih untuk menjalani hidup seperti sedia kala. Biarlah semuanya menjadi kenangan yang menyakitkan jika harus terlintas lagi dalam ingatan.

Ketika pertama kali melihat batu penutup pintu kubur telah bergeser, Maria tidak segera meyakini Yesus telah bangkit. Maria justru berpikir bahwa jenazah Yesus telah diculik. Baginya kebangkitan adalah sebuah hal yang aneh dan tak terpikirkan. Tuhan telah mati, tak mungkin Ia bisa keluar dari kubur sendiri, pasti jenazahNya telah dicuri. Maria pun semakin bergegas berlari memberitahukan peristiwa itu kepada murid-murid yang lain. Mereka segera mengecek kebenaran info itu. Apa yang dilihat oleh Petrus sungguh mencengangkan: kain kafan telah terletak di tanah dan kain peluh pembungkus kepala jenazah Yesus sudah tergulung di tempat lain! Jenazah Yesus tidak ada lagi. Akhirnya murid yang lain juga melihat hal yang sama, dan ia percaya bahwa Yesus sungguh telah bangkit.

Penginjil Yohanes bermaksud mengatakan bahwa pada mulanya mereka atidak mengerti isi Kitab Suci bahwa Yesus harus mati dan akan bangkit dari antara orang mati. Yohanes mau mengatakan bahwa peristiwa kebangkitan Yesus pertama-tama tidak diketahui dari Kitab Suci, melainkan sebaliknya bahwa peristiwa kebangkitan Yesuslah yang menerangi isi Kitab Suci. Hanya sesudah peristiwa itu para murid akhirnya  memahami apa yang dimaksudkan oleh Kitab Suci. Kebangkitan Yesus adalah sebuah peristiwa yang menerangi pikiran dan hati para murid.

Yesus yang bangkit adalah sumber Terang yang sesungguhnya, Terang yang mengungkapkan arti dari Kisah Sengsara yang dialami Yesus sebelumnya. Tanpa kebangkitan, kesengsaraan Yesus hanya akan terlihat seperti drama yang berakhir tragis, negatif, sebuah kekalahan yang menyakitkan, sebuah akhir tanpa harapan. Sebaliknya, kebangkitan Yesus menunjukkan semua daya kekuatan dari sengsara. Kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Kisah Sengsara Yesus bukanlah sebuah kekalahan melainkan adalah sebuah kemenangan, sebuah kemenangan cinta yang luar biasa. Gembala yang baik, yang amat baik itu telah memberikan nyawaNya untuk domba-dombaNya. Yesus telah menghidupi sengsaraNya dengan penuh cinta, itulah sebabnya Ia bangkit lagi. Kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Allah penuh kuasa, namun kuasa itu bukan terletak pada kuasa menghakimi melainkan kuasa untuk mengampuni dosa. Kuasa pertama itu adalah kuasa penyelamatan bukan kuasa untuk membinasakan. Dengan kebangkitanNya Ia telah memperoleh sebuah kehidupan baru, Ia telah mendapatkan sebuah kehidupan abadi agar kita selamat.

Paskah setiap tahun dikenangkan dan dirayakan, waktu persiapannyapun sama, 40 hari masa prapaskah. Apaka tahu ini saya mempunyai niat khusus untuk bangkit? Pada hari raya Paskah tahun ini saya mau bangkit dari apa? Jangan-jangan hari raya Paskah tahun ini berlalu begitu saja seperti tahun-tahun sebelumnya tanpa ada hal positif yang membekas dan memberi arti baru dalam hidup kita.  Jangan-jangan Yesus sudah bangkit, tetapi kita masih tetap tertidur; Yesus sudah keluar dari kubur tetapi kita masih suka tinggal dalam kubur kemalasan kita; Yesus sudah keluar membawa terang sejati tetapi kita masih suka tinggal dalam kegelapan perbuatan kita; Yesus sudah menanggalkan dan melepaskan kain kafan, tetapi kita masih suka membungkus tingkah laku kita dengan perbuatan-perbuatan tercela. Mari bangkit bersama Yesus.

Don STop

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini