Nilai Satu Tetes Darah

0
215

Merenungkan Sabda
Rabu, 29 Mei 2024
Pekan Biasa VIII
(1 Ptr.1:18-25, Mrk.10:32-45)

Saya pernah menyaksikan seorang bapa yang protes kepada keluarga yang minta pertolongan kepadanya. Salah satu anggota keluarga ini sakit dan membutuhkan donor darah. Maka dipanggilah seseorang untuk berdonor darah. Ketika hendak pulang, keluarga memberikan amplop sebagai ucapan terima kasih kepada si Pendonor. Pendonor ini menolak dengan halus dan mengucapkan terima kasih. Lalu dia mengatakan alasanya menolok pemberian keluarga. Dia rela datang dan membantu satu nyawa dan darahnya dia rela berikan. Darahnya tidak bisa diukur dengan nilai uang; sama dengan nyawa manusia tidak bisa diukur dengan nilai uang. Jika keluarga memberi vitamin, maka dia bisa terima; tetapi tidak jika diberi uang. Setelah dipikir-pikir, benar prinsip yang dihayati si bapa tadi. Meskipun orangnya sederhana dan mungkin dia butuh uang, tetapi bagi dia, darah tidak bisa diukur atau dinilai dengan uang. Makanya miris jika darah yang disumbangkan dengan suka rela, tetapi sampai di PMI atau di RS, darah darah itu diperjual belikan.

Rasul Petrus mengatakan: “Kalian telah ditebus bukan dengan barang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yakni darah Kristus.” Darah seorang manusia pun, meskipun berdosa, mungkin seorang penjahat, tetapi berharga karena menyangkut nyawa manusia. St. Petrus menegaskan darah yang menebus kita bukan darah sembarangan, tetapi “darah yang tak bernoda dan tak bercacat.” Betapa bernilainnya keselamatan manusia, sehingga darah yang tak bernoda dan tak bercacat dicurahkan untuk kita. Maka kalau manusia ditebus dengan darah Kristus, itu berarti bahwa manusia seharga Putera Allah yang telah menjadi manusia dan mencurahkan hidup dan darah-Nya untuk mendapatkan manusia itu Kembali. Ya karena memang kita akhirnya dipanggil untuk mendapatkan hidup Ilahi. Hidup Ilahi itu hanya dapat kita peroleh jika kita mengusahakan hidup yang kudus. Hidup yang kudus ini pun hanya dapat kita peroleh jika kita selalu diresapi oleh sabda Allah dan melaksanakan Sabda Allah itu.

Jika kita menyadari betapa berharganya diri kita, maka pasti hidup kita pun tidak kita sia-siakan. Artinya Tuhan telah berkorban dengan darahNya maka kita pun akhirnya harus rela untuk memberi diri dan berkorban juga untuk orang lain. Banyak kali kita suka menghitung-hitung pengorbanan kita atau jasa kita. Padahal kita sudah ditebus dengan korban Kristus yang tidak ternilai harganya, emas dan perak pun tidak akan sebanding. Kalau Tuhan sudah berkorban maka sepantasnyalah kita membalas pengorbanan Tuhan itu dengan berkorban lewat sesama yang membutuhkan bantuan atau lewat pengorbanan waktu dan tenaga, harta untuk karya pelayanan. Kita berdoa semoga kita menghargai Darah Kristus yang tercurah untuk keselamatan kita lewat pelayana-pelayanan yang tulus kepada sesama dan kepada gereja-Nya. Amin.

AMDG. Pst.Y.A.
St. Ignatius, Manado

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini