Menyangkal dan Bertobat atau Merasa diri Benar?

0
839

Merenungkan Sabda
Jumat, 17 Mei 2024
Jumat Pekan Paskah
(Kis.25:13-21, Yoh. 21:15-19)

Tiga kali Yesus bertanya mengenai kesanggupan Petrus untuk mencintai Dia sebagai Syarat menjadi pengikut dan menjadi Gembala umat. Pertanyaan ini sering dikaitkan dengan penyangkalan Petrus kepada Yesus, tiga kali sebelum ayam berkokok. Suatu Tindakan pertobatan dari seorang Petrus ketika mengungkapkan kesanggupan mengasihi Yesus ketika ditanya tiga kali. Dalam Pengalaman kejatuhan memang dibutuhkan pertobatan. Dan jika orang bertobat dengan sungguh-sungguh pasti mendatangkan Rahmat, bahkan kepercayaan yang besar dari Tuhan. Sebagai orang percaya memang yang diharapkan adalah proses pertobatan atau pembaharuan diri terus menerus, jauh lebih disukai oleh Tuhan dari pada pengkhianatan. Artinya banyak orang yang mengatakan percaya atau beriman tetapi dalam hidup tidak menujukan jati diri sebagai orang yang percaya. Beriman tetapi berdasarkan yang ia kehendaki; sesuai dengan hati dan pikirannya dari pada apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Keadaan ini sebenarnya mau mengungkapkan penyangkalan atau pengkhianatan terhadap Tuhan. Untuk itulah Jauh lebih bernilai di mata Tuhan orang yang menyangkal tetapi kemudian bertobat, dari pada orang yang merasa diri benar selalu.

Petrus mengalami kesulitan untuk mengasihi Tuhan sehingga Yesus harus bertanya tentang kasih Petrus kepada Yesus. Hal ini berarti mengasihi Yesus tidak pernah ada dalam kesanggupan, pengalaman, dan pengetahuan manusia sendiri. Manusia harus menyadari dan bersandar penuh pada pengetahuan Allah. Karena Allah mengetahui segala sesuatu. Dua kali Yesus bertanya dengan menggunakan kata kasih yang dalam bahasa Yunani “agapao”. Namun, Petrus hanya sanggup merespons dengan kasih yang dalam bahasa Yunani berasal dari kata “phileo”, yaitu kasih antara seorang murid kepada gurunya. Itu sebabnya, pertanyaan Yesus yang ketiga kalinya tidak lagi menggunakan kata kasih yang sama, melainkan menggunakan kata “phileo” sebagaimana kesanggupan Petrus.

Petrus sadar bahwa Yesus tahu sampai dimana kesanggupan Petrus mengasihi Dia. Petrus sadar pula, dia memiliki keterbatasan pengetahuan akan kasih Tuhan. Kesadaran ini bersumber dari pengalaman Petrus yang berani mengakui bahwa dia sanggup mengasihi Yesus, tetapi pada akhirnya gagal dan malah menyangkal Yesus.

Pamer kekuatan dan kesanggupan mengasihi Allah dapat membuat kita gagal karena kita tidak pernah sanggup berada pada level kasih “agapao”. Memupuk kerendahan hati, menyadari keterbatasan dan tidak sombong terhadap kemampuan pribadi merupakan sikap yang baik untuk sampai pada level kasih yang total, kasih yang tanpa batas. Karena Sumber kasih “agapao” itu ada pada Tuhan dan kita sangguh melaksanakannya jika kita membuka diri kita dituntun oleh Tuhan. Petrus akhirnya bisa sampai pada level kasih “agapao”; rela mati karena Kristus. Rasul Paulus rela menderita dipenjara, bahkan Roh kudus menuntun Dia untuk naik banding dan bisa bersaksi di Roma. Bukan hanya bersaksi di Yerusalem, tetapi dia perlu bersaksi di Roma.

Mungkin kita perlu bertanya bagaimana ungkapan wujud kasih kita kepada Tuhan? Mungkin ada yang mengungkapkannya dengan sikap kerendahan hati dan ketaatan pada aturan gereja, ada juga yang mengungkapkannya dengan kerelaan berkorban, meskipun dirinya harus mengalami penderitaan. Ada juga yang mengungkapkan kasihnya melalui pelayanan yang tulus, tanpa pamrih, tanpa hitunga-hitungan untung rugi, dan lain-lain. Semoga kita mampu mengungkapkan kasih kita kepada Tuhan dengan ungkapan-ungkapan yang tulus. Amin

AMDG. Pst.Y.A.
St. Ignatius, Manado

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini