St. Barnabas dan “injil Barnabas”

0
49

Merenungkan Sabda
Selasa, 11 Juni 2024
Pw. St. Barnabas, Rasul.
(Kis.11:21b-26; 13:1-3, Mat.10:7-13)

St. Barnabas yang kita peringati hari ini rupanya bersahabat dengan Rasul Paulus dalam pelayanan dan semangat misi, meskipun akhirnya kedua rasul ini berpisah satu sama lain. Kisah Para Rasul menyebutkan bahwa Roh Kudus memilih Paulus dan Barnabas untuk suatu tugas khusus. Kedua rasul itu kemudian pergi melaksanakan suatu tugas perutusan yang berani. Mereka menanggung banyak penderitaan dan bahkan harus mempertaruhkan nyawa mereka. Meskipun demikian, pewartaan mereka berhasil memenangkan banyak jiwa bagi Yesus dan Gereja-Nya. Mereka berdua pula diutus oleh Jemaat untuk menghadiri sidang di Yerusalem.

Khusus Barnabas, St. Lukas menyebutkan bahwa Ia adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Ada dua karya perutusan Barnabas di Antiokia, yang dikemukakan dalam Kisah Rasul-Rasul, untuk jemaan di Antiokhia yang pertama disebut Kristen. Pertama, ia menasihati jemaat beriman supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan. Kedua, ia membawa sejumlah orang kepada Tuhan agar beroleh keselamatan.

Mungkin juga kita tergelitik dengan suatu kontroversi tentang suatu buku yang dikatakan sebaga “Injil Banabas”. Karena lain kali hal ini muncul dalam percakapan-percakapan untuk menguji pengetahuan kita tentang KS. Mengapa Injil Barnabas tidak masuk dalam Kanon KS?

Dei Verbum, Salah satu dokumen Konsili Vatikan II yang berbicara tentang Wahyu Ilahi menuliskan bahawa apa yang tertera dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, ditulis dengan ilham Roh Kudus, dan kerananya diakui Tuhan sendiri sebagai pengarangnya, betapapun ditulis oleh mereka yang dipilih-Nya, sesuai kecakapan mereka.

Kerenanya apa yang ditulis di dalamnya harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, dimaksudkan demi keselamatan kita umat manusia. Intensi pewartaan Kabar Gembira Injil adalah rencana keselamatan Tuhan dalam diri Yesus Kristus. Tidak dapat disangkal bahwa misteri hidup Kristus dalam Kitab Suci, sebagaimana digambarkan oleh Petrus, diawali dengan peristiwa pembaptisan (lih Kis. 10:37-38), suatu peristiwa yang dalam kesaksian Injil sudah disebut sebagai misteri penyingkapan Keilahian Yesus (lih Mrk. 1:11; Mat. 3:17; Luk. 3:22).

Sinode Roma, tahun 382 (yang sebelumnya telah didahului oleh Konsili Laodicea (360?), menetapkan kanon Kitab Suci, teks-teks yang dipandang sah sebagai sebahagian dari Kitab Suci. Yang diterima sebagai Injil adalah empat Injil yang kita terima hingga pada masa ini: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Secara dasar kriteria yang dipakai adalah kesesuaian dengan keseluruhan pesan iman, penerimaan dari kalangan Gereja serta keterpautan dengan tradisi rasuli.

Memang dalam teks-teks awal Gereja pernah ada surat Barnabas, yang kemungkinan ditulis antara di abad II, akan tetapi isi kandungannya sangat berbeda dengan Injil Barnabas. Apa yang disebut sebagai injil Barnabas tidak berasal dari masa itu, masa pembentukan Gereja. Isinya pun sangat berbeda dengan apa yang dikenal sebagai surat Barnabas. Malahan disebut bahwa naskah asli injil Barnabas berbahasa Sepanyol dan Italia, dan baru muncul di abad pertengahan, setelah abad XIV.

Injil ditulis dalam intensi iman, dan iman itu adalah iman akan Yesus Kristus, Putera Tuhan. Maka kalau ditanya mengapa injil Barnabas tidak dimasukkan ke dalam Kitab Suci, jawabannya adalah kitab itu tidak memenuhi kriteria dasar tersebut. Kriteria penetapan teks Kitab Suci dalam injil Barnabas juga tidak tepat serta tidak selaras dengan ajaran rasuli; bukan inspirasi dari Roh Kudus serta tidak selaras dalam keseluruhan ajaran iman.

Semoga kita tidak bertanya-tanya dan kebingungan jika ada pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan dan kesahihan yang dinamakan ‘injil Barnabas’. Amin.

AMDG. Pst.Y.A.
St. Ignatius, Manado

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini