Kerendahan Hati dan Usaha Keras

0
84

Merenungkan Sabda
Jumat, 28 Juni 2024
PW. St. Irenius, Uskup dan Martir.
(2Raj.25:1-12, Mat.8:1-4)

Dimana ada kebimbangan dan keragu-raguan, disitu pasti tidak ada iman. Kitab Suci menyatakan bahwa, “…tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 11:6) dan orang yang bimbang tidak akan menerima sesuatu dari Tuhan (baca Yakobus 1:6-7), artinya mustahil kita akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan atas kita.

Di Nazaret, Yesus tidak banyak melakukan mujizat. Karena orang tidak percaya, ragu dan melihat Yesus sama seperti mereka: “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Karena mujizat dibuat agar orang-orang yang melihat perbuatan ajaib Tuhan, percaya dan mengakui Yesus sebagai Mesias.

Seorang sakit kusta memperoleh kesembuhan karena demikian percaya pada Tuhan. Bagaimana kita ukur iman dari seorang Kusta sehingga disembuhkan?

Pertama, Berani mendekat pada Yesus. Seorang kusta adalah soorang najis, dan tidak diperkenankan mendekati orang yang sehat. Dia harus menjauh. Tetapi orang kusta ini menerobos orang banyak untuk boleh berjumpa dengan Yesus. Keberanian adalah awal dari iman. Betapa banyak orang takut mengungkapkan imannya. Kalau takut mengungkapkan imannya maka ia ragu terhadap kuasa Tuhan.

Kedua. Memiliki kerendahan hati. Pertama-tama yang dilakukan si kusta tadi adalah menghampiri Yesus langsung sujud menyembah. Orang yang sujud adalah orang yang mau merendahkan diri. Ia membutuhkan pertolongan orang lain. Ketika orang yang rendah hati maka dia dapat menerima apa saja atau siapa saja dalam hidupnya. Si kusta datang kepada Yesus dengan penuh kerendahan hati dengan tersungkur di depan Yesus. Tuhan suka terhadap mereka yang datang kepadanya dengan penuh kerendahan hati. Dengan kerendahan hati, ia mepercayakan hidupnya pada pertolongan Tuhan. Dia memperoleh apa yang diaharapkannya.

Ketiga. Percaya pada kuasa Tuhan. Si sakit kusta datang kepada Yesus, “…lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (Matius 8:2). Dan pernyataan, ‘jika Tuhan mau, Tuhan dapat mentahirkan aku’ adalah kata-kata yang positif sebagai ekspresi iman yang hidup. Semua dalam hidup kita hanya terjadi karena izin Tuhan. Ungkapan jika Tuhan mau, adalah ungkapan iman yang dalam dan penuh kepasrahan. Sejatinya dalam setiap doa permohonan kuasa Tuhan perlu dijunjung tinggi dan kita percaya pula bahwa Tuhan akan selalu melakukan yang terbaik dalam hidup kita; bukan sesui keinginan kita tetapi sesuai yang baik bagi kehidupan kita. Yesus mau dan mengatakan: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” (Matius 8:3).

Ketuguhan iman seorang kusta telah menyembuhkannya. Semoga kita juga memiliki iman yang teguh; memliki keberania, keyakinan dan kepasrahan di hadapan Tuhan, maka banyak keajaiban hidup yang kita alami. Amin.

AMDG. Pst. Y.A.
St. Ignatius, Manado

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini