Syarat Menerima Perutusan

0
35

Merenungkan Sabda
Kamis, 11 Juli 2024
PW. St. Benediktus, Abas
(Hos.1.3-4.8c-9, Mat.10:7-15)

Ada beberapa hal penting bagi kita yang bersedia melakukan tugas perutusan dan pelayanan dari pesan Yesus kepada ke 12 muridNya dalam bacaan Injil hari ini.

Hal Pertama: Saat melakukan tugas perutusan dan pelayanan, tidak memikirkan hal materi sebab Tuhan mencukupkan keperluanmu. “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Kita tidak perlu memusingkan persoalan pada saat kita melakukan tugas perutusan dan pelayanan. Seringkali orang ragu-ragu ketika Tuhan memanggil dirinya melakukan tugas perutusan/pelayanan sebab khawatir tentang bagaimana memenuhi keperluan hidupnya. Padahal Tuhan menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna. Kalau Tuhan sudah mengatakan hal itu, mengapa kita ragu, takut dan cemas terhadap kebutuhan hidup. Tuhan yang akan memenuhi kebutuhan dengan caraNya. Yang perlu kita lakukan pergi dan mewartakan Kerajaan Allah.

Hal Kedua: Pewartaan Injil disampaikan kepada siapa saja dan tidak memandang status sosial atau jabatan seseorang. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Biasanya yang menunda perjalanan kita mewartakan Injil adalah kenyamanan memperoleh jaminan kenyamanan: Kenyamanan itu berupa sarana transport (ada atau tidak), diterima atau disambut, jaminan makan-minum, serta kenyamanan lainnya. Seorang utusan atau perwarta biasanya akan bergumul dengan kenyamanan itu. Kalau Tuhan sudah mengutus maka hal-hal seperti itu tidak perlu dipikirkan oleh utusan. Focus pada satu tempat bisa jadi tergoda akan kenyamanan dan hal itu bisa menghambat perwartaan Kerajaan Allah, karena perwartaan Sabda harus sampai pada semua orang. Maka hindari perasaan nyaman itu, karena itu godaan untuk kenikmatan diri.

Hal Ketiga: Pewartaan Injil tidak boleh memaksa orang untuk menerima-nya. “Apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.” Tuhan memberikan kehendak bebas untuk memilih kehidupan atau kematian kepada setiap umat manusia. Yang penting kita sudah melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan semestinya, selebihnya tinggalah urusan masing-masing orang memilih untuk percaya atau tidak. Dan tanggun jawab orang percaya dan tidak tidaklah dibebankan kepada kita.

Hal keempat: Tuhan memberikan karunia dan kuasaNya secara cuma-cuma kepada orang yang dipanggilNya bekerja di ladang Tuhan maka hendaknya tidak mencari keuntungan pribadi ketika menggunakan karunia dan kuasa yang Tuhan berikan. “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Karunia Tuhan menyertai para pelayan. Karunia itu diberikan Tuhan untuk dibagikan, maka sepantasnya karunia itu dibagikan pula secara Cuma-Cuma. Kehidupan kelompok umat jadi rusak, tidak nyaman jika pelayan sudah menuntut sesuatu dari pelayanan yang diberikan. Biarkanlah Tuhan yang menyelenggarakan apa yang dibutuhkan seorang pelayan. Rasul Paulus bilang: “upakah adalah bahwa aku tidak memperoleh upah”.

Inilah pedoman perutusan bagi mereka yang diutus untuk melayani. Jika pedoman ini diabaikan maka perlu dipertanyakan komitmen seorang utusan untuk melayani. Amin.

AMDG. Pst.Y.A.
St. Ignatius, Manado

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini