BerandaRenunganRenungan Harian: Jumat 15 September: Berdiri di Kaki Salib

Renungan Harian: Jumat 15 September: Berdiri di Kaki Salib

Published on

spot_img

PW S.P. Maria Berdukacita
Jumat Pekan Biasa XXIII

Bacaan 1 : Ibr 5:7-9
Mazmur : Mzm 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20
Injil : Yoh 19:25-27:

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes: Waktu Yesus bergantung di salib,
didekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya,
“Ibu, inilah, anakmu!”Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”
Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.

Demikianlah Injil Tuhan.

Hari ini Gereja memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada Bunda Maria yang berduka cita. Sedari awal ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah, Simeon Sudah mengingatkan, hatimu akan tertembus pedang. Dan Maria mengalaminya. Ketika bersama Josef harus melarikan diri bersama sang bayi menuju Mesir. Hati mana yang tak akan berduka ketika harus terpaksa melarikan diri? Tapi Maria menghadapinya dengan tabah.
Ketika Yesus berumur 12 tahun. Ibu mana yang tak akan gelisah, cemas dan berduka. Anak satu satunya yang sangat dicintainya hilang entah ke mana. Bahkan sudah 3 hari mencarinya. Dan ketika ditemukan bait Allah sang anak malah menjawab mengapa kalian mencari aku? Luar biasa pengalaman kesedihan, duka dan derita sang bunda. Tetapi Maria menghadapi semua pengalaman ini dengan sabar, tabah dan setia sebagai orang beriman.
Pengalaman pengalaman kesedihan Bunda Maria tentu masih boleh kita daftarkan lebih panjang, tapi baiklah kita melihat apa yang digambarkan Injil hari ini. Yesus disalibkan. Putera yang dilahirkannya, dibesarkannya dengan penuh cinta. Anak yang diketahui kebaikan, kasih dan ketulusannya mesti mengalami ketidakadilan keji. Sebagai ibu hatinya protes dan memberontak. Ini sebuah kejahatan. Tetapi luar biasa! Kitab suci menulis, Maria BERDIRI di bawah kaki Salib. Ia tegar berdiri. Ia kuat berdiri. Ia tabah berdiri. Ia sabar berdiri. Tidak pingsan dan terhempas jatuh karena kesedihan. Ia tidak pingsan dan putus asa. Ia tetap teguh dan berserah pada kehendak Allah. Ia selalu menyimpan segala perkara dalam hatiNya dan merenungkannya. Sedari awal ketika menerima kabar malaekat Maria sudah pasrah, Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum. Terjadilah padaku menurut perkataanmu.
Saudaraku, Maria adalah sumber inspirasi hidup dan iman kita. Kita semua mengalami peristiwa duka, cemas, gelisah, sedih, marah apalagi mengalami ketidakadilan. Mari belajar dari Bunda Maria dan Maria mohon doa doanya. Amin.

KONTEN POPULER

Latest articles

Umat WR Sta. Lidwina GPI Bantu Masyarakat di Stasi Kima Atas dan Stasi Mapanget Barat

Umat Wilayah Rohani Santa Lidwina, Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah (GPI) mengadakan...

Minggu Panggilan: Saat Umat Diteguhkan untuk Menjawab Suara Sang Gembala

Tahuna – Suasana penuh hikmat mewarnai Perayaan Ekaristi Minggu Paskah IV, yang juga dikenal...

Anggota LC Paroki Tahuna Terima Atribut. Pastor Jacob: LC Jadi Panutan di Tengah Umat

Tahuna – Perayaan Ekaristi memperingati Santo Georgius sekaligus penyerahan atribut bagi anggota Legio Christi...

WKRI Bunda Teresa Calcutta GPI Gelar Penyuluhan Hukum Tentang Bullying dan KDRT

Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah (GPI) melaksanakan...

More like this

Bacaan Injil dan Refleksi, 28 Maret 2026

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa...

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...

Renungan 25 Februari 2026; Jangan Menuntut Tanda, Tetapi Bertobatlah

Lukas 11:29-32 Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mengerumuni-Nya. Mereka menghendaki tanda—sesuatu...